Pintu apartemen terbuka bahkan sebelum Flora memasukkan beberapa kode. Pemandangan yang Flora lihat pertama kalinya adalah raut wajah khawatir Stephen. Raut wajah yang selalu tidak Flora ingin lihat di wajah Stephen ketika sedang bersama dengannya. Flora tidak ingin pria itu menghawatirkannya. Sangat tidak ingin.
"Flo, kamu oke?" tanya Stephen. Sejak tadi Stephen sungguh sangat menghawatirkan gadis yang berdiri di hadapannya dengan rambut dan pakaian agak basah. Diluar memang sedang hujan, Flora meninggalkan apartemen sejak pagi tanpa sepatah katapun. Kebiasaan Flora yang masih membuat Stephen terbesar karena Flora selalu melakukan itu dengan wajah yang terlihat lelah bahkan tidak nyaman.
"Stephen, jangan pernah menatap gue dengan ekspresi wajah seperti itu, gue nggak mau dikhawatirkan sama lo," ucap Flora dengan raut wajah sangat datar. Stephen menarik napasnya sejenak. Dia tahu ini akan menjadi hal yang sangat melelahkan untuknya seperti apa yang pernah di katakan oleh Flora tapi entah kenapa Stephen tidak ingin menyerah pada keadaan sejauh ini. Dia masih ingin berusaha untuk Flora. Dia masih ingin memperjuangkan gadis yang terus-menerus menolak keberadaanya.
"Flo, aku tahu kamu nggak pernah menyukai situasi kita sekarang tapi aku benar-benar nggak bisa melihat kamu sendirian, aku mau sama kamu, aku mau berjuang bareng kamu. Bagi masalahnya sama aku. Ayo kita coba selesaikan bersama," ucap Stephen, kedua tangannya memegang bahu Flora. Gadis itu terlihat cukup tersentak namun sama sekali tidak membalas tatapan Stephen. Alih-alih melakukan itu, Flora justru melepaskan genggaman tangan Stephen di pundaknya.
"Nggak Ada hal yang harus diselesaikan bersama, gue nggak suka orang lain masuk kedalam kehidupan gue." Flora mengangkat kepalanya, kali ini dia menatap Stephen dengan sangat lekat, "Stephen, bersama dengan gue akan menjadi hal yang lo sesali pada akhirnya, jadi ayok berhenti!" seru Flora, gadis itu tercekat di ujung suaranya. Perkataan Papa-nya terngiang-ngiang di telinganya. Orang baik tidak akan datang dua kali. Orang baik tidak akan datang dua kali. Tapi orang baik seharusnya bertemu dengan orang baik juga bukan? Dan Flora merasa bahwa dia bukanlah orang baik.
Stephen menarik napasnya pelan kemudian memberikan Flora jalan masuk. Ini tidak akan mudah. Tidak akan ada yang berubah diantaranya dan Flora dalam waktu dekat ini bahkan untuk jangka waktu yang lama jika Stephen tidak mencoba jauh lebih keras untuk meraih Flora.
"Flora," ucap Stephen setelah dia menutup pintu apartemen. Flora terlihat menghentikan langkahnya sebelum berbalik kearah Stephen, kali ini raut wajah gadis itu semakin terlihat jauh lebih lelah. Entah apa yang dilakukan Flora seharian ini tapi yang pasti itu adalah hal yang sangat melelahkan untuk Flora.
"Apa yang menganggu kamu?" tanya Stephen, dia melangkah lebih dekat kearah Flora. "Jika kamu tidak bisa memandang aku sebagai suami kamu maka kamu bisa memandang aku sebagai sahabat kamu. Mari kita hidup berdampingan seperti seharusnya. Kita bisa berbagi masalah bersama dan berusaha untuk mencari jalan keluarnya bersama. Kamu juga bisa mengatakan apa saja batasan yang sama sekali tidak boleh aku lewati. Flo, ayo buat hidup jauh lebih mudah," lanjut Stephen. Mata Flora terlihat berkaca-kaca. Stephen yang menyadari itu langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Sangat sulit untuk menebak apa yan sebenarnya terjadi pada Flora selama ini. Gadis itu sangat tertutup dan bersikap sangat tenang.
Beberapa waktu tinggal bersama dan melihat Flora memasang wajah ketakutan kemudian gelisah hanya karena melihat sesuatu di ponsel, Stephen yakin ada hal yang mengganggu Flora dan membuat gadis itu merasa tidak aman sedikitpun.
"Flora, jika semuanya berat untuk dihadapi sendirian, maka bawa orang lain untuk menyelesaikannya. Lakukan seperti kamu sedang menyelesaikan pekerjaan bersama dengan tim kamu. Kamu dan tim kamu bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat atau memecahkan masalah dengan mudah karena kalian saling bekerja sama satu sama lain. Ini juga bisa kamu praktekkan dalam kehidupan kamu. Masalah yang kamu hadapi akan terasa jauh lebih ringan dan bisa menemukan jalan keluarnya jauh lebih cepat ketika kamu bersama seseorang. Aku ada disini, aku akan melakukan apapun yang bisa aku lakukan untuk bantu kamu," ucap Stephen, dia memeluk Flora dengan sangat erat, gadis itu hanya diam sejak tadi tanpa mengatakan apapun dan Flora juga tidak melakukan pemberontakan.
"Aku tahu kamu kuat, kamu bisa mengatasi masalah kamu sendiri tapi sampai kapan kamu bisa melakukannya? Sampai kapan kamu mau melakukan apa yang berat untuk kamu?" Stephen mengusap rambut gadis itu dengan sangat lembut.
"Stephen, kenapa lo selalu melakukan ini?" tanya Flora, dia menghapus air matanya cepat-cepat berharap Stephen tidak menyadari kalau dia menangis walau itu sangat tidak mungkin karena sekarang dia ada di dalam pelukan Stephen. "Kenapa lo selalu bersikap baik pada semua orang yang ada di hidup lo? Kenapa lo masih bersikap sama walau gue sudah berulang kali mengucapkan kata-kata yang bahkan nggak enak di dengar, gue menolak lo berkali-kali, kenapa lo masih memperlakukan gue sebaik ini?" tanya Flora.
Stephen tersenyum singkat mendengar ucapan Flora kemudian dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Flora, nggak ada alasan aku supaya berhenti bersikap baik sama kamu. Sejauh ini kamu adalah orang yang paling tenang diantara yang lain. Kamu adalah orang yang paling nurut diantara kita. Nggak banyak protes dan nggak banyak mau juga. Menurut kamu apa yang aku pikirkan tentang kamu selama ini?" tanya Stephen. Flora hanya diam. Dia juga sama sekali tidak berontak dari pelukan Stephen. Flora seolah sedang menikmati hangatnya pelukan itu. Dia hanya butuh tempat istirahat sebentar bukan sebelum pada akhirnya dia harus berjuang dengan keras lagi.
"Gue nggak tahu," jawab Flora seadanya. Dia tidak pernah memikirkan penilaian orang tentang dirinya selama ini. Yang ada di otak Flora hanyalah, dia harus melindungi keluarganya dengan cara apapun bahkan dengan dia terlihat jelek dihadapan orang lain. Flora benar-benar tidak pernah peduli dengan dirinya sendiri. Flora dengan segala image buruknya, Flora akan selalu menerima itu. Toh emang benar seperti itu kenyataanya.
"Semakin tenang semakin dalam dan sulit untuk menemukan dasarnya. Itu adalah kamu. Aku nggak pernah bisa menebak seberapa banyak hal yang tersembunyi dibalik ketenangan kamu itu. Aku juga nggak pernah tahu seberapa banyak rasa sakit yang kamu sembunyikan di sana. Bukannya melelahkan Flo menumpuk rasa sakit tanpa mengeluarkannya sedikitpun?" tanya Stephen. Mereka masih saling berpelukan satu sama lain. Flora bungkam. Milka juga pernah mengatakan hal yang sama padanya, semakin tenang, semakin dalam, semakin sulit menemukan dasar.
"Tidak ada hal melelahkan dalam hidup gue," ucap Flora. Jelas itu adalah sebuah kebohongan, mana mungkin Flora tidak merasa lelah sedangkan hampir semua hal tentang hidupnya adalah hal yang sangat melelahkan.
Stephen hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Flora, tentu saja Stephen tahu itu adalah sebuah kebohongan tapi Stephen sekarang juga tidak bisa menuntut Flora untuk berkata jujur padanya. Semakin Stephen menuntut semakin gadis ini akan menjauh darinya.
"Flo, kalau kamu mengatakan itu sebelum kita tinggal bersama mungkin aku akan langsung percaya sama kamu tapi sekarang kita tinggal bersama, terjebak dalam ruang yang sama. Aku bisa melihat perubahan ekspresi dan mood kamu dengan jelas. Sulit di percaya kalau nggak ada hal yang melelahkan dalam hidup kamu sedangkan kamu sendiri terlihat sering kelelahan bahkan terkesan ketakutan. Kamu nggak perlu mengiyakan ucapan aku kalau kamu nggak mau, " ucap Stephen pada akhirnya. Dia mengurai pelukannya dengan Flora, mengusap puncak kepala gadis itu dengan sangat lembut dan tersenyum.
"Silahkan bersih-bersih, abis itu kita makan. Aku udah beli makan malam buat kita," ucap Stephen. Flora menatap Stephen sejenak walau itu bukan tatapan tepat di mata kemudian gadis itu berlaku masuk ke dalam kamar yang dia tempati bersama Stephen.
Flora masih tidak habis pikir kenapa ada orang seperti Stephen. Pria itu bertemu dengan perempuan cantik setiap harinya bahkan dari berbagai negara. Stephen bisa memilih mana yang pria itu inginkan bahkan Stephen bisa berganti pasangan dengan mudah seperti apa yang dilakukan oleh Reynard namun pria itu tidak juga terlihat tertarik selama ini. Lalu kenapa Stephen justru merelakan hidupnya bersama dengan seorang gadis yang tidak bisa memberikan kepastian seperti dirinya.
Flora menyelesaikan mandinya dengan cepat kemudian keluar dari kamar menggunakan piyama santai. Tidak terlalu tertutup atau juga terbuka.
Dimeja makan Flora langsung bertemu dengan Stephen yang sudah menunggu dengan beberapa menu hidangan makan malam yang sepertinya juga sudah di panaskan.
"Stephen bukannya masuk dalam hubungan orang lain bukanlah prinsip hidup lo selama ini?" tanya Flora ketika mereka mulai menikmati makan malam. Tatapannya lurus pada Stephen walau Flora lagi-lagi menghindari tatapan mata secara langsung.
Stephen terlihat mengangguk dan tersenyum, "masuk kedalam hubungan orangan lain memang bukan prinsip ku, saat kamu di tinggalkan di hari pernikahan, kamu pikir aku masih bisa mempertahankan prinsip ku?" tanya Stephen. Gerakan Flora menggigit udang keju-nya memelan, "aku akan menjadi orang paling menyesal seumur hidupku ketika harus melihat kamu menangis dan dipermalukan begitu saja Flo, jadi apalah arti sebuah prinsip saat itu. Kamu lebih berhak untuk mendapatkan perlakuan baik, kamu berhak untuk diperjuangkan. Aku nggak akan pernah bisa diam ketika melihat kamu dijatuhkan Flora," lanjut Stephen. Flora kali ini benar-benar merasa bahwa dia hampir kehilangan seluruh kata-katanya. Flora tidak menyangka bahwa Stephen akan berpikir seperti itu.
"Walau lo sadar bahwa ending dari kenekatan lo itu adalah berpisah? Gue nggak akan bisa menerima lo dalam hidup gue seperti apa yang udah gue katakan sebelumnya sama lo," ucap Flora. Suasana meja makan itu mendadak jadi muram tapi membicarakan ini termasuk hal yang penting untuk mereka.
"Jika suatu hari nanti ujungnya tetap berpisah, aku tidak akan menyesal karena aku pernah berusaha untuk bertahan."