Berurusan dengan media menjadi hal yang selalu melelahkan bagi Flora, dia tidak pernah suka di wawancara untuk hal-hal yang baginya sama sekali tidak penting bahkan tidak menguntungkan sedikitpun. Berulang kali Flora berusaha menghindar dari mereka namun pada akhirnya Flora selalu terjebak. Entah dari mana mereka tahu keberadaan Flora tapi sungguh ini sangat menganggu dan menjengkelkan sekali. Untuk orang-orang yang tidak terlalu menikmati berita yang menyangkut dengan kepentingan bisnis seperti ini jelas itu hal yang tidak menarik bahkan mereka akan melewatkan begitu saja berita yang seperti itu karena tidak ada juga orang yang mengenali Flora. Keluarga Hadar bukan juga keluarga yang wira-wiri di stasiun televisi. Tidak terlalu tersorot kecuali kekayaan mereka yang berlimpah itupun hanya orang-orang tertentu saja yang peduli dengan hal itu namun meskipun begitu tetap saja ini sangat menganggu Flora yang jelas hidup di kalangan keluarga Hadar sejak dulu.
Raut wajah Flora semakin muram ketika dia melihat Anzel tersenyum dengan penuh kemenangan di ujung jalan. Pria itu kemudian dengan raut sok pahlawannya melangkah mendekat membelah kerumunan dan mengucapkan beberapa kata ke media sebelum membawa Flora menjauh dari sana dan Flora yakin ini akan menjadi berita berikutnya.
"Anzel, lepasin tangan gue!" seru Flora ketika mereka benar-benar sudah jauh dari jangkauan orang media. Flora berulang kali berontak meminta tangannya untuk di lepaskan namun Anzel sama sekali tidak melakukan itu untuknya, pria itu terus menarik tangan Flora sampai mereka berdua berakhir ditempat parkir. Tatapan Flora berubah menjadi sangat tajam namun semua itu tetap di abaikan oleh Anzel yang kini tersenyum dengan sangat puas.
"Apa lagi yang lo inginkan dari gue? Semua terjadi seperti yang lo harapkan, kan?" tanya Flora, dia masih berusaha dengan keras untuk melepaskan genggaman tangan Anzel pada tangan nya, genggaman tangan pria itu terlampau kuat membuat Flora semakin merasa kesakitan.
"Flo, bersikap lebih santai, kita melakukan pekerjaan yang sangat baik, Sayang. Bukannya ini perlu dirayakan?" tanya Anzel, dia mengikis jaraknya dengan Flora, senyum pria itu semakin mengembang sempurna. Flora memilih untuk mundur dan dia juga berhasil melepaskan genggaman tangan Anzel.
"Anzel, bagian gue udah selesai kan? Biarin gue pergi," ucap Flora dengan sangat tenang. Anzel juga ikut mundur beberapa langkah, kedua tangan pria itu masuk ke dalam saku celananya, tatapannya berubah menjadi penuh penilaian pada Flora bahkan sekarang terkesan sangat merendahkan.
"Flora, lo bisa kembali kalau lo mau. Tinggalin suami lo," ucap Anzel. Flora tercengung namun pada akhirnya dia kembali mendapatkan kesadarannya ketika mendengar Anzel terkekeh pelan, "tapi gue nggak ingin gadis merepotkan seperti itu, lo hanya akan selalu jadi beban untuk keluarga gue." Flora lagi-lagi diam, ini bukan pertama kalinya Anzel mengatakan hal seperti ini padanya namun pada akhirnya pria itu juga tidak pernah benar-benar membiarkan Flora hidup tenang, Anzel akan selalu menjadi bayangannya.
"Ini tahun ketiga semenjak keputusan pengadilan, lo nggak berniat untuk menjenguk seorang koruptor, seorang yang rela menghabisi nyawa pasiennya untuk kepentingan priadi dan tukang selingkuh ke rumah abadinya?" tanya Anzel dengan memperlihatkan layar ponselnya pada Flora. Gadis itu lagi-lagi hanya terdiam, matanya mendadak memanas bahkan ketika Anzel pergi meninggalkannya begitu saja Flora masih tetap terdiam di pijakannya.
Seorang koruptor? Seorang yang rela menghabisi nyawa pasiennya untuk kepentingan pribadi? Tukang selingkuh? Mengingat tiga hal itu benar-benar membuat Flora selalu merasa kesulitan hanya sekedar untuk bernapas. Dia tidak pernah percaya tentang hal itu namun segala bukti yang ada selalu menunjukkan bahwa itu adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang tidak memiliki cela untuk di tolak.
Flora mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat seolah sedang mengumpulkan sisa kekuatan yang dia miliki sebelum pada akhirnya dia juga masuk ke dalam mobilnya. Tujuan Flora kali ini adalah rumah abadi yang dimaksud oleh Anzel. Sesakit apapun, sekesal apapun dia, Flora selalu berusaha untuk datang ke sana setiap tanggal ini bahkan di hari-hari lain ketika dia ingin berkunjung. Flora tidak pernah absen walau dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, dia tidak mendengar apa yang dia dengar.
***
Kedua tangan Flora mengepal di atas pahanya, tatapannya yang tadi tertuju kearah lantai yang terasa jauh lebih dingin di tempat ini terangkat ketika mendengar suara langkah seseorang yang mendekat kearahnya. Napas Flora mendadak terkecat melihat sosok paruh baya yang kini duduk dihadapannya.
Flora menarik napasnya pelan-pelan, berusaha untuk bersikap biasa bahkan berusaha untuk mengembangkan senyumnya namun sepertinya dia gagal lagi kali ini. Alih-alih bisa melakukan itu semua, mata Flora justru terasa sangat panas, dia menangis lagi.
"Papa..." Suara Flora benar-benar tercekat seiring dengan air matanya yang jatuh begitu saja. Flora berusaha dengan keras untuk menghapus setiap air mata yang mengalir di pipinya namun pada akhirnya dia gagal karena air mata itu justru mengalir semakin deras. Pria yang duduk tepat di hadapannya, di batasi oleh kaca hanya menatapnya dengan lembut. Tatapan itu sama sekali tidak pernah berubah semenjak Flora kecil walau suasana diantara mereka sudah berubah beberapa tahun yang lalu.
"Hari ini tahun ketiga, Papa benar-benar nggak mau bilang apapun?" tanya Flora masih dengan suara yang tercekat dan air mata yang terus mengalir tanpa diminta. "Flora melindungi mama dan Orlando seperti yang Papa minta sejak awal. Flora selalu berusaha untuk memastikan mereka memiliki kehidupan yang baik dan bebas dari gangguan siapapun. Flora menepati janji, Pa. Papa nggak mau bantuin Flora?" lanjut gadis itu, dia tertunduk ketika merasa bahwa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya. Pria yang di panggil Flora dengan sebutan papa itu tetap saja bungkam.
"Hari ini Flora dikejar-kejar media untuk kesekian kalinya, itu sangat melelahkan, Pa. Sangat melelahkan menjadi pihak yang selalu harus terlihat kalah, melelahkan harus menerima apapun ucapan buruk tetang keluarga, melelahkan ketika harus terlihat lemah dan mendapatkan perlakukan tidak baik," ucap Flora lagi ketika dia kembali berhasil mengumpulkan kekuatannya. Dia menatap pria di hadapannya dengan lekat.
"Pa, pernikahan dibatalkan sepihak oleh keluarga Haidar, pengantin priaku berganti. Sekarang bagaimana aku harus menjalani hidupku yang pada kenyataanya sudah kacau sejak awal. Kenapa harus ada orang baru yang masuk di dalam kehidupanku yang sudah seperti ini. Kenapa harus ada orang baru lagi?" tanya Flora dengan nada putus asa. Papa-nya adalah satu-satunya tempat yang membuat Flora berani untuk mengeluh sekarang. Dia tidak memiliki tempat lain yang bisa dia percaya. Jadi setiap kali dia memiliki kesempatan untuk berkunjung maka seperti inilah Flora.
"Flo." Suara berat dan selalu terasa sangat hangat untuk Flora itu pada akhirnya mengalun. Flora mengangkat kepalanya, tangisnya semakin pecah ketika merasakan papa-nya menggenggam tangannya dengan sangat lembut.
"Papa minta maaf." Flora rasanya sudah hampir bosan mendengar ucapan yang selalu diucapkan oleh papa-nya itu. "Tidak banyak hal yang akan berubah, Nak. Semua akan menjadi seperti ini sampai akhir. Kalau kamu merasa benar-benar sudah lelah akan apapun. Kamu memiiki hak untuk menjadi egois. Kamu berhak untuk memikirkan kebahagiaan kamu sendiri. Kamu tidak perlu menuruti apapun yang di minta oleh keluarga Haidar, tidak ada keringanan terhadap hukuman papa walaupun kamu melakukan apa yang mereka inginkan." Flora membalas menggenggam tangan papa-nya semakin erat. Mata yang penuh dengan air mata itu menatap papa-nya dengan sangat lekat. Flora selalu benci situasi seperti ini. Flora selalu benci melihat papa-nya seolah menerima apapun hal dilimpahkan pada pria itu dengan pasrah.
"Tapi tidak menuruti mereka sama saja aku membiarkan Mama dan Orlando disakiti. Aku nggak mau mereka mendapatkan tekanan yang jauh lebih besar lagi," ucap Flora. Keluarga Haidar bisa melakukan apapun untuk menghancurkan orang yang mereka anggap sebagai musuh atau orang yang mereka anggap memiliki potensi untuk mengahancurkan mereka. Flora tidak ingin kehilangan dua orang yang masih bersama dengannya saat ini. Melihat papanya yang harus terjebak di penjara membuat Flora merasa kehilangan sebagian hidupnya apalagi dia harus kehilangan mama dan Orlando. Flora mungkin juga akan kehilangan napasnya sendiri.
“Bagaimana dengan suami kamu? Apa dia pria yang baik?” tanya sang Papa, Flora memalingkan wajahnya, dia tahu, papa-nya tidak ingin membicarakan tentang mereka untuk sekarang dan Flora memang juga belum pernah membicarakan tentang Stephen ke papa-nya.
"Stephen Huarliman adalah pria yang sangat baik saking baiknya aku nggak pernah merasa patas ketika berdiri di samping dia. Dia terlalu sempurna untuk orang yang memiliki bekas cacat dalam hidup seperti aku. Aku nggak akan pernah bisa menerima pernikahanku dengan Stephen, Pa. Aku nggak tahu bagaimana cara harus menjalaninya. Nggak pernah tahu," ucap Flora dengan suara nyaris putus asa kali ini. Genggaman tangan papanya terasa mengerat.
"Flora, apa yang terjadi dalam hidup kamu adalah salah papa, yang menyebabkan kekacauan terjadi dalam hidup kamu adalah papa. Papa yang bersalah atas segala kecacatan yang terjadi dalam hidup kamu, tapi Nak, orang baik tidak akan datang dua kali dalam hidup kita. Kamu pasti mengenal Stephen dengan baik sebelumnya dan kamu pasti tahu apapun yang baik untuk kamu." Flora tiba-tiba terdiam, "Flo,kamu adalah anak perempuan papa yang terbaik, kamu sangat pantas untuk segala hal baik yang terjadi dalam hidup kamu, jangan berusaha menolak ketika kamu juga menginginkan hal baik itu," Flora menggenggam tangan papa-nya erat.
"Thank you, Pap," ucap Flora bertepatan dengan waktu kunjungannya habis. Dia harus berpisah kembali dengan Papa-nya. Flora harus kembali dan bersikap kuat di luaran sana. Dia harus kembali bersikap bodoh di hadapan media dan berperan sebagai antagonis untuk meningkatkan citra baik keluarga Haidar.
Di setiap langkahnya meninggalkan tempat papa-ya, hal yang berputar di benak Flora adalah bahwa kehidupan adalah sebuah drama yang tidak berkesudahan. Flora akan hidup selalu dalam drama-drama itu dengan bebagai peran yang bahkan terkadang sama sekali tidak dia inginkan.