Setiap orang akan merasa sebuah berita akan sangat penting jika itu menyangkut dirinya. Seperti itulah kira-kira yang dirasakann oleh Flora saat ini. Dia bolak-balik mengetikkan nama Haidar di halaman penelusuran sejak kemarin. Flora tahu Anzel sama sekali tidak pernah main-main dengan apa yang pria itu katakan. Pria itu akan selalu melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia ingikan.
Flora menarik napasnya perlahan, tidak ada pemberitaan tentang keluarga Hadar sampai hari ini tapi Flora yakin berita itu pasti akan keluar cepat atau lambat. Flora sejak dulu sudah terbiasa terseret dalam hal seperti ini. Dia selalu mendapatkan tekanan semenjak keluarganya memiliki masalah dengan keluarga Haidar yang sangat manipulatif. Benar-benar sangat manipulatif. Keluarga itu selalu bisa membuat sesuatu yang benar tampak menjadi salah dan sesuatu yang salah tampak menjadi benar.
Flora sudah mengamankan Mama dan Orlando sejak dia bertemu dengan Anzel beberapa hari yang lalu. Keduanya menempati apartemen Flora sebelumnya. Itu adalah tempat paling aman sejauh ini. Tidak banyak orang yang tahu tentang unit apartemen Flora walaupun Anzel tahu tapi pria itu tidak memiliki akses, lagian juga Anzel belum tentu ingat dimana unitnya karena memang pria itu jarang datang ke sana. Jika mereka ingin menghabiskan waktu bersama itu lebih sering di apartemen Anzel
Flora mencintai Anzel? Tentu saja Flora pernah merasakan itu untuk Anzel bahkan mungkin sampai hari ini walau Flora tidak terlalu yakin tentang itu.
"Flo!" Flora tersentak dia langsung mematikan layar ponselnya ketika melihat seseorang sedang melangkah kearahnya. Itu adalah Milka, sahabatnya. Semenjak dia dan Stephen resmi menikah, mereka belum pernah sekalipun makan siang bersama, jadilah hari ini mereka berdua memutuskan untuk itu. Tadinya juga ingin bersama dengan Cynthia namun wanita itu harus kembali ke Bali kemarin. Cynthia memang menetap di sana semenjak menikah walau sahabatnya itu sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
"Lo udah pesan?" tanya Milka, wanita itu menarik kursi yang ada di hadapan Flora. Flora langsung mengangguk. Dia memang sudah memesan makanan sejak dia datang ke restoran ini.
"Gue juga udah pesan buat lo, menu yang sama kan?" tanya Flora, senyum Milka mengembang sempurna yang berarti apa yang dikatakan oleh Flora memang benar adanya.
"Flo," ucap Milka, tatapan wanita itu berubah menjadi sangat serius. Flora berusaha untuk sesantai mungkin menatap Milka. Dia tahu apa yang akan dibicarakan oleh wanita yang duduk di hadapannya itu. Flora tahu apa yang dikhwatirkan Milka dan sahabatnya yang lain. Flora tahu.
"Lo oke?" Tanya Milka, see—pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Flora. Dia tahu, Milka sangat khawatir.
"Walau gue berharap hal ini cepat berakhir tapi sejauh ini gue merasa baik-baik aja. Orang yang seharusnya lo tanya, oke atau enggak itu adalah Stephen. Gue nggak akan pernah bisa menerima pernikahan itu, Mil. Gue nggak suka dengan hubungan gue dan Stephen," ucap Flora, dia menggenggam ponselnya dengan sangat erat dengan harapan tidak ada hal yang buruk terjadi di sana. Kali ini Flora benar-benar takut, karena ini tidak hanya menyangkut dirinya dan keluarganya saja namun juga menyangkut Stephen. Flora tidak mau Stephen ikutan terseret dalam masalah yang seharusnya tidak menjadi masalah pria itu.
"Stephen tidak pernah keberatan dengan pernikahan kalian, dia dari awal sudah tahu resikonya seperti apa, Flo lo benar-benar tidak ingin memberi Stephen kesempatan sekali aja? " Tanya Milka, Flora bungkam kemudian kepalanya menggeleng pelan. Milka terlihat cukup keberatan dengan jawaban Flora namun ketika wanita itu ingin menyerukan protesnya saat itu makan siang yang sudah Flora pesan sebelumnya datang.
Keduanya sama-sama sibuk dengan makan siang mereka. Flora sesekali melihat kearah ponselnya. Flora masih sama khawatirnya seperti sebelumnya.
"Flo ada masalah?" Tanya Milka, Flora tersentak, dia tersenyum singkat pada Milka kemudian melanjutkan makannya. Milka yang seolah sudah sangat terbiasa dengan sikap Flora hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Flora tetaplah Flora. Terlalu tenang dan dalam dan sama sekali tidak bisa Milka tebak dimana dasarnya.
"Mil, gue nggak akan pernah memberikan kesempatan apapun pada Stephen. Gue tahu ini akan terdengar sangat egois tapi gue nggak ingin hidup bersama dia. Lo boleh benci gue setelah dengar ini. Gue tidak ingin terlihat seperti gue sedang memberikan harapan pada orang lain karena gue nggak akan pernah bisa memenuhi harapan itu," ucap Flora ketika mereka selesai dengan makan siang mereka. Milka terdiam. Matanya tidak lepas sedikitpun dari Flora bahkan ketika Flora mengambil ponsel yang tiba-tiba berkedip di atas meja kemudian menyembunyikan di bawah meja.
"Mil, gue ada urusan lagi setelah ini. Gue duluan ya," ucap Flora. Untuk makan siang mereka sudah Flora bayar di awal jadi tidak perlu khawatir di bagian itu.
Milka menahan tangan Flora sebelum gadis itu benar-benar meninggalkan restoran. Tatapan mata Milka berubah menjadi lembut berbalut khawatir. "Flo, lo tahu kan kalau gue akan selalu ada di belakang lo apapun yang terjadi? Please, tolong lihat gue kali ini. Gue nggak mau menyesali apapun suatu hari nanti ketika gue nggak bisa melakukan apapun buat lo," ucap Milka. Flora menelan air ludahnya susah payah kemudian dia berusaha tersenyum pada Milka.
"Thank you, Mil." Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Flora, gadis itu melepaskan genggaman tangan Milka kemudian berlalu dengan langkah cepat meninggalkan restoran. Jantung Flora berdetak dengan sangat kencang ketika melihat apa yang muncul di layar pop up ponselnya.
Anzel Geovino Haidar
Sayang, permainannya di mulai. Semoga kamu sudah menyembunyikan ibu dan adikmu dengan baik ah satu lagi semoga suami yang tidak kamu anggap keberadaan nya masih bisa jadi orang bodoh
Jantung Flora semakin berdetak kencang ketika berbagai macam berita dengan judul yang berbeda muncul di halaman pencarian.
Pernikahan dibatalkan sepihak oleh calon istri, putra tunggal keluarga Haidar terlihat mengunjungi seorang psikiater ternama
Calon istri putra tunggal pemilik rumah sakit terlihat naik pelaminan bersama seorang yang terkenal dikalangan pembisnis, karena lebih kaya?
Terkenal sangat materialistis, sosok calon istri putra tunggal keluarga Haidar tampak tersenyum bahagia bersama pria lain di pelaminan. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya!
Pernikahan putra tunggal keluarga Haidar di batalkan sepihak oleh keluarga calon mempelai wanita, calon istri pilih yang lebih kaya?
Dan masih banyak sekali artikel yang menggiring opini yang buruk terhadap Flora dan keluarga. Jemari gemetar Flora membuka satu persatu artikel tersebut dengan detak jantung yang masih sama hebatnya bahkan sekarang langkahnya terhenti dan terpaku di pijakannya.
Jantung Flora benar-benar berdetak tidak terkendali ketika melihat sebuah artikel yang sangat jelas memperlihatkan wajah Stephen namun untung saja tidak ada artikel yang menyebut Identitas Stephen secara lengkap namun ketika Flora membuka artikel berikut nya, disana wajah Stephen terlihat jauh lebih jelas dan bahkan inisial nama pria itu dengan label seorang general manajer perusahaan perhotelan yang sangat terkenal di Indonesia.
Flora benar-benar tidak bisa lagi berkata-kata. Semuanya hal seolah berhenti saat itu juga. Flora berusaha untuk menjangkau mobil yang tidak jauh dari tempat dia berdiri sekarang. Dia benar-benar merasa sangat lemas sekali. Tidak tahu harus melakukan. Kini masalah yang seharusnya hanya menjadi miliknya saja sekarang menyeret nama orang lain ke dalamnya. Saat Flora hampir kehilangan keseimbangannya saat itu seseorang meraih tangannya. Flora memejamkan matanya sejenak sebelum pada akhirnya dia mengangkat wajahnya. Mata Flora entah kenapa tiba-tiba terasa sangat panas sekali sekita tatapannya bertemu dengan tatapan penuh kekhawatiran Stephen.
"Flo." Flora berusaha keras untuk mengendalikan dirinya. Flora tidak ingin terlihat rapuh di hadapan siapapun terutama dihadapan pria yang kini berdiri dihadapannya, dihadapan pria yang sedang menggenggam tangannya dengan sangat erat dan di hadapan pria yang menatapnya dengan sangat khawatir.
"Flo kamu oke?" tanya Stephen, Flora hampir menyerah pada dirinya sendiri, dia hampir lepas kendali akan pertahanan dirinya sendiri. Flora melepaskan genggaman tangan Stephen dan memasang raut wajah setenang mungkin.
"Gue baik-baik aja, lo ngapain ada di basement jam segini?" tanya Flora. Tangannya menggenggam ponsel dengan sangat erat seolah di sanalah satu-satunya sumber kekuatan Flora untuk bertahan.
"Flo, pulang bareng aku sekarang," ucap Stephen, pria itu kembali meraih tangan Flora, menggengam tangan Flora dengan sangat erat namun juga lembut.
"Stephen, gue bisa mengurus diri gue sendiri. Lo nggak perlu membuat diri lo sendiri kerepotan." Flora menarik napasnya pelan, "lo seharusnya mempertimbangkan apa yang gue ucapkan, ayo akhiri pernikahan, Step. Apa lagi yang lo tunggu? Apa yang lo harapkan? Nggak akan ada akhir yang baik untuk pernikahan kita. Gue nggak ingin hidup bersama dengan lo," ucap Flora dengan penuh penekanan disetiap katanya.
Ujung jemari kaki Flora yang terbalut oleh heels terasa sangat dingin, dia benar-benar merasa ketakutan. Stephen lagi-lagi menatapnya dengan lembut seolah apa yang Flora ucapkan hanyalah hal biasa dan sama sekali tidak mempengaruhi pria itu.
"Flo, aku nggak akan pernah melepaskan kamu. Biarin aku bertahan di samping kamu sampai aku capek," ucap Stephen. Flora membuang tatapannya, dia kembali berusaha untuk berdiri dengan sangat tegap.
"Stephen, gue nggak akan pernah memberikan hal baik untuk lo, segala hal yang menyangkut gue akan membuat lo masuk ke dalam masalah yang seharusnya lo nggak terlibat disana. Jangan ikut menghancurkan diri lo sendiri. Step kehidupan gue nggak sebaik itu Step. Gue sangat merepotkan," ucap Flora. Dia kembali menatap Stephen dengan sangat lekat.
"Karena hal ini?" Stephen tiba-tiba memperlihatkan ponselnya pada Flora, di sana juga menampilkan artikel-artikel yang membuat mata Flora terbuka dengan sempurna. "Kalau ini adalah hal yang kamu khawatirkan, kamu nggak perlu Flo. Aku nggak akan lari kemanapun, jika media butuh konfirmasi dari pihak kita, kita juga bisa melakukannya," lanjut Stephen. Flora langsung menggeleng. Kali ini dia yang menggenggam tangan Stephen.
"Jangan lakukan apapun, please, biarin semuanya seperti itu."