"Flo." Flora langsung memalingkan wajahnya ketika sosok Stephen muncul ketika lift yang sejak tadi Flora tunggu terbuka. Flora tadi memutuskan untuk kembali ke apartemen Stephen untuk menenangkan diri sejenak karena dia tidak mungkin datang ke kantor dalam keadaan sekacau sekarang. Flora pikir Stephen sudah berangkat ke kantor sejak tadi namun pria itu justru baru muncul di lift basement.
"Flo." Stephen menarik Flora masuk ke dalam lift. Membawa gadis itu langsung ke dalam pelukannya dan menekan tombol lift untuk membawa mereka kembali ke lantai atas. Beberapa kali lift itu terbuka di beberapa lantai. Stephen semakin mengeratkan pelukannya pada Flora dan tersenyum pada setiap orang yang menatap mereka dengan aneh dan penuh tanya.
Saat lift itu terbuka di lantai, dimana unit Stephen berada. Stephen langsung merangkul bahu Flora dan membawa gadis itu ke luar dari sana. Stephen tidak tahu apa yang membuat Flora sekacau sekarang namun dia yakin gadis itu baru saja menghadapi suatu yang buruk.
"Flo, kenapa? Kenapa nangis?" Stephen memegang kedua wajah Flora, menatap gadis itu dengan sangat lembut sekali namun yang di lakukan Flora adalah membuang tatapannya dari Stephen namun bahu gadis itu tetap bergetar hebat.
Stephen kembali membawa Flora ke dalam pelukannya. Dia benar-benar kebingungan, sepanjang dia mengenal Flora. Stephen belum pernah melihat Flora seperti ini. Gadis itu biasanya akan menjadi orang paling tenang saat mereka sedang kumpul bersama.
"Nggak papa, Flo. Jangan takut. Kamu punya aku. Kamu bebas untuk cerita apapun sama aku." Stephen berusaha untuk memenangkan Flora. Tidak peduli sekarang dengan kemejanya yang basah karena air mata Flora. Stephen hanya berharap Flora merasa jauh lebih baik.
"Kamu mau istirahat hari ini?" tanya Stephen. Dia mengurai pelukan mereka. Kedua tangan Stephen memegang bahu Flora dengan lembut namun gadis itu meringis membuat Stephen terkejut. Dia menatap Flora dengan sangat lekat kemudian tatapan pria itu beralih pada bahu Flora.
"Bahu kamu kenapa?" tanya Stephen, Flora langsung menyingkirkan tangan Stephen dari bahunya kemudian menggeleng.
"Gue nggak papa, Step. Cuma kebentur pintu mobil." Flora menjawab tanpa menatap Stephen. Stephen menarik napasnya pelan. Dia kembali memegang kedua pipi Flora.
"Kamu hari ini istirahat aja ya. Tidur lebih banyak. Keadaan kamu benar-benar kelihatan banget nggak baik—" Stephen mengusap lembut sisa air mata di pipi Flora, "Flo, apapun hal yang mengganggu kamu dan itu sulit untuk kamu selesaikan, kamu bisa cerita sama aku. Aku akan selalu berusaha untuk bantu kamu," lanjut Stephen. Dia kemudian mendekat ke Flora dan mengecup kening gadis yang masih membuang tatapan darinya itu dengan sangat lembut.
"Aku berangkat kerja ya. Kamu istirahat hari ini." Stephen tersenyum kemudian dia pergi meninggalkan apartemen. Pekerjaan Stephen sangat padat seperti sebelumnya. Bahkan akhir pekan nanti Stephen harus terbang ke Singapura. Dia memiliki meeting di sana bersama para petinggi Hilton termasuk dengan Direktur Utama mereka, Jack Hilton.
***
Sepanjang hari Flora benar-benar tidak melakukan apapun. Dia hanya meringkuk di balik selimut tebal kamar Stephen sembari mendengarkan musik piano rileksasi yang Flora harapkan bisa membuatnya merasa jauh lebih baik walau itu semua nyatanya tidak terlalu berhasil.
Seperti apa yang Flora pikirkan. Cengkraman tangan Anzel di bahunya benar-benar meninggalkan bekas kebiruan. Walau itu terlihat samar. Namun itu cukup membuat Flora merasa kesakitan. Entah sudah berapa banyak lebam yang Flora dapatkan dari Anzel. Flora bahkan tidak mengingatnya namun lagi-lagi Flora tidak bisa melakukan penolakan. Semakin dia berontak maka Anzel akan semakin menyakitinya.
Flora menarik napasnya pelan. Tatapannya kemudian tertuju pada ruang kosong di sampingnya. Stephen Huarliman. Pria itu benar-benar sangat tidak pantas untuk masuk ke dalam dunianya yang penuh kegelapan. Stephen terlalu baik bahkan pria itu nyaris sempurna. Seharusnya Stephen tidak membuang-buang waktu untuk seseorang sepertinya.
Saat mendengar pintu terbuka kemudian namanya di panggil Flora buru-buru memejamkan matanya. Semakin suara itu terdengar jelas, Flora semakin merapatkan matanya. Cengkraman tangannya pada selimut mengerat sampai akhir Flora merasakan seseorang mengusap rambutnya dengan lembut dan satu kecupan hangat mendarat di keningnya. Flora lagi-lagi merasa tidak pantas untuk mendapatkan perlakukan sebaik itu dari Stephen.
"Flo, bangun yuk. Makan malam. Aku beliin makanan favorit kamu, kopi dan juga smoothies. Kamu pasti seharian ini belum makan. Aku jadi sedikit menyesal cuma nyuruh kamu istirahat tapi nggak minta kamu untuk makan," ucap Stephen. Flora dapat merasakan pria itu menepuk bahunya dengan lembut.
"Flora——" Flora langsung membuka matanya. Tatapannya langsung bertemu dengan Stephen yang langsung menyambutnya dengan senyum lembut.
"Makan dulu yuk," ucap Stephen. Kali ini Flora mengangguk tanpa penolakan. Dia membiarkan Stephen menggenggam tangannya bahkan membantunya untuk duduk di kursi meja makan.
"Kamu mulai makan duluan. Aku bersih-bersih sebentar." Flora mengangguk pelan. Flora mulai mengeluarkan makanan yang di beli Stephen dari restoran yang memang menjadi favorit Flora sejauh ini. Dia tidak tahu kenapa Stephen bisa tahu banyak hal tentang dirinya. Tapi lagi-lagi setiap hal yang di lakukan oleh Stephen membuat Flora semakin merasa tidak pantas dan merasa bersalah pada pria itu.
Beberapa menit kemudian, Flora menoleh, Stephen sudah terlihat lebih segar dengan pakaian santainya. Kemudian pria itu duduk di sebrang Flora.
"Sudah merasa jauh lebih baik?" tanya Stephen, Flora mengangguk pelan walau dia sama sekali tidak merasa baik apalagi mengingat apa yang di katakan oleh Anzel padanya gadi pagi. Kekacauan mungkin akan terjadi besok bahkan berita ini akan meledak dari berita-berita yang di buat oleh keluarga Hadar untuk menaikkan nama mereka. Menjadikan sesuatu yang tidak benar terlihat menjadi sangat benar di hadapan publik.
"Flo, ada yang menganggu pikiran kamu?" tanya Stephen Flora tersentak kemudian langsung menggeleng. Flora berusaha untuk kembali fokus pada makanan di hadapannya. Sesekali Flora juga menatap ke arah Stephen. Pikirin Flora kembali berkecamuk. Stephen memiliki posisi yang sangat penting di perusahaan. Pria yang kini menjadi suaminya itu adalah adalah seorang General Manager yang mana semua hal tentang Stephen akan menjadi suatu hal yang menarik. Jika pria itu terseret dalam pemberitaan atau pun nama Stephen tidak di bawa namun orang-orang pasti akan mencari tahu hal tentang Stephen kemudian lama kelamaan nama Stephen akan terseret dan reputasi Stephen akan memburuk.
"Stephen—" suara Flora mendadak tercekat ketika dia memanggil nama Stephen apalagi saat tatapan mata mereka bertemu satu sama lain dengan senyum Stephen yang masih terlihat sama tulusnya.
"Kenapa Flo? Kamu butuh sesuatu? Ayo bilang sama aku." Flora menggigit bibir bawahnya. Dia menarik napasnya pelan dan genggaman Flora pada sendok dan garpu mengerat.
"Stephen, ayo akhiri pernikahan."