Pagi-pagi sekali Flora memilih bangun. Ada hal yang harus Flora lakukan sebelum dia berangkat bekerja nanti, kebetulan banget Flora baru harus ke kantor sekitar jam sepuluh jadi dia pasti akan memiliki waktu yang cukup karena Flora yakin, tidak akan cukup waktu sebentar berbicara dengan orang yang akan dia temui. Belum lagi dengan emosi yang di pastikan akan meledak-ledak.
Flora bersiap dengan cepat, sesekali dia melirik pada Stephen yang masih tidur. Dia sangat berharap sampai dia meninggalkan apartemen Stephen tetap tidur. Flora tidak tahu harus menjawab pertanyaan Stephen seperti apa namun semua harapan Flora itu langsung lenyap ketika suara Stephen mengalun memanggil namnya.
“Flo, mau kemana sepagi ini?” gerakan Flora yang sedang memakai heels-nya langsung terhenti, dia menatap Stephen dengan lekat.
“Ke suatu tempat. Gue nggak punya banyak waktu. Pergi dulu.” Flora menjawab dengan sangat cepat namun ketika Flora ingin melanjutkan langkahnya dan meninggalkan kamar, Stephen langsung menggenggam tangannya.
“Mau kemana?” tanya pria itu. Flora menarik napasnya, menatap Stephen dengan sangat tegas.
“Apa yang ingin gue lakukan bukan urusan lo, Stephen. Sudah gue bilang, jangan coba masuk ke dalam wilayah privasi gue. Lo yang ingin menikah sama gue sedangkan gue enggak!” seru Flora dengan kasar. Ekspresi wajah Flora kemudian berubah menjadi panik ketika melihat pesan dari seseorang.
“Biarin gue pergi sekarang.” Flora melepaskan genggaman tangan Stephen. Gadis itu menatap Stephen dan melangkah dengan cepat meninggalkan kamar. Tidak peduli dengan Stephen yang memanggilnya. Flora kemudian langsung mengangkat telpon masuk dari seseorang yang membuatnya hampir di permalukan di depan banyak orang. Namun apa yang bisa Flora lakukan. Marah pada Anzel aja dia tidak pernah berani apalagi menolak semua keinginan pria itu.
Langit masih gelap ketika mobil Flora bergerak meninggalkan apartemen Stephen. Flora tidak peduli dengan apa yang Stephen pikirkan tentang dirinya. Semakin Stephen membencinya maka semakin cepat pernikahan mereka akan berakhir, itu akan jauh lebih baik untuk mereka.
“Sebentar lagi aku sampai.” Flora kembali menanggapi Anzel yang terdengar tidak sabaran di seberang sana. Setelah mobil Flora pada akhirnya terparkir di sebuah lobi rumah sakit. Sosok yang sejak semalam sudah mengganggu Flora dengan pesan beruntun langsung masuk ke dalam mobil Flora tanpa permisi. Saat Anzel ingin memeluknya dan mencium bibirnya, Flora langsung mundur, menghindari Anzel membuat tatapan pria itu berubah tajam.
“Flora!” seru pria itu dengan penuh penekanan, Flora langsung melajukan mobilnya begitu saja. Tidak peduli dengan Anzel yang semakin menatapnya tajam. Mereka tidak mungkin bertengkar di lobi rumah sakit. Memberikan tontonan gratis apalagi berita tentang mereka akan menikah sempat naik di rumah sakit ini bagaimanapun Anzel Giovani Hadar adalah salah satu dokter bedah di sana sekaligus putra pemilik rumah sakit.
“Flora berhenti!” seru Anzel dengan sangat tegas namun Flora lagi-lagi menghiraukan ucapan Anzel, dia memilih menambah kecepatan mobilnya. Tidak peduli Anzel yang mengeram penuh emosi di sampingnya. Flora hanya ingin menunjukkan rasa kesalnya pada Anzel.
“KAMU GILA!” bentakan Anzel langsung terdengar ketika mobil Flora terparkir di basement apartement Azel. Flora memejamkan matanya ketika Anzel mencengkram bahunya dengan cukup kuat yang Flora yakin setelah ini akan meninggalkan bekas kebiruan lagi di sana.
“AKU GILA? KAMU YANG GILA ANZEL!” seru Flora tidak kalah keras. Dia sudah menahan diri selama dua hari setelah keluarga pria itu membatalkan pernikahan begitu saja membuat Flora harus terjebak dalam kisah baru yang sama sekali tidak dia inginkan.
“STOP TERIAK DI DEPAN AKU FLORA! KAMU NGGAK PANTAS MELAKUKAN ITU, INGAT POSISI KAMU!” Anzel semakin meninggikan suaranya, cengkraman pria itu pada bahu Flora semakin mengerat membuat Flora memejamkan matanya, berusaha untuk tidak meringis. Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Anzel. Semakin dia terlihat lemah maka pria ini akan semakin menginjak-injak harga dirinya. Akan memperlakukan Flora semakin buruk.
“Kenapa tiba-tiba membatalkan pernikahan Anzel? Kamu dan keluarga kamu yang menyiapkan pernikahan dengan dengan semangat kemudian kamu dan keluarga kamu juga yang membatalkan. Kamu mau apa?” tanya Flora dengan nada suara yang mulai melemah. Dia berusaha melepaskan cengkraman lengan Anzel dari bahunya.
Anzel terkekeh pelan mendengar ucapan Flora, tangan pria itu yang tadi mencengkram bahu Flora pindah membelai pipi Flora dengan sangat lembut. Membuat Flora memalingkan wajahnya namun Anzel menahan wajah Flora untuk tetap menatap kearahnya.
“Kamu mengerjakan pekerjaan bagus kali ini Flora. Tunggu aja apa yang akan terjadi besok pagi,” ucap Anzel membuat Flora langsung memegang pergelangan tangan Anzel yang ada di wajahnya.
“Anzel, hal gila apa lagi yang akan kamu lakukan?” tanya Flora penuh ketakutan. Anzel terkekeh, “kamu melakukan hal luar biasa Flora, segala berita tentang keluarga Hadar nyaris tenggelam di tutupi berita lainnya, membatalkan pernikahan adalah rencana yang sebenarnya di susun sebelum akhirnya kita membicarakan pernikahan. Sekarang kamu membuat semuanya sangat menguntungkan. Publik melihat seolah kamu adalah orang yang salah di sini karena memilih pengantin pria lain dan mengabaikan aku dan keluargaku. Keluarga Hadar sudah melakukan wawancara bersama beberapa media. Kami mengatakan bahwa kamu yang membatalkan pernikahan dan memilih laki-laki lain. Menurut kamu nama baik siapa yang sedang di pertaruhkan sekarang dan nama keluarga siapa yang akan terus melonjak naik? Kalau sudah dasarnya jelek di publik maka harus tetap jelek. Amankan mama dan adik tercinta kamu mulai besok sebelum mereka mendengar olok-olokkan dari orang-orang sekitar—“ Anzel tertawa penuh kebahagiaan, “ terimakasih, Sayang, bekerja sama dengan kamu tidak pernah mengecewakan.” Pria itu mencium singkat pipi Flora kemudian langsung turun dari mobil meninggalkan Flora dengan segala kepanikan dan ketakutan yang menyelimutinya.
Flora buru-buru mengambil ponselnya dari dalam tas. Mencari nomor ponsel mamanya dengan tangan bergetar. Tanpa berpikir panjang Flora langsung menghubungi nomor mamanya.
“Mam pindah bersama Orlando ke apartemen Flora sekarang. Jangan tanya kenapa. Flora mohon pindah. Jangan tetap di rumah.” Flora langsung memutuskan sambungan telpon itu, sama sekali tidak memberikan mamanya kesempatan untuk bicara. Tangis Flora pada akhirnya meledak. Kedua tangannya mencengkram setir dengan sangat erat, beberapa kali Flora membenturkan kepalanya ke setir mobil penuh dengan putus asa.
Seharusnya Flora memang tidak perlu percaya pada keluarga Hadar. Seharusnya Flora menyingkir dari keluarga itu namun pada akhirnya tidak ada yang bisa Flora lakukan selain menerima setiap perlakuan tidak menyenangkan keluarga itu.
Sampai kapanpun akan seperti itu. Dia akan tetap menjadi sampah untuk keluarga Hadar. Akan selalu di injak-injak, di pakai jika perlu namun Flora tidak akan pernah keluar dari sana sekuat apapun dia berusaha untuk keluar.
Flora mengangkat wajahnya, menengadah, berusaha untuk membuat air matanya berhenti mengalir. Dia melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya. Dan masih banyak sisa waktu yang dia miliki untuk kembali ke kantor. Flora memilih meninggalkan basement apartemen Anzel dengan rasa khawatir dan ketakutan yang semakin besar. Jika dia terus di beritakan sebagai orang yang sangat problematik. Flora tidak yakin, Hilton Hotels akan tetap mempertahankannya sebagai salah satu karyawan di sana. Kemudian nama Stephen terlintas begitu saja di ingatan Flora. Jika pemberitaan besok tentang pernikahan maka nama Stephen juga akan terseret ke dalamnya. Flora menarik napasnya. Kenapa semua menjadi semenyulitkan ini?