Pertemuan Flora dan orangtua Stephen berlangsung saat makan siang. Seperti yang dikatakan oleh Stephen mereka sama sekali tidak memiliki waktu libur. Stephen bahkan tidak memiliki waktu untuk makan bersama dengan orangtuanya hari ini. Hanya Flora yang datang. Walau Flora sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menemui keduanya namun tidak ada pilihan lain untuk saat ini. Orangtua Stephen adalah orang yang sangat sibuk. Mereka meluangkan waktu untuk bertemu dengannya hari ini dan jelas Flora harus menghormati semua itu.
Saat mendorong pintu privat room yang sudah di pesan oleh Stephen, tatapan Flora langsung bertemu dengan tatapan dua orang yang ternyata sudah menunggunya. Flora tersenyum dengan sangat canggung. Walau sudah beberapa kali bertemu dengan orangtua Stephen tetap saja pertemuan hari ini sangat berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kali ini pertemuannya jauh dari sekedar formalitas. Tidak lagi datang sebagai teman tapi Flora datang sebagai menantu.
"Flo, sini." Mama Stephen tersenyum dengan sangat ramah padanya dan membawa Flora untuk bergabung di meja. Semua menu makan siang sudah siap di atas meja. Ada beberapa makanan favorit Flora. Pasti Stephen yang memesan itu semua.
"Tante...Om, maaf saya terlambat.” Flora menundukkan kepalanya. Rasa tidak enak semakin menyelimuti Flora, seharusnya dia yang menyambut kedatangan orangtua Stephen tapi yang terjadi hari ini justru sebaliknya.
"Kok masih om dan tante. Panggil Papa dan Mama dong, Sayang. Kamu sekarang adalah menantu kita, benar nggak Pa?" tanya Mama Stephen. Seorang pria penuh wibawa yang duduk di hadapan Flora mengangguk. Seingat Flora, ayah Stephen adalah seorang profesor di salah satu kampus ternama yang ada di Bogor.
"Benar sekali. Bersikap lebih santai Flora. Sekarang kita adalah keluarga," ucap pria itu. Flora berusaha keras untuk melebarkan senyumnya. Rasa bersalah Flora semakin besar. Seharusnya keluarga sehangat dan seterpandang mereka tidak mendapatkan menantu seperti dirinya.
Flora mengangguk perlahan, "maaf membuat keadaan memburuk, seharusnya Stephen tidak melakukan itu. Aku yakin itu sangat mengejutkan semua orang. Aku benar-benar minta maaf.” Flora kembali menunduk, dia menggenggam kedua tangannya dengan sangat erat.
"Flo, dengar—" ucap mama Stephen, wanita itu mengambil tangan Flora dan dia genggam di atas meja.
"Mama dan Papa tidak akan berbohong tentang berita ini sangat mengejutkan kami. Tapi kita tidak mempermasalahkan itu semua. Ini untuk pertama kalinya Stephen berani melakukan sesuatu yang bahkan mungkin tidak mungkin untuk dirinya sendiri, tapi dia melakukan itu. Mama sama Papa sangat yakin, dia sudah mempertimbangkan ini semua. Tolong percaya pada Stephen, dia pasti akan menjaga kamu dengan sangat baik." Flora mengangguk, dia tahu Stephen akan menjaganya dengan sangat baik tapi Flora tidak yakin dirinya bisa melakukan itu. Flora benar-benar tidak menginginkan hal yang terjadi pada mereka sekarang. Pada akhirnya dia akan mengecewakan Stephen.
"Terimakasih sudah menerima aku dengan sangat baik. Aku juga akan berusaha dengan sangat baik," ucap Flora. Kedua orangtua Stephen mengangguk. Mereka kemudian mulai menikmati makan siang.
"Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Kalian sekarang pasti sangat-sangat sibuk satu sama lain."
"Sekarang memang agak sedikit sibuk, tapi aku memiliki banyak waktu luang dibandingkan Stephen," jawab Flora. Kedua orangtua Stephen terlihat mengangguk mengerti. Flora berdoa dalam hatinya, semoga orangtua Stephen tidak masalah dengan caranya memanggil Stephen. Flora yakin dia tidak akan terbiasa dengan embel-embel panggilan yang biasa digunakan kebanyak orang.
"Stephen banyak bercerita tentang pekerjaan kamu. Divisi kamu jelas sangat sibuk, kamu harus menghadapi banyak orang setiap hari, kenyamanan klien adalah prioritas divisi kamu. Jaga kesehatan dengan baik dan pastikan kamu makan makanan sehat serta olahraga teratur." Flora tersenyum mendengar ucapan mama Stephen.
"Aku akan mengingat dengan sangat baik, terimakasih Ma...Pa..." Flora tersenyum dengan cukup lebar. Obrolan mereka terus berlanjut. Flora sangat bersyukur orangtua Stephen tidak bertanya tentang masa lalunya dan apa alasan pengantin prianya membatalkan pernikahan. Bahkan kedua orangtua Stephen sama sekali tidak menyinggung hal pribadi semacam latar belakang keluarga. Mereka hanya membicarakan tentang pekerjaan Flora, kegiatan Flora setiap harinya dan selebihnya tentang Stephen. Hal seperti ini jelas sangat membuat Flora merasa sangat nyaman.
"Kamu jaga diri baik-baik ya, ingatkan Stephen untuk makan teratur dan kalau ada hal yang menganggu kamu, kamu bisa cerita ke mama dan papa." Flora mengangguk sembari tersenyum, dia membalas pelukan mama Stephen kemudian memeluk papa Stephen. Kedua orangtua Stephen kemudian berpamitan padanya. Mereka telah selesai makan siang dan orangtua Stephen mengatakan bahwa setelah ini mereka masih memiliki acara.
Setelah orangtua Stephen meninggalkan parkiran, Flora juga masuk ke dalam mobilnya. Dia menghembuskan napasnya pelan, setidaknya hari ini dia bisa melakukan semuanya dengan baik. Flora berharap dia memberikan kesan yang baik saat bertemu dengan orangtua Stephen. Setelah ini Flora tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Ngomong-ngomong, keadaan kantor sejak pagi sangat normal. Tidak ada satupun rekannya yang membahas tentang mempelai prianya yang membatalkan pernikahan dan tidak ada juga yang membicarakan tentang pernikahan mendadaknya dengan Stephen. Benar-benar tidak ada ucapan negatif. Mereka semua bersikap seolah tidak terjadi yang terjadi kemarin.
Flora mulai mengendarai mobilnya untuk kembali ke kantor, setumpuk pekerjaan sedang menunggunya. Flora harus menyelesaikan itu dengan sangat cepat supaya dia bisa kembali ke apartemennya untuk mengambil beberapa barang kemudian kembali ke apartemen Stephen. Tadi pagi sebenarnya Stephen ingin menemaninya untuk mengambil barang-barang yang dia perlukan namun karena waktu mereka sangat singkat dan Stephen juga memiliki jadwal yang padat jadilah Flora akan melakukan sepulang kantor. Ini juga alasan Flora membawa mobil sendiri.
Flora memang tidak pernah mengharapkan pernikahan ini tapi dia tetap harus menghargai apa yang terjadi dalam hidupnya. Dia akan melakukan apa yang bisa dia lakukan. Kedepannya Flora tidak akan tahu seperti apa. Stephen mungkin sangat yakin akan semuanya tapi tidak dengan Flora, dia bahkan tidak yakin dengan dirinya sendiri.
***
Sudut bibir Stephen langsung tertarik ke atas ketika pintu apartemennya terbuka. Dulu selalu ruang hampa yang menyambutnya ketika kembali, kini ada seseorang yang menunggunya, terlihat duduk di sofa. Flora terlihat menoleh ke arahnya, mungkin hanya untuk memastikan apa benar-benar dia yang kembai atau bukan terbukti dengan gadis itu yang kembali fokus pada layar iPad-nya.
Stephen langsung membuka sepatunya kemudian menggunakan sandal rumahan. Sebenarnya Stephen pernah membayangkan sambutan pulang kerja jauh dari ini tapi untuk membuat bayangannya itu menjadi nyata, sepertinya Stephen harus berusaha jauh lebih keras.
Pekerjaan Stephen hari ini memang sangat padat, terakhir dia harus meeting bersama dengan klien yang membuat Stephen baru sampai di apartemen hampir pukul sepuluh malam. Kalau pernikahannya layaknya pernikahan orang ada umumnya pasti sekarang istrinya sudah mengomel bahkan ngambek tapi pernikahannya tidak seperti itu—mungkin suatu hari nanti Stephen juga akan merasakan rasanya diomelin sama istri karena telat pulang atau di diemin sampai dia kebingungan untuk membujuk tapi sepertinya akan butuh waktu yang lama untuk merasakan moment seperti itu.
"Punggung kamu gimana?" Flora terlihat sangat terkejut mendengar pertanyaannya. Stephen hanya tersenyum tipis sembari menaruh tas kerjanya di meja depan sofa dan menyampirkan jasnya di sandaran sofa sebelum akhirnya dia duduk, menatap Flora yang kini juga menatap ke arahnya.
"Lumayan," jawab Flora. Stephen mengangguk. Syukurlah kalau begitu, dengan punggung yang kembali membaik, Flora akan bisa tidur dan beraktivitas dengan nyaman.
"Sekarang sudah diobatin?" tanya Stephen, pria itu menggulung lengan kemejanya dan juga melepas dasinya.
"Udah.” Flora menatapnya sekilas kemudian kembali fokus pada layar iPad-nya. Stephen tersenyum tipis mendengar itu semua.
"Flo, kamu masak sesuatu? Aku lapar.” Stephen sekarang merasa dia adalah seorang pejuang tangguh, walau konsep komunikasinya dengan Flora layaknya orang yang sedang melalukan wawancara namun setidaknya ini jauh lebih baik. Flora masih mau menjawab setiap pertanyaannya.
"Lo belum makan?" tanya Flora, gadis itu terlihat benar-benar sanga terkejut mendengar pertanyaan sampai-sampai langsung meletakkan iPad di atas meja.
"Belum, kamu nggak masak sesuatu?" tanya Stephen. Flora langsung menggeleng. Sebenarnya Stephen sudah menduga hal ini akan terjadi. Ini baru satu hari setelah pernikahan mereka. Flora jelas belum terbiasa dengan perubahan walaupun sudah terbiasa Flora juga belum tentu mau repot-repot masak untuknya, lagian siapa dirinya— hanya seorang suami yang tidak diinginkan. Menyadari pikirannya sendiri, Stephen menggeleng cepat itu terdengar sangat dramatis sekali Stephen Huarliman!
"Tapi kamu udah makan malam?" tanya Stephen, Flora langsung menggeleng.
"Nggak makan malam," jawab Flora. Stephen tersenyum tipis mendengar itu. Diet, Flora pasti melaksanakan program itu sama halnya dengan Cynthia dan Milka namun dua sahabatnya itu kini sudah gagal dengan pola diet mereka semenjak menikah. Sekarang Stephen juga berniat untuk mengacaukan pola diet Flora.
"Flo, kamu capek nggak?” tanya Stephen, dia mencoba sebuah peruntungan.
“Kenapa emang?” tanya Flora. Stephen mulai memasang wajah lelahnya, menatap Flora dengan lekat, “tadi saat meeting, bahasannya cukup rumit dan kebetulan klien aku hari ini orang luar, kita nggak makan, cuma ada wine, beberapa minuman soda dan pelengkapnya. Kamu masak ya,” ucap Stephen walau sebenarnya Stephen tidak terlalu yakin Flora akan mengiyakan permintaanya namun melihat Flora bangkit dari sofa dan melangkah ke arah dapur, saat itu senyum Stephen benar-benar terukir sempurna. Dia ikut menyusul Flora ke dapur.
“Mau makan apa?” tanya Flora ketika gadis itu sudah berdiri di lemari penyimpanan bahan makan milik Stephen yang jelas sangat memprihatinkan. Stephen jarang belanja bahan-bahan makan, lagian dia juga nggak bisa masak. Kalau pun bisa masak itu sudah di pastikan nasi goreng dan mie instan karena Cynthia pernah mengajarkannya.
“Bahan-bahan itu bisa di olah apa?” tanya Stephen sembari meringis apalagi melihat wajah Flora yang tidak ada semangat-semangatnya buat masak entah karena memang terpaksa memasak untuknya atau karena melihat lemari penyimpanan bahan makanannya yang bisa di katakan kosong melompong.
“Spaghetti carbonara suka?” tanya Flora, Stephen pada akhirnya mengangguk. Sepertinya memang itu makanan yang bisa di olah malam ini.
“Yaudah gue masakin, lo bersih-bersih aja dulu,” ucap Flora. Stephen mengangguk patuh. Dengan langkah yang sedikit terasa lebih ringan, Stephen langsung melangkah ke kamar. Membersihkan dirinya yang jelas sangat penuh dengan polusi.
Flora masak untuknya, itu sudah suatu hal yang harus Stephen syukuri, setidaknya Flora masih memiliki sedikit rasa kemanusiaan padanya.
Tidak butuh waktu lama bagi Stephen untuk membersihkan diri. Stephen keluar dari kamar sembari mengeringkan rambutnya. Pria itu tersenyum ketika melihat Flora masih sibuk menuangkan spaghetti carbonara yang sepertinya sudah jadi ke dalam piring. Stephen buru-buru mendekat dan mengambil piring satu lagi.
“Lo mau makan di dua piring?” tanya Flora, bingung. Stephen langsung menggeleng.
"Buat kamu, makan sedikit, kamu masak kebanyakan, kasihan kalau nggak di makan," ucap Stephen. Dia kemudian membagi spaghetti itu ke dua piring. Di bagi rata dengan Flora.
"Gue nggak makan," ucap Flora.
"Kamu harus makan, temenin aku makan," ucap Stephen, "please," lanjut pria itu. Flora menatap piring yang sudah berisi spaghetti itu sebentar kemudian langsung membawanya ke meja makan. Stephen yang melihat itu langsung tersenyum penuh kemenangan. Pada akhirnya dia bisa makan malam bersama dengan istrinya.
"Bagaimana pertemuan sama mama dan papa?" tanya Stephen kembali membuka obrolan.
"Lancar," jawab Flora seadanya. Stephen tersenyum mendengar itu. Sesuai dengan harapannya. Stephen sangat bersyukur semua orang mau memenuhi permintaannya untuk tidak menekan Flora dengan pertanyaan yang tidak perlu.
"Flo," panggil Stephen. Flora mengangkat wajahnya. Tatapan mata mereka bertemu. Baik Stephen maupun Flora terlihat terkejut mungkin ini untuk pertama kalinya tatapan mereka benar-benar bertemu satu sama lain dengan jarak yang lumayan dekat, hanya di batasi meja makan.
"Terimakasih sudah bertemu dengan papa dan mama hari ini sekaligus mewakilkan aku. Maaf karena jadwal aku terlalu padat," ucap Stephen. Flora terlihat mengangguk, gadis itu kembali berusaha memakan spaghetti carbonara miliknya, Stephen yakin Flora memang sudah lama tidak kenal yang namanya makan malam apalagi ini sudah bisa di bilang tengah malam sih. Sudah hampir pukul sebelas.
"Nggak masalah," jawab Flora. Tidak ada lagi obrolan di antara mereka, lebih tepatnya Stephen berusaha membuka obrolan namun Flora sama sekali tidak tertarik mengobrol dan hanya menjawab seadanya saja.
Stephen hanya tersenyum ada di situasi itu. Tidak banyak yang bisa Stephen lakukan tapi dia akan berusaha untuk membuat Flora menerimanya dalam kehidupan gadis itu sebagai suami.
“Flo, makasih untuk spaghetti carbonara-nya malam ini. Ini akan jadi spaghetti favorit aku dan—“ Stephen menggantungkan ucapannya sebentar karena merasa tenggorokannya kering, “dan makasih udah mau nemenin aku makan malam walau itu jelas hal yang akan melanggar pola hidup kamu. Thanks, Flo.”