Pilihan satu-satunya saat pesta pernikahan itu berakhir yang di lakukan Stephen adalah membawa Flora kembali ke apartemen tempat tinggalnya. Tentu saja Stephen juga sudah berpamitan pada Tyas—mama Flora.
Kini Stephen dan Flora duduk bersebrangan di sofa. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka. Stephen sangat menyadari kecanggungan yang ada di antara mereka berdua apalagi ketika melihat Flora duduk dengan tidak nyaman di sofa.
"Besok Mama sama Papa datang untuk bertemu, aku harap kamu memiliki waktu untuk bertemu dengan mereka," ucap Stephen memecah keheningan yang terjadi di antara mereka. Flora terlihat terkejut bahkan tatapan gadis dengan mata yang masih sembab itu terlihat berubah menjadi kebingungan.
"Enggak ada yang perlu kamu takutkan Flo. Mama dan Papa sudah beberapa kali bertemu dengan kamu, mereka juga tahu gadis yang aku suka selama ini adalah kamu. Aku juga sudah menceritakan pada mereka apa yang terjadi hari ini. Jadi besok tolong temui mama dan papa sebagai menantu. Kamu hanya perlu menjawab apa yang mereka tanyakan. Mereka tidak akan menghakimi kamu," ucap Stephen. Flora lagi-lagi terlihat diam, Stephen tahu, Flora masih butuh waktu menyesuaikan diri dengan keadaan jadi Stephen tidak masalah jika gadis itu menunjukkan sikap seperti itu namun ketika pada akhirnya melihat Flora mengangguk pelan, senyum tipis Stephen langsung mengembang.
"Besok kita ke apartemen kamu ambil semua barang yang kamu perlukan. Sekarang istirahat Flo," ucap Stephen. Dia menjulurkan tangannya pada Flora dengan senyum yang benar-benar tulus.
"Lo duluan aja, nanti gue nyusul.” Stephen merapatkan bibirnya. Senyum pria itu langsung lenyap. Tangannya yang tadi terulur ke arah Flora kini dia tarik ke sisi tubuhnya dengan menggenggam kehampaan.
"Oke, kalau kamu capek langsung ke kamar aja. Aku akan berada di ruang kerja," ucap Stephen. Dia pada akhirnya meninggalkan Flora sendirian.
***
Flora masih bertahan di sofa. Pikirannya mendadak melayang jauh. Apa yang terjadi dalam hidupnya hari ini di luar rencananya. Mendengar keluarga Anzel tiba-tiba membatalkan pernikahan tanpa alasan sudah berhasil membuat Flora merasa terguncang. Rasanya sangat sakit sekali di campakkan di hari yang seharusnya akan sangat membahagiakan. Flora tidak pernah peduli dengan dirinya sendiri, sebesar apapun rasa sakit yang dia dapatkan, sebesar apapun luka yang di torehkan untuknya. Flora akan selalu bisa mengatasinya dengan baik. Dia akan tetap bisa berdiri dengan tegap dan melupakan segalanya namun ketika nama baik mama dan adiknya di pertaruhkan saat itu Flora merasa tidak berguna dan hancur. Melihat mamanya terduduk dengan lemah dan putus asa saat itu Flora ingin memaki dirinya sendiri. Flora benci melihat mamanya seperti itu. Flora benci melihat mamanya terluka karena dirinya.
Di saat keadaan yang semakin sulit, di detik-detik acara pemberkatan akan di langsungkan. Saat itu Stephen datang dan menawarkan diri untuk menjadi pengantin laki-laki. Flora jelas sudah menolaknya ketika Stephen mendatanginya ke kamar namun ketika Flora melihat tatapan penuh harap dari mama dan adiknya saat itu satu-satunya hal yang Flora lakukan hanyalah mengangguk pelan. Gadis itu tidak berhenti menangis di acara pemberkatan. Flora tidak tahu, tapi dia merasa, Stephen benar-benar sangat bodoh. Pria itu mengorbankan diri untuk sampah seperti dirinya.
Flora menarik napasnya. Air mata yang sedari tadi sudah berusaha dia tahan pada akhirnya jatuh membentuk aliran sungai kecil di pipinya. Flora meringis ketika dia merasa sangat perih di bagian punggungnya. Lagi-lagi gadis itu menangis. Entahlah Flora merasa hidupnya benar-benar sangat sial.
Gadis itu beranjak dari sofa ketika malam benar-benar sudah larut. Langkahnya terlihat sangat gontai dan tatapannya juga ragu. Kamar Stephen Huarliman, benarkah Flora akan tidur di sana?
Flora mendorong pintu kamar itu dengan sangat pelan. Ruang kamar yang super maskulin langsung menyambutnya. Penampilan Stephen selama ini benar-benar menggambarkan kepribadian pria itu. Stephen sangat-sangat pandai menata apartemennya, semua terlihat pas di tempatnya dan sama sekali tidak terlihat membosankan.
Flora menarik napasnya kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Kamar ini benar-benar sangat rapi. Stephen belum ada di kamar mungkin pria itu memang memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan. Flora duduk di tepian ranjang. Gadis itu memang sudah mengganti pakaiannya setelah pesta pernikahan itu di lakukan namun pakaian yang Flora gunakan sekarang adalah dress yang jelas tidak akan nyaman digunakan untuk tidur.
Mata Flora menjelajahi setiap sudut ruang apartemen Stephen. Benar-benar tidak ada hal yang terlihat berantakan. Semua tertata dengan rapi di tempatnya. Flora menarik napasnya. Hari ini sangat melelahkan sekali. Seluruh tubuhnya terasa sangat remuk, di tambah lagi punggungnya yang terasa semakin sakit.
Flora bergerak dengan tidak nyaman dan lagi-lagi pada akhirnya gadis itu meringis dengan sangat pelan ketika merasakan sakit di punggungnya.
"Flo, udah mandi?" pertanyaan itu membuat Flora tersentak, dia menoleh dan menatap Stephen yang berdiri di depan pintu kamar. Pria itu terlihat sudah memakai pakaian santainya dan jauh lebih segar dari sebelumnya. Sepertinya Stephen sempat mandi sebelum melakukan pekerjaan.
Flora menggeleng menjawab pertanyaan Stephen. Gadis itu langsung berdiri dari kasur namun lagi-lagi Flora refleks meringis. Stephen yang melihat itu langsung melangkah dengan cepat ke arah Flora. Menahan bahu Flora ketika gadis itu hampir saja terjatuh.
"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Stephen dengan wajah yang terlihat sangat panik. Flora merapatkan bibirnya kemudian menggeleng pelan dan melangkah mundur untuk menjahui Stephen.
"Enggak papa," jawab Flora. Stephen memicingkan mata ke arahnya namun pada akhirnya pria itu mengangguk mengerti membuat Flora diam-diam menghembuskan napasnya lega.
"Kamu mau mandi?" tanya Stephen. Pria itu melangkah ke arah lemarinya kemudian mengambil sebuah kaus dengan ukuran yang cukup besar setidaknya itu kaus bisa menutupi sampai paha Flora.
"Pakai kaus ini untuk malam ini sebelum besok pagi kita ambil baju kamu," ucap Stephen. Pria itu memberikan kaus dan juga handuk pada Flora.
Flora menatap kaus dan handuk itu bergantian kemudian mengambilnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Stephen.
Ketika Flora telah selesai membersihkan dirinya, pemandangan yang Flora lihat adalah Stephen yang sedang sibuk membuka satu persatu laci yang ada di dalam kamar namun ketika sepertinya sudah menemukan apa yang di cari Stephen terlihat langsung berpindah ke sisi lain tempat tidur langsung membuka ponsel. Flora yakin pria itu sedang membuka grup obrolan dengan sahabat mereka yang sudah di pastikan menggosipkan dia dan Stephen malam ini. Itu memang konyol, mereka sedang membicarakan orang yang juga ada di dalam grup itu yang pada akhirnya baik Flora maupun Stephen juga akan tahu. Itu bukan gosip lagi sih namanya tapi ngomongin orang langsung di depan orangnya.
"Flo, duduk sini.” Flora tersentak kaget mendengar itu. Stephen menepuk sisi ranjang yang kosong. Walau sangat ragu tapi Flora tetap melangkah ke arah Stephen dan duduk di samping pria itu.
"Anak-anak lagi ngomongin kita di grup, kalau kamu merasa tidak nyaman dengan suasana grup nggak usah di buka ya, nggak usah di pikirin. Mereka hanya sedang menghawatirkan keadaan kita sekarang dan besok pasti mereka akan diam," ucap Stephen. Flora hanya mengangguk saja. Sejak tadi bahkan Flora sama sekali tidak berani untuk membuka ponselnya. Flora belum siap untuk menghadapi pertanyaan yang berdatangan padanya. Walau keesokan hari, saat dia bekerja dia harus siap dengan segala pertanyaan itu. Tapi setidaknya malam ini Flora memiliki waktu untuk berpikir. Dia memiliki ruang untuk menenangkan dirinya.
"Nggak papa, gue nggak buka handphone malam ini," ucap Flora tanpa menatap Stephen. Suara Stephen tidak terdengar lagi namun pria itu menjulurkan semacam salep pada Flora yang dengan sekilas lihat saja Flora sudah tahu salah satu fungsinya.
"Obatin lebam di punggung kamu," ucap Stephen. Flora langsung menoleh pada Stephen. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Flora tidak pernah memberi tahu siapapun kecuali—
"Sekarang jangan pernah lupa untuk mengobati punggung kamu. Orlando bilang kamu selalu lupa untuk mengobatinya. Jangan terus-menerus membiarkan diri kamu kesakitan Flo.” Flora menghembuskan napasnya lega. Ya, kecuali Mama Tyas dan Orlando yang memberitahu Stephen.
"Aku nggak tahu kamu pakai salep yang mana, tapi aku punya beberapa salep yang mungkin bisa mengobati lebam kamu.” Stephen menaruh beberapa salep yang lain di tangan Flora. Flora lagi-lagi terdiam. Memang ada lebam di punggungnya, sudah cukup lama namun karena Flora selalu lupa dan kesulitan untuk mengobatinya sendiri, lebam itu tidak kunjung sembuh berbanding terbalik dengan lebam di paha dan lengannya, itu sudah membaik sejak lama.
"Gue akan mengobatinya nanti.” Flora menaruh beberapa macam salep itu di kasur. Flora tidak mungkin mengobati lebam di depan Stephen bukan?
"Kamu kesulitan untuk mengobatinya sendiri? Aku bisa melakukannya untuk kamu," ucap Stephen. Flora lagi-lagi terdiam namun pada akhirnya Flora membelakangi Stephen, Flora menarik selimut kemudian mengangkat sedikit kausnya. Ketika merasakan Stephen semakin mengangkat kaus-nya lebih tinggi, Flora refleks menahan napasnya, dia sangat berharap lebam di punggungnya sudah tidak terlalu parah. Dia sedang tidak ingin menjawab pertanyaan jauh lebih banyak.
"Bagaimana kamu bisa menahannya selama ini?" tanya Stephen, Flora diam-diam menghembuskan napasnya karena Stephen tidak bertanya tentang bagaimana dia mendapatkan luka lebam itu. Flora merasakan Stephen begitu hati-hati ketika mengoleskan salep ke punggungnya. Itu berhasil tidak membuat Flora meringis.
"Selesai," ucap Stephen. Flora langsung menurunkan kausnya. Dia dan Stephen kemudian duduk saling berdampingan di pinggiran ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah menyentuh marmer.
"Gue akan tidur di sofa mulai malam ini.” Flora sudah ingin beranjak dari ranjang namun Stephen langsung menahan tangannya membuat Flora mau tidak mau langsung menatap kearah Stephen.
"Tempat tidur ini terlalu besar untuk aku tempati sendirian. Jadi tempati lah sisi yang sudah terlalu lama di biarkan kosong Flo. Istirahat dengan nyaman di sini. Lebam di punggung kamu harus cepat pulih," ucap Stephen. Genggaman tangan Stephen pada tangannya terlepas, pria itu menaruh semua salep ken akas kecuali salep yang Flora tahu adalah salep urut. Stephen terlihat menggunakan salep itu untuk memijat kakinya sendiri, mungkin merasa pegal karena lama berdiri di acara yang di ciptakan pria itu secara mendadak.
"Tidur Flo, kita nggak punya waktu libur," ucap Stephen. Flora merasakan Stephen mengusap rambutnya dengan lembut sebelum benar-benar fokus memijat kakinya sendiri sedangkan Flora berusaha keras untuk memejamkan matanya. Ini adalah waktu pertama kalinya dia benar-benar terjebak hanya berdua dengan seorang Stephen Huarliman. Rasanya sangat aneh sekali. Flora ingin pergi namun untuk sekarang dia tidak memiliki tujuan untuk pergi. Dia sudah terjebak dalam dunia baru yang sakral dan sulit untuk di tinggalkan.
"Flo, tidur, sudah larut. Jangan terlalu banyak berpikir, kamu bisa stres."