“Ayah, bunda, aku berangkat, ya!” Teriak Carina dari ruang makan dan bergegas mengemas tumpukan rantang ditangannya. “Hati-hati dijalan, rame,” peringat Alvaro yang tengah berkebun bersama istrinya di pekarangan belakang. “Iya,” gadis itu berjalan mendekat pada keduanya dan bersalaman untuk berpamitan. “Jangan terlalu malem pulangnya,” pesan Renata yang disanggupi sang putri sulung. Setelah itu Carina berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Wajahnya tampak berseri penuh semangat yang sayangnya segera redup saat dilihatnya sang adik tengah bersandar pada pintu mobil berwarna putih itu. Remaja tanggung itu tampak santai dengan celana bahan selutut berwarna hijau, kaos oblong putih dilengkapi hoodie berwarna hitam yang kupluknya menutupi kepalanya. “Buruan, keburu macet,” uja

