Acara ulang tahun sederhana itu hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja. Hal ini tentu saja karena kedua kakak beradik yang saling menikahi satu sama lain, sehingga tidak heran jika circle keluarga Renjana dan Bumantara cukup kecil.
Meskipun Radit serta Syifa menetap di Kalimantan untuk menggantikan posisi Danu sebagai kepala perusahaan, tetapi putri sulung mereka yang bernama Diva meminta agar ulang tahunnya yang ke-16 ini diselenggarakan di Jakarta. Oleh karena itu seluruh keluarga yang ada di Kalimantan sudah berkumpul di hotel yang dikelola Alvaro sejak kemarin.
Semua keluarga sudah berkumpul, sementara Carina dan Calvin sampai paling akhir. Saat melihat putrinya masuk kedalam ruangan dengan ekspresi yang tampak baik-baik saja, Alvaro rasanya sangat ingin memeluk gadis kecilnya tersebut. Namun urung dilakukan untuk menghargai permintaan Carina. Gadis itu tentu tidak ingin mencuri pusat perhatian yang seharusnya menjadi milik adik sepupunya saat ini.
Alvaro pun meminta Carina untuk duduk disampingnya meskipun belum bisa memeluk gadis itu. Setidaknya dengan melakukan hal itu ia bisa sedikit lebih tenang. Sampai saat ini, belum ada orang lain yang ia beritahu, termasuk sang istri. Lalu mengenai negosiasinya dengan orang tua si penyerang tadi sore bisa berjalan dengan sangat lancar. Proses hukum pun sedang berjalan dibalik layar saat ini.
“Kak Carina tumben pakai baju branded? Biasanya gak pernah mau disuruh beli yang mahal,” seloroh Diva yang membuat semua orang juga memperhatikan pakaian Carina.
“Dibeliin Om Apin,” jawab gadis itu sambil tersenyum garing.
“Yah, Om! Kan aku yang ulang tahun, masa’ gak dapet hadiah juga?” Protes Diva.
“Pasti ada, dong! Gak usah khawatir,” balas Calvin seraya mengulurkan sebuah kotak berukuran buku pada keponakannya yang lain.
“Apa nih? Buka ya,” ujar Diva dengan mata yang berbinar-binar.
Saat perhatian semua orang kembali pada Diva, Alvaro yang kesulitan menahan gejolak pedih dalam hatinya pun mengalungkan lengan pada bahu putri sulungnya tersebut. Sebuah rangkulan yang cukup erat dan membuat Carina bertanya-tanya.
“Kenapa sih, Yah?” Tanya Carina lirih.
“Gak apa-apa, cuma kangen aja sama princessnya ayah satu ini,” jawab Alvaro yang juga hanya didengar oleh Carina.
“Baru juga pisah sehari,” dengus Carina.
Selama acara keluarga berlangsung, tak sedikit pun Alvaro membiarkan anak gadisnya itu jauh-jauh. Tak heran jika semua orang yang tak tahu apa-apa mengejeknya terlalu bucin pada anak sendiri. Namun, Alvaro tak peduli, ia hanya ingin menyalurkan rasa sayang dan dukungannya pada Carina. Suasana hangat begitu terasa hingga kesedihan yang menyelimuti Carina pun perlahan-lahan memudar. Terlebih dengan sikap protektif ayahnya yang bisa mengembalikan rasa percaya diri gadis itu.
>>>>
Acara berlangsung hingga cukup larut dan baru berakhir saat para kakek dan nenek yang sudah lanjut usia itu pamit terlebih dahulu. Disaat semua orang memutuskan untuk menginap di hotel, keluarga Alvaro memilih untuk pulang ke rumah, termasuk juga Calvin.
Meskipun dalam keadaan yang kelelahan, sesuai janjinya pada Calvin, Carina pun memberanikan diri menceritakan kejadian naas yang menimpanya. Sesuai yang diduga, Renata dan Adric begitu terkejut dan langsung memeluk gadis itu dengan kuat. Renata bahkan sampai menitikkan air mata dan seperti yang Alvaro lakukan selama acara tadi, ia terus merangkul anak gadisnya rapat-rapat.
“Ayah kok diem aja, sih?” Protes Adric yang melihat Alvaro tak banyak bereaksi dan tampak tenang.
Calvin pun menyenggol Alvaro untuk menepati janjinya. Barulah setelah itu Alvaro seperti terperanjat dan langsung ikut memeluk Carina. Sontak saja Calvin mendengus karena kemampuan akting kakak iparnya itu sepertinya sudah menurun.
“Kamu gak usah khawatir, semua udah beres! Tadi ayah sama om kamu yang beresin,” ujar Alvaro yang membuat semuanya membelalakkan mata.
“Ayah udah tahu?” Tanya Carina yang sejak mulai bercerita sudah kembali sesenggukan. “Om Apin juga, kok ingkar janji, sih?”
“Kalau om kamu sendiri, gak bakalan selesai tadi! Dia bisa apa?” Cibir Alvaro bercanda.
“Aku yang ngamanin barang buktinya Bang,” sahut Calvin membela diri.
“Iya, iya yang jadi pahlawan kesiangan,” balas Alvaro yang memang selalu memperlakukan semua yang dirumah seperti temannya.
“Kamu gimana, sayang? Ada yang luka?” Tanya Renata sambil memeriksa tubuh anak gadisnya.
“Aawsshh.” Carina merintih saat tanpa sengaja bundanya menyenggol pergelangan tangannya.
Renata pun langsung meminta maaf dan mengambil telapak tangan Carina dengan hati-hati.
Pergelangan tangan Carina yang tadi sempat dicengkeram dengan kuat memang sudah tak menunjukkan warna kemerahan, tetapi sudah berubah agak membiru karena memar. Hal ini membuat Calvin terperanjat karena sejak tadi Carina sama sekali tak menunjukkan kesakitannya.
“Kok gak bilang kalau luka sih, Rin?” Omel Calvin.
“Cuma memar, kok! Tadi udah di kompress juga pas dirumahnya, Om.” Carina membantah.
“Dek, tolong ambilin kotak obatnya bunda,” pinta Renata yang langsung dituruti oleh Adric.
Remaja itu kembali dengan membawa sebuah kotak plastik berwarna putih yang berisi obat-obatan darurat. Setelah kotak itu berpindah tangan, Renata segera mengambil sebuah salep dan mengoleskannya pada tangan putrinya dengan hati-hati.
“Kamu masih sering diincer cowok-cowok ya, Kak?” Tanya Alvaro prihatin.
“Udah gak sesering dulu sih, Yah,” jawab Carina.
Alvaro pun menghela napas kasar, “kasihan anaknya ayah, jadi cantik bukannya beruntung malah dijadiin sasaran terus. Persis kayak bunda kamu dulu.”
“Oh ya?” Carina membeo.
“Ngarang! Orang gak ada cowok yang deketin aku sama sekali,” bantah Renata sambil mendengus.
“Dari jaman SMP udah banyak banget cowok yang caper sama kamu, tapi semuanya aku usir,” sahut Alvaro membanggakan diri.
Pengakuan Alvaro membuat semua orang terbengong tak percaya. Seekstrim itukah Alvaro menjaga jodohnya?
“Pas waktu kuliah ‘kan kamu gak ada, tapi masih gak ada yang deketin aku,” sanggah Renata.
“Kalau itu gara-gara tembok yang kamu bangun udah tinggi dan kuat banget, makanya kamu gak bisa ngeliat keluar,” balas Alvaro.
“Kan, malah jadi nostalgia ini bucin berdua,” seloroh Adric mewakili kakak serta pamannya.
“Ayah doain kamu bucin juga ntar sama istri kamu,” Alvaro menatap tajam putra bungsunya.
“Masih lama keleus,” Adric menjulurkan lidahnya.
Semuanya pun terkekeh dan perlahan menghilangkan aura sedih yang selama beberapa saat memenuhi. Carina juga bersyukur bahwa keluarganya begitu supportif, terutama ayahnya yang bisa menyelesaikan masalah yang menimpanya dengan cepat.
“Oh ya, ayah punya ide nih biar kamu gak jadi inceran cowok-cowok lagi,” cetus Alvaro yang membuat semua perhatian terfokus padanya.
“Gimana?” Tanya Renata.
Seulas senyum menyeringai terbentuk dari wajahnya yang sudah memiliki cukup banyak kerutan dibagian dahi serta ujung matanya tersebut. Kedua netra coklat gelapnya menatap sang putri dan adik iparnya secara bergantian. Semuanya paham, jika Alvaro sudah bereaksi seperti, maka akan ada hal-hal konyol dan tak terduga akan segera otaknya ungkapkan. Dan benar saja, kalimat yang kemudian meluncur dari bibirnya mampu membuat semua orang tercengang.
“Gimana kalau kalian pura-pura pacaran aja?”
>>>>