Selepas dari kantor polisi dan membelikan pakaian ganti untuk keponakannya, Calvin segera kembali ke rumahnya. Tepat setelah pintu depan terbuka, Mbak Asih dengan tergopoh-gopoh menghampirinya seperti biasa.
“Carina dimana, Mbak? Udah baikan?” Tanya Calvin berturut-turut.
“Habis mandi tadi langsung tidur, Den. Masih belum bangun,” jawab Mbak Asih seraya meraih sebuah paper bag dari tangan tuan mudanya.
“Yaudah, kasihin ntar aja kalau dia udah bangun! Aku juga mau bersih-bersih dulu,” balas Calvin seraya berjalan lebih jauh menuju kamar yang ia klaim sebagai miliknya.
“Den,” panggil Mbak Asih yang menghentikan langkah Calvin. “Ini cuma pakaian ganti yang luar aja? Dalemannya gak ganti?”
Beberapa saat terjadi hawa canggung menyelimuti rumah besar tersebut. Calvin bahkan mengedip-ngedipkan matanya bingung harus menjawab seperti apa.
Meskipun ia dan Carina tumbuh bersama sejak kecil, tentu saja ia tak sempat memikirkan hal-hal yang bersifat pribadi seperti itu. Lalu, menanyakannya pun akan membuat suasana menjadi lebih canggung.
Calvin kemudian mendekati Mbak Asih dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu pada wanita berusia tiga puluhan tersebut.
“Aku gak tahu ukurannya, Mbak Asih aja yang belikan!”
Wanita yang tidak menyadari betapa canggung tuan mudanya itu segera melakukan permintaan tersebut. Sementara Calvin kembali melanjutkan niatnya dan melupakan obrolan singkat barusan.
>>>>
Saat semburat jingga mulai menguasai langit biru, Carina yang kondisinya telah lebih membaik dan segar pun keluar dari kamar tempatnya beristirahat. Sembari menunggu Calvin menghampirinya, ia mulai memindai setiap sudut rumah yang baru sekali ini dikunjunginya. Baik interior maupun desain bagunannya tampak jelas lebih mewah daripada rumah yang keluarganya tempati. Namun, entah karena rumah ini sudah lama hanya dihuni oleh ART serta penjaga saja, hawanya terasa begitu dingin, seperti tak bernyawa.
Netra Carina kemudian berhenti pada sebuah foto dalam bingkai yang terpajang ditembok. Tampak sebuah foto wisuda seorang wanita yang diapit oleh dua paruh baya dan ketiganya tersenyum lebar dihari bahagia tersebut. Saat gadis itu masih terlarut pada foto tersebut, suara derap langkah terdengar semakin mendekat padanya, dan itu adalah Calvin.
“Gimana keadaan kamu, Rin?” Tanya Calvin yang masih berjalan mendekat pada gadis itu.
“Better,” jawab Carina singkat. “Makasih bajunya.”
“Iya. Mbak Asih yang beliin,” balas Calvin langsung mengkonfirmasi tanpa diminta. Setelah itu ia juga ikut larut menatap potret mendiang keluarganya.
“Itu maminya, Om Apin?” Tanya Carina sambil menunjuk si gadis berkebaya di tengah dan diangguki oleh pemuda disampingnya. “Cantik. Pantes aja ayah pernah kecantol.”
“Kalau mereka beneran jadi, kita gak bakalan pernah ada,” gumam Calvin yang masih sangat asing dengan paras ibu serta kakek-neneknya.
“Iya sih, struktur gennya udah beda, dan mungkin bunda juga gak bakalan nikah-nikah. Cuma ayah ‘kan yang bisa nyeret bunda ke penghulu?”
Keduanya pun terkekeh. Mereka tahu tragedi masa lalu yang melibatkan orang tua masing-masing dan itu menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk keduanya. Meskipun awalnya Calvin merasa sangat malu dan rendah diri karena kenyataan tersebut, dukungan dari keluarga angkatnya mampu membuat pemuda itu kembali mengangkat kepalanya dan mengikhlaskan jalan hidupnya yang berbeda dari anak kebanyakan.
Carina juga tak pernah sekali pun mengungkit serta mengecilkan hati Calvin. Terlebih ayah dan bundanya juga selalu mengajarkan bahwa seorang anak tidak seharusnya menanggung kesalahan orang tuanya. Anak adalah individu tunggal yang memiliki takdirnya sendiri.
“Rencananya kalau uangku udah cukup, rumah ini mau aku rombak. Terlalu besar dan ini hawanya kerasa mati,” ungkap Calvin. “Menurut kamu, mendingan bangun dari awal atau cuma renovasi aja?”
Carina mengedikkan bahunya, “tergantung dompetnya Om lah, karena bangun dari awal biayanya pasti lebih banyak, tapi renovasi juga gak terlalu ngubah bentuk bangunannya.”
“Oke, bakalan makin rajin ngepet kalau gitu biar bisa bangun dari awal,” gurau Calvin untuk mencerahkan suasana. Benar saja, Carina mulai bisa tertawa kembali meskipun belum seceria biasanya.
“Kok ngepet sih?” Tanya Carina tanpa mengendurkan tawanya.
“Iyalah. Mainan saham ‘kan kerjaannya mantengin layar terus, apa bedanya sama ngepet yang kerjaannya nungguin lilin?” Seloroh Calvin yang membuat keduanya semakin tergelak.
Niat pemuda itu mengubah rumah warisannya bukan semata-mata karena ingin mengubah suasana. Dimasa depan, ia tahu jika sudah kembali menghuni tempat itu maka keluarga angkatnya juga akan sesekali berkunjung. Calvin tidak ingin Alvaro ataupun Renata merasa tidak nyaman berada di rumah tersebut. Terlebih dengan keberadaan foto ibunya yang masih cukup bertebaran di rumah akan membuat mereka canggung. Meskipun ia belum tahu kapan akan benar-benar menghuni rumah ini, tetapi tidak ada salahnya untuk bersiap-siap.
Tring tring tring
Suara dering ponsel Calvin menginterupsi canda tawa keduanya. Pemuda itupun segera merogoh saku celana denimnya dan mengambil benda pipih berlogo apel miliknya. Sebuah helaan napas terdengar begitu ia membaca nama pemanggil yang tertera pada layar.
“Dari Singapore lagi?” Tanya Carina menebak yang diangguki Calvin. “Angkat aja, sesekali lah dengerin maunya dia apa!”
Setelah berdebat dengan pikirannya beberapa saat, Calvin kembali menghela napasnya, lalu menjawab panggilan internasional tersebut.
“Ada apa lagi?” Tanyanya tanpa basa-basi seraya agak menjauh dari Carina.
“Where’s your manner?” Tanya pria paruh baya diseberang yang tak lain adalah ayah biologis Calvin, Jasper.
“Gak punya, gak pernah diajarin sama bokap,” jawab Calvin ketus dan asal.
“Dahlah langsung saja, I want you to come here,” sahut Jasper datar.
“Buat dihina-hina lagi? Sorry not sorry, but no thanks,” balas Calvin yang selalu merasa tekanan darahnya meningkat setiap kali berbincang dengan pria yang turut andil dalam kehadirannya di muka bumi.
“Saya tak terima penolkan, besok kamu kesini! Penting!” Perintah Jasper tegas.
“Dih, kayak ke Singapore deket aja,” cibir Calvin. “Kalau anda yang butuh, anda yang kesini bukan nyuruh-nyuruh saya!”
“Kamu benar-benar tidak punya sopan-santun sama orang tua, ya! Diminta kesini ya kesini saja!”
“Gak punya duit, tiket pesawat mahal!”
“Bukankah kamu punya keluarga? Tidak dibiayai mereka?”
“Hei, mereka gak punya kewajiban kasih makan saya, tuan Jasper Cheng yang terhormat! Justru anda yang wajib kasih saya kehidupan!”
Terdengar suara decakan kesal dari seberang yang justru membuat Calvin memutar kedua bola matanya kesal.
“Yasudah, saya belikan! Besok kamu kesini!”
Sekali lagi bibir Calvin mencibir, “memangnya anda tahu nama lengkap, tanggal lahir, apalagi nomor identitas saya? I don’t think so.”
“Kirimikan secepatnya kalau tidak ingin saya teror terus-menerus!”
“Ya, baginda raja yang terhormat. Abdi akan melakukannya,” putus Calvin yang tak ingin semakin memperpanjang pembicaraan mereka.
Setelah memutus panggilan tersebut, Calvin yang sebenarnya juga penasaran dengan kemauan sang ayah biologis pun mengirimkan data dirinya. Sebenarnya dia sendiri sangat mampu untuk membeli tiket pesawat ke luar negeri, ia hanya tidak ingin mengabulkan keinginan Jasper dengan mudah serta melihat usaha pria itu untuk kembali mendekat padanya.
Tak berapa lama kemudian, sebuah pesan singkat menyapa gawainya. Sebuah tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Singapore telah dikantonginya, tetapi sekali lagi Calvin mencibir.
“Kenapa sih, Om?” Tanya Carina yang sejak tadi sudah penasaran.
“Ini orang tua, udah beliin tiket harus dipaksa dulu, dikasih yang paling murah lagi. Dasar pelit,” gerutu Calvin seraya membuka aplikasi pemesanan tiket pada gawainya.
“Om beneran mau nurutin ke Singapore?” Carina menyelidik.
“Kalau gak diturutin dia bakalan terus neror,” sahut Calvin.
“Terus kenapa Om pilih-pilih tiket lagi?”
“Ganti kelas! Biarpun cuma dua jam harus nyamanlah.”
Jawaban Calvin membuat gadis itu terkekeh. Meskipun sejak kecil mereka selalu diajarkan untuk bergaya hidup sederhana, namun kenyamanan tetaplah nomor satu.
“Udah yuk berangkat, keburu makin macet! Ntar shalat maghrib di masjid aja!”
Calvin beranjak dari posisinya setelah menyelesaikan proses penukaran tiket. Ia pun berjalan lebih dulu dan Carina pun mengikutinya dari belakang.
Waktu memang telah menunjukkan pukul lima sore dimana jalanan di Jakarta bisa dipastikan sedang padat-padatnya. Meskipun acara keluarga mereka baru akan dimulai sekitar dua jam lagi, namun perjalanan mereka juga akan sangat memakan waktu. Maka dari itu keduanya harus bergegas agar tidak semakin terlambat.
“Makasih ya untuk hari ini, Om. Tadi aku belum sempet bilang,” ujar Carina setelah bisa menyamai langkah.
Calvin tersenyum simpul, “nevermind!”
>>>>