Heliotrope 08

1408 Kata
Kedua pria berbeda generasi itu melenggang masuk ke ruang kerja para abdi negara tersebut. Tampak ramai dengan kegiatan masing-masing yang membuat Alvaro bernostalgia. Namun itu hanya sejenak karena tatapannya kembali mengeras saat ia menyaksikan seorang pemuda tengah duduk diapit oleh dua orang security serta diberondong pertanyaan oleh seorang polisi. Disampingnya juga sudah ada seorang pria berusia tiga puluhan mengenakan pakaian formal yang Alvaro prediksi sebagai pengacara. “Selamat siang,” sapa Alvaro pada polisi yang bertugas. “Saya orang tua korban.” Bagas langsung mendengus, memalingkan wajah, dan tetap bersikap jumawa. Entah ia sudah terlalu biasa dengan keadaan seperti ini atau terlalu percaya bisa lolos dengan mudah, nyatanya ia sama sekali tak merasa takut. “Silakan duduk, pak! Apa mas ini saksi yang tadi?” Tanya inspektur polisi yang menggunakan label nama Gunawan. “Iya, pak,” jawab Calvin tenang. Ia juga mengambil duduk disamping Alvaro. “Eh, tanggung jawab lo udah bonyokin muka gue. Terus mobil gue juga gak murah, gue minta ganti rugi,” ujar Bagas dengan tatapan penuh permusuhan pada Calvin. “Kalau gitu gue juga minta lo balikin kesehatan mental keponakan gue,” balas Calvin tak kalah kesal. Namun ia bisa berkata dengan begitu tenang. “Keponakan?” Bagas membeo. “Kenapa? Salah paham? Gue adik nyokapnya Carina dan satu lagi yang lo liat itu adiknya dia, umurnya masih empat belas tahun,” sahut Calvin sambil menekankan usia Adric dan membuat Bagas membelalak terkejut. “Udah, gak usah diterusin,” tegur Alvaro yang sebenarnya juga ingin menghajar pemuda angkuh dihadapannya. “Ini bukti-bukti yang sudah adik ipar saya kumpulkan.” Alvaro mengulurkan kartu memori rekaman dasbor yang tadi diambil Calvin pada Gunawan. “Perlu diperhatikan bahwa saya tidak akan mengambil jalur damai dalam bentuk apapun, jadi tolong di proses dengan sebaik-baiknya,” pesan Alvaro yang disanggupi oleh Gunawan. “Heh, bantuin, dong! Lo dibayar bokap buat ngurusin gue, jangan diem aja!” Bagas yang sejak tadi jumawa pun mulai merengek pada pengacaranya. Baik Alvaro maupun Gunawan tak habis pikir dengan perilaku Bagas yang bisa memerintahkan pengacaranya dengan seenak jidat, bahkan tanpa sopan santun sedikit pun. Bisa dipastikan jika ia memang sudah sangat terbiasa dengan perilaku tersebut, sehingga dengan begitu mudah mengucapkannya. Pengacara itupun langsung beranjak mendekat pada Alvaro dan Calvin untuk memulai negosiasinya. “Pak, mas, sebaiknya kita selesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan saja! Klien saya akan mengganti rugi berapa pun kerugian yang sudah ditimbulkan, tetapi tolong cabut tuntutannya,” pinta pengacara bernama Tio tersebut. “Kami gak butuh duitnya dia,” sahut Calvin dengan memberikan tatapan tajamnya pada Bagas. “Tolong, mas! Bagas ini bukan dari keluarga yang biasa-biasa saja, mereka bisa balik nyerang kalau mas dan bapaknya gak mau berdamai. Demi ketenangan bersama,” bujuk Tio sopan. “Pasti susah ya mas kerja sama keluarga yang begini,” sahut Alvaro prihatin. “Hanya saja, kami tidak peduli dengan latar belakang bocah itu. Mau anaknya pejabat atau presiden sekali pun, kalau salah harus dihukum! Kami juga bukan keluarga sembarangan yang bisa dengan gampang ditindas.” Bagas berdecih meremehkan. Pemuda itu memang tidak mengetahui seluk-beluk Carina. Dimatanya, gadis itu hanyalah gadis dari kalangan biasa yang mudah untuk diatasi. Hal ini tidak lain karena gaya hidup Carina begitu sederhana dan tak menunjukkan jika ia juga berasal dari keluarga yang berada. Bahkan pakaian yang melekat pada tubuh gadis itu saja tak ada yang sampai berharga diatas lima ratus ribu. “Berapa sih yang kalian mau? Sebutin aja,” tantang Bagas dengan congkaknya. Semua orang tak habis pikir dengan sikap pemuda itu. Bahkan saat tak ada lagi jalan keluar untuknya, dia masih bisa bersikap kurang ajar pada orang lain yang nyatanya lebih tua daripadanya. Apakah sikapnya yang seperti ini bisa disebut sebagai kegagalan orang tua dalam mendidiknya? Meskipun terus direndahkan oleh Bagas, tetapi Alvaro dan Calvin sama sekali tak menggubrisnya. Tak ada alasan untuk kalah dari ancaman duniawi seperti itu, terlebih untuk kehormatan keluarga, apapun akan mereka lakukan. Lagipula, bukti yang Calvin ambil juga sudah cukup untuk menyeret Bagas ke balik jeruji besi, tak peduli berapa banyak uang yang pemuda itu miliki. Selain itu, Alvaro juga bukan pihak yang bisa disepelekan. Memiliki latar belakang sebagai mantan detektif membuatnya mengenal cukup banyak penegak hukum, termasuk jaksa dan juga pengacara yang bisa membuat tuntutannya lebih kuat. “Kita ketemu di pengadilan secepatnya,” ujar Alvaro tajam pada Bagas serta Tio tepat setelah laporannya diproses. Petugas kepolisian yang lain pun menggelandang Bagas ke balik bui sambil berteriak tak terima. Pengacaranya hanya bisa menghela napas panjang karena sudah bisa dipastikan jika pekerjaannya akan semakin rumit. Resiko bekerja sebagai pengacara, meskipun kliennya yang berbuat kesalahan, ia harus tetap membela. “Sabar, mas,” ujar Alvaro sambil menepuk bahu Tio yang lemah. “Hati-hati ya, pak! Keluarganya mas Bagas sama sekali gak bisa disepelekan,” pesan Tio yang hati nuraninya sering berperang tersebut. “Tenang saja, saya sudah biasa dengan situasi seperti ini,” sahut Alvaro tenang. “Oh ya, mas Tio bilang kalau dia anaknya menteri yang itu, ya?” “Iya, pak,” jawab Tio sambil menganggukkan kepala. “Sepertinya saya sudah punya senjata untuk membungkam mereka,” balas Alvaro sambil menyeringai. “Sampaikan salam saya buat pak Fahri dan bilang kalau saya masih nyimpen semua proposalnya beliau buat kerjasama dengan hotel Dikara.” “Baik, pak,” sahut Tio. Ketiganya pun berpisah setelah berpamitan pada polisi yang masih bertugas. Meskipun sampai disini masalah sudah memiliki titik jelas, tetapi kekhawatiran Alvaro pada putrinya masih terlihat jelas. Hanya saja ia mencoba menghargai keputusan Carina untuk merahasiakan hal ini sementara waktu walau sebenarnya ia juga ingin menyusul serta memeluk putrinya yang ada di rumah Calvin. “Carina sekarang gimana keadaannya?” Tanya Alvaro saat ia dan Calvin berjalan keluar. “Terakhir sih tadi masih shock banget, tapi aku udah minta mbak Asih buat jagain dia,” jawab Calvin. “Makasih udah cepet nyariin dia, Vin,” ungkap Alvaro yang menyiratkan kepedihannya. “Oh ya, senjata apa memangnya yang Abang punya buat membungkam pejabat negara?” Tanya Calvin penasaran. “Bokapnya dia punya usaha yang ngelanggar norma dan mau ngajakin kerjasama hotel,” jawab Alvaro yang masih belum membuat Calvin paham. “Dunia makin gila, Vin. Banyak anak muda yang mau punya duit cepet, tapi gak mau usaha keras. Usahanya pak Fahri tuh yang memfasilitasi mereka.” “Maksudnya, Bang? Gak paham, nih!” “Kamu tahu ani-ani?” Calvin berpikir sejenak lalu mengangguk agak ragu. “Pak Fahri punya agensi yang menyalurkan para ani-ani ke gadunn-gadunn, gitu. Agensinya ngajak kerjasama hotel Abang, biar kalau ada penggerebekan, hotel bisa melindungi mereka, kasih jalan buat kabur gitu. Ya mana Abang mau? Dosa kok ngajak-ngajak?” Jelas Alvaro kesal. “Astaghfirullah,” balas Calvin lirih. “Banyak sih hotel yang udah kerjasama sama mereka, terutama hotel-hotel diatas bintang empat, tapi sekali lagi, dosa Abang udah banyak masa’ mau nambah ikut-ikutan yang begini? Bisa makin lama di hisabnya,” lanjut Alvaro. “Aku baru tahu loh Bang kalau yang begitu itu ada agensinya.” “Bahkan buat ngerayu Abang biar setuju sama proposalnya, mereka pernah beberapa kali ngirim ani-aninya buat godain Abang. Jangan bilang kakak kamu, ya!” “Kenapa? Abang ada main gitu sampai gak boleh bilang sama Kak Renata?” “Eits, enak aja! Ya enggak, lah! Mana berani Abang main gila begitu, bisa disuntik mati sama kakakmu,” kekeh Alvaro. “Mendingan Renata gak usah sampai tahu daripada ribut-ribut, ntar! Lagian Abang juga selalu kabur kalau tahu ada dikirimin cewek-cewek begitu. Mana kebanyakan dari mereka umurnya gak jauh dari Carina, lagi. Kan berasa pedo kalau ditanggepin.” Calvin pun tergelak dengan penjelasan kakak iparnya tersebut. Dunia memang semakin gila, dan kebutuhan serta gaya hidup warga kota yang hedon membuat kegilaan itu semakin menjadi-jadi. “Bokapnya punya banyak stok cewek, masih aja gangguin anak orang,” cibir Calvin kemudian. “Padahal tinggal pilih yang udah tersedia ‘kan ya?” Tambah Alvaro menguatkan. “Yaudah Bang, aku mau ke mall dulu beliin baju ganti buat Carina,” ujar Calvin berpamitan. “Inget janjinya, ya! Pura-pura gak tahu dan kaget ntar kalau Carina cerita. Aku gak mau dia marah sama aku.” “Iya, iya! Aman pokoknya. Makasih sekali lagi!” Keduanya pun berpisah di area parkir dan menuju mobil masing-masing. Saat Calvin bergerak menuju pusat perbelajaan untuk memenuhi janjinya, Alvaro melajukan kendaraannya menuju salah satu gedung kementrian demi menyelesaikan masalah ini hingga keakarnya. Senjata yang pria itu miliki sangat cukup untuk menekan orang tua Bagas agar tidak menghalangi proses hukum yang sedang berlaku. >>>> 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN