PRANGG
Saat hampir berhasil meraup bibir Carina dan memulai aksi bejatnya lebih jauh, tiba-tiba kaca disamping kemudi mobil super mahal itu pecah dihantam oleh tabung pemadam kebakaran berwarna merah. Hal itu membuat dua orang yang ada didalam mobil memalingkan wajah dan melindungi dirinya sendiri. Mereka sama-sama terkejut, terlebih Carina yang tubuhnya juga gemetar karena ketakutan.
BRAKK
Pintu dibuka dengan paksa dan tanpa aba-aba seseorang menarik serta menyeret tubuhnya keluar.
BUGH
“Bangsaat!”
Tubuh Bagas terjerembab seiring dengan umpatann yang keluar dari orang yang menariknya. Satu dua pukulan juga mendarat di pelipisnya yang kini terlihat lebam.
“Mas, sudah biar kami yang amankan! Jangan dipukul lagi, nanti malah masnya yang kena masalah,” ujar salah seorang pria paruh baya berseragam security sambil menahan bahu pemuda yang tak lain adalah Calvin.
Dengan napas yang masih terengah karena marah, Calvin menahan emosinya yang memuncak. Untung saja pemuda itu bisa langsung menyusul keponakannya sekaligus membawa beberapa security untuk menyisir area parkiran. Tatapan penuh kebencian tak sedikitpun ia lepaskan dari Bagas yang cukup babak belur dibuatnya.
Dua orang lain yang ikut bersama Calvin langsung menahan Bagas yang memberontak.
“Berengsek! Jangan sentuh gue! Kalian gak tahu gue siapa, hah? Gue tuntut lo satu-satu, terutama lo, baj*ngan,” teriak Bagas tak merasa bersalah sambil menunjuk-nunjuk Calvin.
“Tuntut aja! Lo pikir gue takut sama anjg macem lo?” Tantang Calvin tak gentar sedikit pun.
“Gelandang dia ke kantor polisi, pak! Saya akan menyusul nanti,” pinta Calvin lebih sopan pada para security yang membantunya.
“Atas dasar apa lo ngelaporin gue? Lo gak punya bukti! Tempat ini gak ada CCTV dan siapa pun dari kalian yang berani bantuin dia, gue bakal bikin perhitungan sama kalian,” ancam Bagas yang masih cukup sulit untuk disingkirkan meskipun sudah ada dua orang yang menyeretnya.
Calvin tersenyum miring lalu berbalik badan dan memasuki mobil yang kacanya sudah ia hancurkan sebelumnya. Meskipun tangannya bergerak mengambil sesuatu dari balik kaca spion tengah, netranya tak sedikit pun lepas dari Carina yang tengah menangis tersedu-sedu dalam keadaan yang sangat berantakan ditempatnya. Sebelum keluar dan mengurus Bagas kembali, Calvin mengulurkan tangannya untuk memperbaiki posisi pakaian serta hijab sang keponakan yang terlepas.
“Tunggu sebentar, aku ngurus dia dulu, ya,” lirih Calvin yang dibalas anggukan mengerti gadis yang tengah mendekap erat tubuhnya tersebut.
Calvin kembali keluar lalu menunjukkan benda yang tadi diambilnya dari dalam mobil, sebuah memory card dari kamera black box yang memang terpasang di sebagian besar mobil sebagai pengamanan.
“Gue amananin rekaman kamera ini dan lo gak bakal bisa lepas dari semua tuduhan,” sinis Calvin.
Bagas sedikit diam, pasalnya ia bahkan lupa dengan keberadaan kamera yang tidak hanya merekam kondisi jalanan diluar, tetapi juga keadaan didalam lengkap dengan setiap pembicaraan orang didalamnya.
“Berengsek,” umpat Bagas sekali lagi.
Kedua security terus menggelandang pemuda yang seumuran dengan Calvin tersebut meskipun kesulitan. Setelah ketiganya menjauh, barulah Calvin memutari mobil yang ia rusak dan membuka pintu samping tempat Carina berada. Gadis itu langsung memeluknya dengan sangat erat dan suara yang masih terisak.
“Sssttt...udah, dia udah pergi,” ujar Calvin sambil menepuk-nepuk punggung keponakannya. “Kamu ada yang luka, gak?”
Carina masih sesenggukan dan tak bisa berkata-kata. Ia hanya mampu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Lelehan air mata bahkan sampai membasahi bahu Calvin dan mengubah warna kemeja yang dikenakan berubah menjadi lebih gelap.
Calvin terus menepuk-nepuk punggung Carina, menunggu sampai perasaan serta emosi gadis itu mereda. Bibirnya juga tak henti mengucapkan kalimat-kalimat dukungan untuk membesarkan hati keponakannya. Meskipun demikian, otaknya terus bekerja memikirkan bagaimana ia harus mengurus pria berengsek yang hampir saja membuat Carina kehilangan kehormatannya dan Calvin pun pasti akan sangat menyesal karenanya.
“Kita pulang, ya,” bujuk Calvin yang sekali lagi dibalas gelengan Carina. “Kenapa gak mau?”
Carina mengendurkan pelukannya hingga tampaklah wajah kacau yang sudah bengkak akibat menangis tersebut. Calvin melirik kearah dasbor mobil dan mengambil tisu lalu membersihkan wajah gadis itu.
“Kk-kalau pulang, ayah sama bunda nanti tahu,” jelas Carina yang sesekali masih sesenggukan.
“Mereka harus tahu, kamu gak bisa sembunyiin ini dari mereka,” sanggah Calvin lembut.
Sekali lagi Carina menggeleng, “jangan bilang dulu! Aa-aku gak mau ngerusak aca-ra ulang tahunnya Di-va.”
“Kamu lagi kena musibah gini, masih sempet mikirin orang lain,” dengus Calvin seraya menghela napasnya panjang.
“Bilangnya nan-ti aja biar gak ganggu,” tambah Carina.
“Yaudah, kalau gitu ke rumahku aja. Kamu bersih-bersih, istirahat, nanti aku beliin baju juga,” usul Calvin.
“Rr-rumah Om?” Carina membeo seraya menghapuskan sisa air matanya.
“Iya, mau?”
Carina pun mengangguk mengiyakan. Setelah itu, keduanya pun meninggalkan lokasi kejadian menggunakan mobil yang Calvin bawa.
>>>>
Rumah yang Calvin maksudkan adalah rumah peninggalan dari mendiang opanya. Sampai saat ini masih ada dan telah berganti nama kepemilikan menjadi nama Calvin sejak pemuda itu berusia delapan belas tahun. Namun, ia masih belum tinggal disana demi menghargai keluarga angkatnya. Ia tidak ingin dicap sebagai kacang yang lupa kulitnya setelah bisa mengambil alih warisan yang memang utuh untuknya tersebut.
Hanya perlu waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah yang berada di kawasan perumahan elit tersebut. Penjaga gerbang yang sudah hapal dengan mobil Calvin pun langsung membukakan pagar dan mempersilakannya masuk. Calvin memang beberapa kali mengunjungi rumah yang saat ini hanya dihuni oleh ART serta penjaga tersebut. Bahkan tadi ia juga sempat menghubungi mbak yang mengurus rumahnya mempersiapkan tempat untuk Carina beristirahat.
“Kamar yang mana, Mbak?” Tanya Calvin yang masih memapah Carina tepat setelah pintu dibuka untuknya.
“Sini, Den,” jawab Mbak Asih seraya menunjukkan kamar yang sudah bersih dengan segera.
“Ini rumah, om?” Tanya Carina lirih. Gadis itu memang belum pernah berkunjung karena Calvin belum pernah mengajaknya.
“Iya, kamu istirahat, ya! Kalau butuh apa-apa, minta tolong ke Mbak Asih, aja,” jelas Calvin.
“Om mau kemana?” Tanya Carina lagi.
“Ngurusin baj*ngan itu ke kantor polisi sekalian beliin kamu baju,” jawab Calvin. “Baju ini nanti buang aja, aku gak mau kamu keingetan terus sama kejadian tadi.”
Carina pun mengangguk mengiyakan tanpa banyak bertanya apalagi protes. Gadis yang biasanya begitu ceriwis tersebut sepertinya masih cukup shock dan itu sangat wajar.
Calvin kemudian menitipkan Carina pada ART-nya sebelum kemudian pergi meninggalkan rumah besar tersebut. Ia bergerak menuju kantor polisi bersama barang bukti yang sudah dikumpulkannya. Namun, selama dalam perjalanan ia juga menghubungi Alvaro untuk segera menyusulnya meskipun tidak menceritakan tentang kejadiaan naas yang menimpa putri sulung pria paruh baya tersebut. Akan sangat berbahaya jika membuat Alvaro emosi selama menuju kantor polisi nantinya.
>>>>
Sepasang langkah kaki tegap berbalut pantofel turun dari kuda besi produksi Eropa yang telah terparkir di halaman kantor polisi. Sebelum memasuki gedung dihadapannya, Alvaro sempat menyebarkan pandangan ke segala penjuru seperti sedang bernostalgia dengan tempat yang pernah begitu disukainya tersebut. Meskipun bukan kantor polisi ini tempatnya dulu bertugas, namun dulunya ia juga cukup sering berkunjung kesini. Setelah puas melihat-lihat, ia mulai berjalan menuju lobby depan dan sudah ada adik iparnya yang menunggu disana.
“Ada apa? Kamu gak bikin masalah ‘kan sampek Abang harus kesini?” Tanya Alvaro tanpa basa-basi.
Calvin menghela napasnya kasar, lalu menarik lengan Alvaro untuk duduk di kursi sofa sebelahnya. Setelah itu barulah mengalir cerita tentang kejadian tadi sekaligus memberikan barang bukti pada Alvaro.
Pria paruh baya itu sangat marah, terlihat dari napasnya yang tersengal, kulitnya yang merah padam, serta jemari yang mengepal kuat. Ayah mana yang sanggup menghadapi fakta bahwa putri mereka telah dilecehkan oleh pemuda tak bertanggung jawab?
“Dimana si berengsek itu?” Tanya Alvaro sambil menggeram dan mengeraskan rahangnya.
“Didalem, lagi diinterogasi,” jawab Calvin. “Aku juga harusnya disana buat kasih keterangan saksi, tapi tadi udah izin buat nolongin Carina dulu. Maafin aku, Bang. Harusnya aku bisa jagain Carina, tapi malah kecolongan.”
Alvaro menghela napasnya kasar lalu menepuk pelan bahu adik iparnya, “kamu udah berusaha, gak perlu nyesel. Makasih udah buru-buru nyariin Carina.”
“Nanti Abang beneran pura-pura belum tahu, ya! Carina bakalan ngomong sendiri setelah acara keluarga nanti, dia gak mau Abang sama Kak Rena khawatir dan gangguin acara keluarga,” pinta Calvin yang dibalas anggukan mengerti pria paruh baya disampingnya.
“Yaudah, ayo masuk,” ajak Alvaro seraya berdiri dari tempatnya. “Coba aja gak di Kantor Polisi, udah gue habisin tuh bocah,” gerutu pria itu yang disaat-saat tertentu masih sering menggunakan kalimat gaulnya saat berbicara.
>>>>