Heliotrope 06

1707 Kata
Beberapa saat sebelumnya. Tak seperti biasanya, hari ini Carina memilih untuk menghabiskan istirahat makan siangnya di kantin perpustakaan pusat yang tak jauh dari gedung fakultasnya. Selain terdapat banyak pilihan makanan mulai dari jajanan kaki-lima hingga restoran disekitar bangunan itu, nantinya Carina juga berencana untuk mencari referensi untuk tugas yang dosennya berikan. Anggap saja sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Tak hanya sendiri, ia berkunjung ke gedung yang selalu ramai itu dengan sahabat baiknya, Nia. Keduanya bahkan seperti tak terpisahkan saat sedang di Kampus. “Mau makan apa?” Tanya Carina sambil mengabsen setiap stand penjual makanan. “Pengen mie yamin deh kayaknya,” jawab Nia memutuskan. “Lo?” “Nasi rames aja,” balas Carina. Keduanya kemudian memesan makanan dari penjual yang berbeda dan memilih untuk duduk didekat pintu keluar-masuk perpustakaan. Sembari menunggu, mereka saling berbincang dan membahas tentang tugas yang akan keduanya kerjakan nanti. Sampai kemudian suara seseorang menginterupsi obrolan mereka. “Carina, ya?” Tanya orang itu menyapa. Baik Carina maupun Nia menelengkan kepalanya dan menatap pemuda yang sedang menunggu jawaban tersebut. Kedua netra Carina membesar saat ia mampu mengenali sosok tersebut dan balas menyapanya. “Kak Bagas?” Tanya Carina balik. “Kok kakak disini? Bukannya lagi kuliah di US, ya?” Keduanya pun saling berjabat tangan dan pemuda bernama Bagas itupun mengambil duduk disebelah Carina. Namun, seperti biasa gadis itu akan tetap memberikan jarak dan tak membiarkan lawan jenis untuk terlalu dekat dengannya. “Sepupu mau nikah minggu depan, disuruh balik dulu,” jelas Bagas ramah. “Heum, kalau Sultan sih bolak balik Amerika – Indonesia udah segampang Depok – Bogor gitu, ya,” seloroh Carina yang membuat keduanya terkekeh. “Oh ya Kak, kenalin ini temenku namanya Nia. Nia ini Kak Bagas, senior waktu gue ikut Olimpade pas SMA dulu.” Bagas dan Nia pun saling berkenalan dengan ramah. Penampilan Bagas yang terlihat keren serta modis membuatnya begitu mudah diterima oleh orang-orang baru. Mungkin itulah yang dinamakan keuntungan menjadi good looking. Apalagi dengan aura konglomerat yang terlihat dari barang-barang yang Bagas kenakan, membuatnya akan semakin mudah membaur dengan siapapun yang diinginkannya. “Terus Kak Bagas ada urusan apa Kampus sini?” Tanya Carina lagi. “Adek gue kuliah disini juga, tadi minta dianterin barangnya yang ketinggalan. Ada di Perpustakaan dia,” jelas Bagas yang hanya dibalas oh panjang oleh Carina dan Nia. “Kalian lagi makan siang, ya?” Tanya Bagas kemudian setelah pesanan kedua gadis itu sampai diatas meja. “Iya. Kak Bagas mau makan siang juga? Eh, tapi disini cuma makanan kaki lima, sih. Kalau mau yang ala resto ada didalem gedung, Kak,” jelas Carina. “Thanks for offering, tapi abis ini gue mau ketemu temen-temen di Cafe,” balas Bagas yang membuat Carina manggut-manggut. “Eh, gimana kalau lo ikut aja? Gue ketemu temen-temen yang dulu karantina bareng sama kita, nih. Masih ingat Merry, Diana, Galang, Johan, dan yang lainnya, ‘kan?” Carina tersenyum garing, “inget sih, tapi udah gak pernah kontek-kontekan lagi.” “Lo sih, abis lomba langsung ilang,” cibir Bagas. “Ikut yuk, sekalian reuni. Jarang-jarang bisa kumpul gini.” “Tapi gue,-” “Lo ada kelas ya abis ini?” Tanya Bagas memotong kalimat Carina dan menunjukkan wajah kecewanya. “Gak ada Kak, lagi jam kosong. Bawa aja ini Carina, tapi balikin utuh, ya,” sahut Nia bersoloroh yang membuat Carina membelalakkan mata protes padanya. Akhirnya, karena merasa tidak enak dan tidak memiliki alasan untuk menolak, Carina pun setuju mengikuti ajakan Bagas. Tentu saja sebelumnya ia telah memberitahukan posisinya pada sang paman agar tidak membuat pemuda itu bingung. Bagaimanapun, saat sedang di Kampus Calvin memang memiliki tanggung jawab untuk menjaga Carina. Itu adalah pesan yang selalu Alvaro tegaskan sejak Calvin dan Carina masuk di Universitas yang sama. >>>>  Sport car produksi Ford berwarna merah menyala itu mulai membelah jalanan meninggalkan area Kampus yang asri karena dikelilingi oleh hutan. Kapasitasnya yang hanya untuk dua orang itu membuat Carina mau tidak mau harus duduk disamping kursi kemudi. “Gimana kabar lo beberapa tahun ini?” Tanya Bagas basa-basi. “Alhamdulillah baik, Kak meskipun cukup hectic sama kegiatan kampus,” jawab Carina. “Kak Bagas sendiri gimana? Nyaman dong pastinya kuliah di negeri orang?” Pemuda itu tersenyum simpul, “gak sebaik kelihatannya, masih sering kangen.” “Bukannya udah hampir lulus ya Kak? Masih sering homesick?” “Bukan kangen sama rumah, kangen sama orang-orangnya, termasuk lo juga.” Carina tak bisa menimpali kalimat tersebut. Entah apa maksudnya, tetapi yang pasti hal itu memberikan sinyak negatif pada otak gadis sembilan belas tahun tersebut. Ia pun hanya bisa menanggapi dengan tersenyum getir tanpa berkata apapun lagi. “Lo udah punya pacar, Rin?” Tanya Bagas kemudian. “Atau masih sama prinsip lo yang dulu?” “Untuk hal itu, gue gak pernah berubah, Kak. Sayang aja buang-buang waktu buat pacaran gak jelas, lagian juga pacaran dilarang sama agama,” jelas Carina jujur. “Muna,” gumam Bagas seraya tersenyum miring yang sama sekali tak disadari oleh Carina. “Seriusan gak ada cowok yang bikin lo tertarik buat mengenal lebih jauh? Sejujurnya, gue masih cukup berharap lo mau nerima gue, Rin. Memangnya apa sih kurang gue dimata lo?” Carina menggeleng singkat serta mengulas senyum simpulnya, “gak ada. Gak ada yang kurang dari kualitas lo, Kak. Hanya saja gue memang belum berminat untuk punya pacar saat ini. Orientasi gue jangka panjang, bukan untuk main-main. Sementara masa depan gue masih panjang juga, daripada pacaran buang-buang waktu, ngalihin fokus yang sebenarnya bisa buat ngerjain hal yang lebih bermanfaat, mendingan gue single terus.” Bersamaan dengan berakhirnya kalimat tersebut, secara tiba-tiba Bagas membelokkan kemudinya kearah kanan padahal seharusnya mereka bergerak lurus. Hal ini langsung membuat Carina meningkatkan waspadanya. “Kok kesini Kak? Bukannya tadi bilang mau ke Kafe Bintang?” Tanya Carina menyelidik. “Ke Apartemen dulu, gue lupa bawa dompet,” kilah Bagas. Tanpa sengaja netra Carina menatap sebuah benda yang terbuat dari kulit teronggok disamping persneling dan ia langsung mengambilnya. “Ini dompetnya,” Carina menunjukkan benda yang cukup tebal itu yang langsung disahut oleh Bagas dengan sangat cepat. “Bukan yang ini. Cuma ada kartu-kartu lama aja di dompet ini,” sahut Bagas tanpa menatap wajah Carina yang menyelidik. “Jangan lama-lama Kak, gue ada acara keluarga nanti,” balas Carina tanpa mengalihkan perhatiannya dari ekspresi Bagas yang tenang dan santai. “Iya, cuma ngambil dompet doang kok.” Bagas kembali mengalihkan pandangannya pada Carina sekilas sambil tersenyum lembut sebelum kembali fokus pada jalanan yang agak padat. Anehnya, ekspresi tenang dan santai itu malah membuat suasana didalam mobil terasa semakin dingin untuk Carina. Menyadari ada sesuatu yang ganjal, Carina mengirim pesan SOS pada Calvin dengan terburu-buru. Tak lupa ia juga mengirimkan lokasi terkini serta menghidupkan GPS-nya agar bisa dipantau secara real time oleh Calvin. Ia melakukannya secara diam-diam agar Bagas tidak curiga. Tak berapa lama kemudian, mobil pun memasuki area basement salah satu apartemen elit khusus mahasiswa berdompet tebal. Area parkir yang Bagas pilih berada di lantai yang cukup bawah dan hal ini semakin membuat Carina merasa curiga. Jika keduanya hanya akan mampir sebentar, bukankah tidak perlu masuk ke area parkir basement? Parkiran di halaman apartemen juga cukup luas. “Weekend kemarin lo ke Puncak, ya?” Tanya Bagas seraya memarkirkan mobilnya dibagian pojok yang cukup sepi. Carina mendekap erat sabut pengamannya dan menatap Bagas penuh tanya, “darimana Kak Bagas tahu?” Pemuda itu telah mematikan mesin mobil serta melepas sabuk pengamannya. Ia juga memutar posisi duduknya kesamping hingga berhadapan langsung dengan Carina. Bagas juga mengunci mobil itu dari dalam serta menutup semua ventilasi yang sebenaranya sangat berbahaya. Hanya saja, pemuda itu tidak ingin suara mereka terdengar oleh orang diluar, meskipun kenyataannya area parkir itu sangat sepi. Bahkan tempatnya memarkirkan mobil juga berada dititik buta kamera pengawas. “Jadi bener, lo tuh munafik, ya?” Tanya Bagas sambil tersenyum menyeringai dan membuat Carina semakin kebingungan. “Bilangnya gak mau pacaran, gak mau deket-deket cowok, eh ternyata malah nginep sama dua cowok sekaligus.” Napas Carina tercekat, namun ia sudah sangat hapal dengan situasi seperti ini. Menjadi korban bully selama bertahun-tahun membuatnya belajar bagaimana cara menghadapi intimidasi orang yang sengaja mencari kelemahannya. Ia berusaha untuk terus menatap lurus netra hitam Bagas tanpa takut meskipun sebenarnya sangat gelisah. Bagas tergelak dan semakin menunjukkan seringainya. Ia juga semakin mendekat pada tubuh Carina yang terpojok. Gadis itu tak bisa kemana-mana meskipun sejak tadi berusaha untuk membuka pintu mobil untuk melarikan diri. Sebelah tangan Bagas terulur membelai pipi Carina yang langsung ditampik oleh gadis itu. “Ll-lo mau apa? Jj-jangan deket-deket dan buka pintunya!” Pinta Carina yang tanpa ia sadari terucap terbata. “Berapa tarif lo, gue juga pengen ngerasain.” Sekali lagi Bagas menyentuh pipi Carina yang tak lagi bisa gadia itu tampik karena Bagas mengunci kedua tangan Carina dengan tangan lainnya. Satu-satunya yang bisa Carina lakukan adalah memalingkan wajah yang justru membuat Bagas mencengkeram hijab berwarna abu-abu yang dikenakannya hingga berantakan. “Tampang doang alim, tapi dalemnya busuk,” cibir Bagas yang terus mendekatkan wajahnya. “Ll-lepasin gue, please!” Pinta Carina sekali lagi. “Enak aja! Gue belum mulai, Rin,” kekeh Bagas. “Jadi, lo mau disini atau di unit gue? Lebih enak diatas, lebih luas, gimana? Tapi lo jangan sok jual mahal lagi, ‘kan udah ketahuan murah sama gue.” Bagas terus memaksa Carina untuk melakukan keinginannya. Ia bahkan berhasil membuat penampilan gadis itu menjadi acak-acakan karena terus melawan hingga menangis memohon untuk dilepaskan. Akan tetapi sepertinya pikiran pemuda itu sudah tertutup oleh awan abu-abu hingga tidak mendengar rintihan dari korbannya. Bagas juga telah berpindah posisi ke tempat Carina berada hingga gadis itu benar-benar terjepit dan tak bisa melawan. Selain tempat yang sangat sempit, tangannya juga terus dicengkeram hingga menimbulkan ruam kemerahan. Bahkan Bagas juga menduduki paha Carina hingga gadis itu tak bisa berkutik sama sekali. “Kak, please lepasin gue! Jangan gini, kak. Gue tahu kak Bagas bukan cowok berengsek seperti ini, please kak!” “Cih, gue bakalan tetep baik kalau lo bener-bener sealim alibi lo, tapi karena lo ternyata murahan, buat apa gue ngebaik-baikin cewek yang alim Cuma di casingnya doang?” Pemuda itu tersenyum miring dan kini mencengkeram erat rahang Carina. Ia semakin mendekatkan wajahnya meskipun terus dilawan, hingga, PRANGG >>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN