Sama seperti sebelumnya, meskipun dari rumah Calvin dan Carina berangkat bersama, namun gadis itu akan berhenti di Stasiun dan menggunakan kereta rel listrik untuk menuju kampusnya. Hal ini sudah berlangsung sejak Carina mulai berstatus mahasiswa.
Hebatnya, tak satu pun dari kedua orang tuanya yang mengetahui jika Carina serta Calvin selalu melakukan hal ini. Mereka tahu jika Carina pernah menjadi korban bully, namun tidak pernah menduga jika gadis mereka akan memilih cara ini untuk melindungi dirinya. Calvin sempat hampir memberitahu kakak dan kakak iparnya, tetapi Carina melarang karena ia tidak ingin orang tuanya khawatir, maka dari itu Calvin selalu meminta sang keponakan untuk selalu mengabarinya jika ada sesuatu yang mencurigakan. Tak terkecuali hari ini.
Saat jam istirahat siang ini, Calvin bersama teman-temannya melipir ke area kantin setelah menunaikan kewajibannya. Empat sekawan ini memiliki satu spot tersendiri yang berada dibagian ujung belakang kantin. Meskipun mereka bukanlah geng yang dikenal bandel, nyatanya tak ada mahasiswa lain yang berani mengambil tempat yang secara tidak langsung telah kawanan ini klaim setiap jam makan siang.
“Eh, kemarin gue ditawarin Kak Sherly kuliah kerja di Unilever. Dia ‘kan posisinya udah lumayan tinggi disana, bisa bantuin gitu kalau gue mau,” ujar Vino, teman Calvin yang memiliki model rambut cepak.
Saat ini mereka memang tengah membicarakan tentang rencana kuliah kerja untuk semester depan. Ada yang akan ke BUMN dan juga perusahaan multinasional. Calvin sendiri masih belum memutuskan karena memang belum sempat bertemu dengan dosen pembimbingnya.
“Kak Sherly mantan gebetan lo pas jaman maba?” Tanya Calvin memastikan dan dijawab senyum cengiran teman satu gengnya tersebut.
“Aseekkk, masih lanjut nih kayaknya,” goda Erland sambil menimpuk bahu Vino.
“Dia udah mau nikah,” sahut Vino seraya tersenyum penuh arti. “Tapi masih pacaran sama gue, gara-gara dia gak suka sama laki yang dijodohin itu.”
“Astaghfirullah,” gumam Calvin.
“Sok alim lo,” cibir Vino dan hanya dibalas Calvin dengan senyum getir.
“Kok lo mau sih dijadiin selingkuhan?” Tanya Lingga.
“Gue yang lebih dulu pacaran sama Kak Sherly, bukan selingkuhan, lah,” sahut Vino membela diri.
“Tapi dimata orang, lo adalah orang ketiga dihubungan mereka, Vin,-”
“Vino! Please lengkapin jadi Vino, jangan Vin doang! Gua gak mau kecipratan,” seloroh Calvin memotong ucapan Erland.
Vino pun membalas pemuda itu dengan memutar kedua bola matanya.
“Iya, Vino,” lanjut Erland memperjelas. “Lo gak keberatan diomongin orang?”
“Peduli amat sama orang, yang penting gue sama Kak Sherly nyaman,” sahut Vino sambil mengedikkan bahunya.
“Yaudah sih kalau kalian nyaman,” balas Calvin yang ikut cuek. “Tapi gue cuma mau ngingetin, karma gak pernah salah sasaran, bro! Gue bukti hidupnya.”
Cerita mengenai ibunya membuat Calvin menjadi begitu berhati-hati dalam mengelola perasaan dan juga perilakunya. Sebenarnya, keluarga angkat Calvin tidak ada yang memberitahu secara detail bagaimana perangai mendiang ibu kandung pemuda itu, tetapi karena terlalu penasaran, Calvin pun menyelidikinya sendiri hingga semua fakta masa lalu itu terbuka lebar dimatanya. Sejak saat itulah Calvin berjanji untuk bisa menjauhkan dirinya dari perbuatan zina agar tak ada korban lain seperti dirinya yang tercipta.
“Permisi, Kak! Boleh ngomong sebentar?”
Seorang gadis modis dengan rambut tergerai sepunggung yang tiba-tiba sudah ada ditengah-tengah kerumunan para pria ini. Pertanyaan yang ia lontarkan mampu membawa Calvin kembali pada kesadarannya setelah sedikit melamun.
“Ngomong aja! Mau sama siapa?” Tanya Lingga antusias.
Gadis itu adalah adik tingkat mereka yang cukup populer karena kecantikannya. Tak heran jika para pria ini langsung memusatkan perhatiannya pada gadis bernama Nashira tersebut, kecuali Calvin yang mampu menjaga pandangannya dengan fokus menatap jus buah diatas meja.
“Sama Kak Calvin,” jawab Nashira malu-malu. “Boleh minta waktunya sebentar, ‘Kak?”
Calvin menatap gadis itu dengan sebelah alis yang terangkat. “Gue?”
Nashira mengangguk.
“Ngomong aja, gue dengerin,” pinta Calvin yang justru membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.
“Berdua, Kak,” cicit Nashira.
Calvin mengembangkan senyum teduhnya, “maaf, ya! Gue gak bisa kalau berdua, takutnya ada setan lewat, bahaya! Ngomong disini sama aja, ‘kan?”
“Gak peka banget sih lo, Vin,” cibir Vino.
“Tau, tuh! Udah sana, kasian dia nahan malu gitu,” tambah Lingga.
“Jadi mau ngomong, gak?” Tanya Calvin dengan tenang. Ia mengabaikan sindiran teman-temannya.
“Yaudah deh, disini aja.”
Nashira tampak pasrah dan menghela napasnya panjang. Ia kemudian merogoh tas tangannya mengambil sebuah kotak berhiaskan pita lalu mengulurkannya pada Calvin.
“Ini buat Kak Calvin! Diterima ya Kak,” ujar Nashira dengan senyum mengembangnya.
“Gue gak lagi ulang tahun, kenapa ngasih kado?” Tanya Calvin yang membuat teman-temannya kesal.
“Ternyata b**o sama gak peka bedanya tipis, ya?” Seloroh Lingga yang disetujui ketiga teman lainnya.
“Kasih kado ‘kan gak harus pas ulang tahun, Kak,” kesal Nashira yang pemberiannya masih belum juga diambil oleh Calvin. “Diambil, dong! Pegel nih tangan gue pegang terus, Kak!”
Calvin sedikit menyipitkan matanya yang sudah lebih sipit tersebut, “gak lah, ntar ada maksud tersembunyi kalau gue terima.”
“Kayak bakalan dipelet aja,” canda Erland.
“Yaelah, Kak! Serius ini gue gak ada maksud apa-apa,” sahut Nashira frustrasi. “Lagian ada maksud juga bakalan ditolak, ‘kan?”
“Sok tahu! Belum dicoba udah nyimpulin,” dengus Calvin.
“Serius?” Nashira tampak berbinar antusias.
“Gak juga, sih,” sahut Calvin dengan cengirannya dan membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Hadiahnya gue terima karena gue menghargai niat lo, tapi kalau ada maksud-maksud lain, maaf banget gue gak bisa.”
Calvin mengambil kotak kado yang sejak tadi disodorkan untuknya dan menyimpan benda itu kedalam tas punggungnya.
“Nah, ‘kan! Sudah gue duga,” sedih Nashira. “Kenapa sih Kak Calvin gak pernah mau terima kita-kita? Bilang dong, kurangnya kita dimana biar bisa sesuaiin sama standarnya Kak Calvin.”
“Nembak gue aja, pasti diterima,” seloroh Lingga yang langsung mendapatkan sorakan dari teman-temannya.
Calvin tersenyum simpul. Sebuah senyum yang mampu menggetarkan hati setiap gadis yang melihatnya.
“Gak ada yang perli dirubah kok, Nash. Gak usah ngikutin standar gue, karena gue aja gak punya standar. Memang hatinya aja yang belum tergerak buat masuk ke ranah sana,” jelas Calvin.
“Dicoba dulu deh, kak! Siapa tahu ‘kan pelan-pelan hatinya tergerak,” bujuk Nashira.
“Makasih tawarannya, tapi serius gue belum bisa,” tegas Calvin meskipun dengan nada yang halus.
Ddddrrrttt dddrrrttt
Tepat setelah mengucapkan kalimat tersebut terdengar getar dari ponsel Calvin yang ia letakkan diatas meja. Ia permisi sebentar pada teman-temannya karena akan menjawab panggilan telepon tersebut.
“Ponakan gue. Bentar, ya!”
Calvin pun menjauh dari teman-temannya agar pembicaraan dengan keponakan nomor satunya tersebut tidak terdengar oleh orang lain. Ia hanya tidak ingin diinterogasi jika sampai ada yang tahu bahwa Calvin memiliki keponakan sebesar Carina.
“Ya, Rin! Kenapa?” Tanya Calvin tepat setelah mengucap salam.
“Om, pas abis makan siang tadi gue ketemu temen semasa karantina Olimpiade dulu. Terus dia ngajakin gue ngobrol-ngobrol lebih lama tapi keluar, gak di kampus. Boleh, gak?” Tanya Carina setelah menjelaskan keadaannya.
Gadis itu memang selalu meminta izin pada Calvin agar tidak membingungkan pamannya itu.
“Keluar kemana? Emangnya kamu gak ada kelas abis ini?” Calvin menyelidik.
“Gak ada. Dosennya cuma ngasih tugas aja. Dia ngajakin aku ke Kafe Bintang,” jelas Carina.
“Sama siapa aja?”
“Dari sini berdua, tapi ntar katanya disana ketemu temen-temen yang lain.”
“Temen kamu cowok atau cewek yang ngajakin ini?”
“Jangan marah ya, om!” Sahut Carina hati-hati yang maknanya langsung Calvin pahami.
“Kamu udah dewasa, Rin. Bisa nentuin mana yang bener atau enggak. Kalau menurut kami ini aman, om gak apa-apa kamu pergi sama dia, tapi inget, selalu kasih kabar secara teratur! Kalau enggak, om aduin ke ayah kamu!”
“Ih, mulai deh ngancem-ngancem,” Carina terdengar mendengus. “Iya, iya. Gue bakal selalu on dan kasih kabar real time.”
“Yaudah, jangan sore-sore! Kamu gak lupa ‘kan kalau malam ini kita ada acara buat ulang tahunnya Diva?” Tanya Calvin mengingatkan. Diva adalah nama keponakan Calvin yang lain atau lebih tepatnya sepupu Carina, anak sulung Radit.
“Oh iya, hampir aja lupa! Thank you, Om udah ngingetin. Gue pergi dulu, ya! Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, hati-hati!”
“Iya.”
Sambungan telepon pun terputus. Calvin juga segera kembali menghampiri teman-temannya yang masih bercengkerama. Karena jam makan siang mereka telah usai, ia pun mengajak teman-temannya untuk segera kembali ke kelas.
>>>>
Mata kuliah kali ini diampu oleh dosen cukup disiplin. Beliau tidak mengizinkan segala bentuk keterlambatan, titip absen, ataupun ketidak seriusan didalam kelas, termasuk memainkan ponsel. Sayangnya, perhatian Calvin terus terbagi antara layar proyektor, penjelasan sang dosen, dengan ponsel yang ada digenggamannya. Untunglah ia memilih duduk cukup dibelakang, sehingga masih bisa secara sembunyi-sembunyi mengoperasikan gawai tersebut.
Hal ini dipicu oleh keponakannya yang tak juga memberi kabar. Seharusnya dari beberapa menit lalu ia sudah mendapatkan pesan mengenai keberadaan gadis itu, entah ia sudah sampai di Kafe Bintang ataupun belum. Kegusaran Calvin bertambah saat pesan-pesan singkat yang ia kirimkan hanya centang dua dan tak kunjung dibuka oleh Carina. Sampai kemudian, saat semua centang berubah menjadi biru dan balasan pesan dari Carina datang.
Ponakan No.1
[Om, hemput gw! Gw takuy]
Pesan penuh typo itu sempat sedikit membuat Calvin memutar otak. Namun, setelah ia bisa mencerna maksud sang keponakan, jantung Calvin seperti jatuh keperut. Belum lagi Carina juga mengirimkan lokasi terkininya yang ternyata berada diarea gedung apartemen tak jauh dari kampus.
Tanpa banyak basa-basi, Calvin langsung mengambil kunci mobil, memasukkan ponselnya ke saku, lalu meminta izin untuk ke Toilet yang sebenarnya hanya alibi saja agar bisa meninggalkan kelas. Pemuda itu bahkan meninggalkan tasnya begitu saja yang Calvin yakin akan diurus oleh teman-temannya. Fokusnya saat ini hanya satu, Carina.
>>>>