Heliotrope 04

1278 Kata
Akhir pekan ketiga bulan ini telah tiba, dan sesuai dengan kesepakatan beberapa hari sebelumnya, hari ini keluarga Renjana rencananya akan berangkat ke puncak untuk berkemah di pegunungan. Udara yang masih asri, wisata alam yang baru dibuka, dan suasana yang masih belum terlalu ramai menjadi daya tarik utama dari bumi perkemahan yang mereka kunjungi. Sejak kemarin sore mereka telah menyiapkan perlengkapan untuk berkemah, terutama bahan makanan yang nantinya akan mereka olah untuk acara barbecue. Tepat pukul tujuh kelimanya mulai meninggalkan rumah yang selama akhir pekan selalu dijaga oleh ART serta security. Meskipun rombongan ini berangkat cukup pagi, akan tetapi jalanan kearah selatan telah cukup ramai. Hal ini dikarenakan warga ibukota banyak yang memilih menghabiskan akhir pekan mereka kedaerah penyangga, terutama Bogor yang memiliki banyak lokasi wisata. Lebih dari dua jam kemudian rombongan ini telah sampai di lokasi tujuan. Adric sebelumnya sudah melakukan reservasi secara daring, sehingga mereka bisa langsung menuju lahan perkemahan yang mereka sewa. Lokasinya berada disekitar pepohonan cemara yang menguarkan aroma khas yang menenangkan. Belum lagi udara segar serta gemericik aliran sungai tak jauh dari tempat mereka berada membuat rasa lelah selama perjalanan langsung menghilang. Mereka tak perlu membawa tenda ataupun perlengkapan untuk beristirahat, karena pengelola sudah menyediakannya. Mereka bahkan bersedia membantu memasang tenda tersebut tanpa biaya tambahan. Acara berkemah ini lebih cocok disebut sebagai glamping atau glamour camping daripada kemah pada umumnya. Begitu proses administrasi selesai dilakukan, kelimanya mulai bekerjasama untuk menata tenda yang akan menjadi tempat mereka beristirahat malam nanti. Ketiga pria membersihkan area disekitar tenda. Sekitar menjelang dhuhur, semua pekerjaan telah selesai, dan kini mereka berkumpul didepan tenda untuk menyantap makan siang yang telah Renata dan Carina siapkan. Lokasi yang masih sangat alamai dengan semilir angin sejuk pegunungan membuat suasana santap siang kali ini menjadi sangat istimewa. “Openingnya tempat ini kapan sih, Dek? Masih belum terlalu ramai kayaknya,” tanya Alvaro pada putra bungsunya sambil memindai keadaan sekitar. “Baru minggu lalu, Yah. Promosinya belum terlalu masif mungkin,” jawab Adric seraya menggigit sosis bakar ditangannya. “Malah enak begini. Gak terlalu ramai bisa menikmati fasilitas tanpa desek-desekan,” sahut Renata puas. “Sayang, musholanya agak jauh. Susah kalau malem,” sambung Alvaro yang diangguki semuanya. “Abis sholat dhuhur kalian mau kegiatan apa?” Tanya Renata. “Flying fox, bunda. Aku lihat lumayan tinggi tadi, asik kayaknya,” jawab Carina bersemangat. “Jangan ajakin ayah kamu, dia ‘kan takut wahana yang begitu,” pesan Renata sambil menatap suaminya dengan senyum puas. “Itu ‘kan dulu. Keseringan nemenin kamu naik wahana ekstrim lama-lama berani juga,” bantah Alvaro tak terima. “Cuma flying fox ‘kan, Kak? Oke, ayah temenin!” “Awas mabuk, Bang,” seloroh Calvin yang disambut kekehan semuanya. Mereka semua paham jika Alvaro tidak menyukai kegiatan ekstrim, meskipun hanya flying fox. Sebuah kenyataan yang sangat tidak singkron dengan profesinya sebelum menjadi seorang pemilik hotel menggantikan papinya. “Aku mau main kuda juga, Bunda,” pinta Adric yang sejak tadi sudah menandai penangkaran kuda di lokasi itu. “Ya udah, abis flying fox kita berkuda,” ujar Renata menyetujui. “Calvin pengen main apa?” “Aku ngikut aja, Kak. Dua-duanya asik, kok,” jawab Calvin setelah menelan suapan terakhir makanan di sendoknya. Setelah membersihkan sisa-sisa makan siang, kelimanya bergerak ke mushola untuk menunaikan ibadah mereka. Kegiatan pun terus berlanjut seperti yang direncanakan hingga menjelang maghrib. Tampak sekali aura bahagia setiap kali keluarga ini menghabiskan waktunya bersama-sama seperti ini. Terlebih Alvaro juga selalu bisa membuat posisinya menjadi seperti teman untuk anak-anak dan juga adik iparnya, sehingga interaksi mereka pun terlihat lebih dekat dan bebas. Malam harinya, mereka melakukan barbecue serta membakar api unggun untuk menghangatkan udara yang semakin dingin di Puncak. Tak hanya keluarga Renjana saja, pengunjung lainnya pun ikut bergabung dan menikmati malam bersama. Mereka saling berkenalan, berinteraksi seperti layaknya makhluk sosial yang lain, saling berbagi makanan, bahkan saat malam semakin larut beberapa orang juga asik memainkan gitar serta bernyanyi bersama. Sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan. >>>>  Udara sejuk, gemericik air sungai, kicau burung, serta sinar sang surya yang malu-malu menampakkan dirinya dari balik ranting pepohonan menyambut pagi ini dengan cerah. Setelah menyelesaikan kegiatan pagi, olahraga kecil disekitar area perkemahan, serta sarapan, para pengunjung satu persatu mulai berkemas untuk meninggalkan lokasi wisata tersebut. Kesibukan serupa juga terlihat dari tenda yang disewa oleh keluarga Renjana. Selama Alvaro yang dibantu pengelola menyiapkan tenda serta Renata yang merapikan barang bawaan, Alvaro malah menyuruh kedua anak dan adik iparnya pergi menikmati waktu-waktu terakhir di lokasi ini. Alasanannya apalagi jika bukan untuk bisa berduaan dengan istrinya? Ketiganya pun langsung menurut dan pergi begitu saja. “Kak, turun kebawah, yuk! Ada air terjun kecil disana,” ajak Adric yang begitu bersemangat. “Airnya tinggi, gak?” Tanya Carina yang mengikuti sang adik. “Lihat dulu makanya,” sahut Adric tak sabar. “Adric, banyak batu sama akar, gak usah lari-lari!” Calvin memperingatkan. Remaja empat belas tahun itu memperlambat langkah kakinya dan menunggu sang kakak serta paman untuk bisa bersama-sama menuruni lereng. Sebagai penderita hemofilia yang diturunkan oleh bundanya, Adric sebenarnya juga kerap kesal karena semua orang begitu protektif padanya. Namun, ia juga tak bisa banyak melakukan protes karena Adric tahu jika peringatan-peringatan itu adalah untuk menjaganya. Setelah menuruni lereng berbatu yang tak terlalu curam tersebut, ternyata sudah ada beberapa orang yang menikmati waktunya disana. Beberapa menceburkan kakinya kedalam air yang sejuk, sebagian lainnya sibuk berswafoto mengabadikan momen. “Seru juga tempatnya, bersih lagi,” ujar Carina mengomentari. “Gak salah ‘kan pilihan gue?” Adric membanggakan diri. “Foto disana, yuk!” Calvin melangkah lebih dulu kearah bebatuan yang berhadapan langsung dengan air terjun setinggi tiga meter dibelakangnya. Ketiganya kemudian ikut melakukan swafoto seperti yang dilakukan wisatawan lainnya. Berbagai pose aesthetic hingga konyol mereka buat. Pose sendiri-sendiri, berdua secara bergantian, ataupun bertiga. Saat berfoto bertiga mereka memilih menggunakan mode wefie karena tidak ada yang memfotokan. Lokasinya pun berpindah-pindah yang membuat koleksi foto mereka menjadi semakin beragam. Tampak sekali aura ceria dari ketiganya, canda tawa tak lepas mengiringi setiap pose yang tercipta. Meskipun Adric baru berusia empat belas tahun, namun tinggi badannya sudah hampir sama dengan Calvin. Hal ini membuat ketiganya tampak seperti seumuran dimata orang awam. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang menatap ketiganya dengan tajam. Seulas senyum menyeringai terlihat sangat tidak cocok ditampilkan di tempat yang penuh dengan canda tawa serta keriangan ini. Namun, nyatanya hal itu tak menghalangi si pria untuk terus memperhatikan gerak-gerik ketiganya. “Dasar munafik,” gumam pria itu seraya berjalan menjauh. >>>>  Puas berswafoto dan bermain air dibawah, Calvin, Carina serta Adric kembali naik keatas lereng. Ketiganya sempat berhenti, menyilangkan lengan diatas perut, serta menatap kearah tenda yang telah rapi kembali serta sepasang paruh baya yang saling berangkulan penuh cinta. Usia pernikahan yang sudah dua puluh tahun lebih sepertinya tak sedikit pun mengurangi kadar cinta Alvaro dan Renata. “Beneran ngontrak nih kita, gak kelihatan,” ujar Adric mengomentari kemesraan kedua orang tuanya. “Padahal mereka udah kenal dari kecil loh, tapi sampai sekarang masih tetep aja bucin,” tambah Carina. “Maklumin aja, mereka pacarannya setelah nikah,” sahut Calvin yang terkadang juga iri melihat kemesraan kakak serta iparnya. Suatu hari nanti, ia juga ingin merasakan hal yang serupa. “Dikutip dari om Radit,” lanjut Carina dan Adric bersamaan. Sepertinya semua keluarga mereka sudah sangat hafal dengan kalimat yang tadi Calvin kutip. “Udah, yuk! Makin siang keluar, makin macet nanti!” Calvin mengajak kedua keponakannya untuk bergegas. Mereka pun kembali lagi ke Jakarta setelah puas bermain-main dialam bebas sejak kemarin. Kondisi jenuh setelah lima hari beraktivitas dengan padat seperti telah kembali normal dan siap untuk menyongsong hari esok yang dipastikan akan lebih sibuk. >>>>> 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN