Tak ada lagi semburat jingga di langit kala deru mobil terdengar memasuki area garasi rumah berlantai dua. Rumah dengan konsep green living ini ukurannya tak terlalu besar, namun sangat terasa aura kehangatan, kenyamanan, serta keasriannya. Berbagai jenis tanaman hias tumbuh subur dipekarangannya yang tak terlalu luas, begitu juga pohon mangga, jambu merah, serta kelengkeng yang ada di bagian belakang. Gemericik air dari kolam ikan koi di halaman depan juga menambah asri suasana rumah yang dihuni oleh lima orang tersebut.
Dua pasang kaki melangkah keluar dari kuda besi berwarna silver yang setiap hari memudahkan mobilitas keduanya. Mereka berjalan beriringan ditengah temaramnya halaman rumah yang disinari oleh lampu-lampu taman. Begitu sampai didepan pintu, Calvin segera membuka benda yang terbuat dari kayu jati tersebut dan masuk kedalamnya.
“Assalamualaikum,” pekik Calvin serta Carina bersamaan.
“Waalaikumsalam,” sahut seorang wanita paruh baya dari arah ruang tengah yang tak lain adalah Renata, bunda Carina.
Carina segera mendekat pada sang bunda dan mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim, diikuti oleh Calvin.
“Hmm, baunya wangi banget bun di dapur. Masak soto, ya?” Tanya Carina yang sejak masuk kedalam rumah sudah mengendus bau masakan khas Indonesia tersebut.
“Ayah kamu yang minta dibikinin,” jawab Renata sambil menunjuk kearah dapur dengan dagunya. “Ngidam kali, beberapa hari ini ada-ada aja requestnya.”
Carina dan Calvin terkekeh bersamaan. Tidak mungkin Alvaro ngidam seperti dulu-dulu, selain usia yang sudah mulai berkepala lima, vonis dokter terhadap pria itu juga tidak berubah meskipun secara tak terduga adik Carina hadir ditengah-tengah mereka.
“Cepetan kalian bersih-bersih terus kita shalat Isya’ berjamaah, keburu malem” pinta Renata.
“Iya, bun,” sahut Carina seraya berjalan terlebih dahulu untuk masuk ke kamarnya yang ada di lantai atas.
“Aku juga keatas dulu, kak,” pamit Calvin yang segera menaiki anak tangga.
“Jangan lama-lama,” teriak Renata yang langsung diiyakan oleh putri serta adiknya.
Meskipun status Calvin dalam keluarga ini sebagai adik angkat Renata, namun tak jarang wanita itu dan juga suaminya memperlakukan Calvin layaknya anak mereka sendiri. Usia Calvin yang hampir sama dengan Carinalah alasannya.
Keduanya juga tak pernah mempermasalahkan dari rahim siapa Calvin lahir meskipun awalnya cukup berat untuk Renata. Namun lama-lama ia mulai bisa menerima setelah sang suami mengingatkan jika seorang anak yang terlahir membawa nasibnya sendiri. Mereka hadir dalam keadaan suci terlepas dari siapa pun orang tuanya. Anak-anak itu juga tidak bisa meminta untuk dilahirkan dari rahim siapa?
>>>>
Setelah keluarga itu melakukan shalat berjama’ah seperti biasanya, mereka berpindah kearah ruang makan karena memang belum ada yang makan malam. Mereka terbiasa menunggu satu sama lain agar bisa makan bersama, kecuali jika ada yang berhalangan.
“Bun, pakein kecap, dong,” pinta Alvaro sambil menunjuk cairan kental berwarna hitam diatas meja.
“Gak terlalu manis, yah?” Tanya Renata yang ragu menambahkan kecap kedalam mangkuk soto sang suami. Meskipun Alvaro juga kerap menambahkan racikan ini, Renata tetap bertanya setiap kali diminta menambahkannya.
“Gak lah! Gak ada yang lebih manis dari kamu,” sahut Alvaro yang hingga diusia inipun masih bisa membuat Renata merona dengan godaan-godaannya.
“Apaan, sih? Ada anak-anak juga,” tegur Renata tanpa bisa menyembunyikan rona tersipunya dan membuat sang suami tersenyum semakin lebar.
Tangan wanita paruh baya itu dengan sigap menuruti permintaan spesial sang kepala keluarga seperti biasanya, sementara anak-anak serta adiknya saling berpandangan dengan aneh.
“Om, dek, udah pada bayar sewa belum?” Tanya Carina berseloroh.
“Sewa apaan?” Adric balik bertanya lalu menyuapkan satu sendok nasi soto kedalam mulutnya.
“Sewa kontrakan lah, kan kita cuma ngontrak. Dunia ini hanya milik ayah sama bundaaa,” canda Carina seraya melirik ayahnya dengan tatapan mengejek.
“Khusus buat Carina, sewanya yang paling mahal karena suka gangguin ayah sama bunda,” sahut Alvaro menanggapi candaan putri sulungnya.
“Sebutin deh, yah! Berapa? Aku masih punya om sultan yang bisa bayarin,” balas Carina seraya menengok pada Calvin yang sedang menikmati makan malamnya.
“Sejak kapan namaku berubah jadi Sultan?” Tanya Calvin dengan memicingkan matanya. Namun tak lama, karena ia segera kembali melahap isi piringnya.
“Bukannya nama om Sri Sultan Calvin Trading?” Seloroh Carina seraya terkekeh.
Uhuk-uhuk.
Gadis itu tersedak saking semangatnya bercanda sampai lupa jika ia sedang makan. Renata segera menepuk-nepuk punggung anak gadisnya tersebut sementara Calvin mengulurkan segelas air putih yang langsung diteguk Carina.
“Hati-hati, tersedak,” canda Alvaro mengejek putri sulungnya yang sudah tersedak.
“Duh, kasian kakak gue yang gak lebih cantik dari bunda,” cibir Adric yang langsung mendapat tatapan tajam sang kakak.
“Bukannya nolongin, malah pada ngejek,” kesal Carina.
“Udah, lanjutin lagi makannya,” tegur Renata menghentikan aksi saling ejek suami serta anak-anaknya.
Itu bukanlah pemandangan yang baru, sepertinya kedua anak ini benar-benar menuruni sifat ayahnya yang jahil. Wajar saja. Terlebih satu tahun pertama kehidupan Carina lebih sering dirawat ayahnya yang saat itu baru saja resign dari pekerjaannya yang dulu.
Lalu, mengenai julukan Sultan untuk Calvin yang disebutkan oleh Carina juga bukan tanpa alasan. Terlepas dari status Calvin yang menjadi pewaris tunggal perusahaan retail milik mendiang opanya, pemuda itu juga sudah cukup mahir memainkan saham sejak masih duduk di bangku SMA. Keahlian itu didapatnya dari Radit, kakak keduanya yang juga seorang pebisnis yang menggantikan Danu yang sudah pensiun. Karena alasan itu pulalah Calvin mengambil jurusan Ekonomi di bangku kuliah ini agar ilmunya lebih dalam.
Meskipun dengan keuangan yang diatas rata-rata untuk ukuran pemuda dua puluh tahun, tetapi Calvin terbiasa hidup sederhana sesuai yang diajarkan oleh kedua orang tua angkatnya. Bahkan selama dua tahun tinggal bersama Alvaro dan Renata pun ia tak pernah melihat kedua kakaknya itu bergaya hidup mewah. Padahal keduanya juga bukan orang biasa-biasa saja. Alvaro adalah GM sebuah jaringan hotel yang terletak di beberapa kota besar di penjuru Indonesia. Sementara Renata adalah seorang dokter senior dengan dua sertifikat keahlian dan telah memiliki jabatan yang cukup tinggi di rumah sakit. Bahkan terkadang wanita itu juga menjadi pembicara di seminar-seminar kesehatan ataupun menjadi dosen tamu di beberapa Universitas.
>>>>
Selepas makan malam, kelimanya berkumpul di ruang tengah dengan kegiatan masing-masing. Alvaro serta Adric asyik menonton pertandingan sepak bola di TV. Calvin sesekali ikut bergabung menyaksikan tayangan tersebut, tetapi fokus utamanya pada grafik bergerak di layar tablet. Sementara Carina tengah berdiskusi dengan bundanya mengenai mata kuliah yang tak dipahaminya. Menurut Carina, ini adalah keuntungan memiliki bunda yang satu bidang dengan kuliah yang sedang digelutinya.
“Oh ya, Vin! Kamu semester depan udah harus kuliah kerja ‘kan? Mau kemana?” Tanya Alvaro yang sejenak mengalihkan perhatiannya dari layar TV.
Calvin melakukan hal yang sama dan fokus pada kakak iparnya tersebut, “kalau aku masuk ke kantorku sendiri boleh gak ya, bang? Daripada susah-susah cari sekaligus latihan buat pegang kendali sendiri ntar abis wisuda.”
“Bukannya mahasiswa-mahasiswa yang kuliah kerja biasanya dikasih posisi paling bawah dulu buat belajar?” Alvaro kembali bertanya seraya memberikan perhatian penuh pada adik iparnya tersebut. “Kalau kamu masuk kantor opamu, mana ada yang berani kasih kamu kerjaan yang berat-berat? Belum lagi nilainya nanti pasti gak murni dari kemampuanmu sendiri. Supervisormu bakalan gak enak kalau gak kasih nilai A plus.”
“Iya juga sih, bang. Kalau mau ikut kak Radit juga semua karyawan sudah kenal aku, gak bisa objektif nilainya ntar,” keluh Calvin.
“Gimana kalau tanya ke om Ravi?” Alvaro memberikan saran.
“Suaminya tante Adel?” Calvin balik bertanya yang dibalas anggukan Alvaro.
“Tinggal pilih aja kamu mau yang mana? Dia ‘kan usahanya banyak. Gak cuma jadi dewan direksi di rumah sakit kakakmu, ada juga stasiun TV, platform digital shopping, sama apa lagi dah? Saking banyaknya abang sampai gak hafal,” jelas Alvaro yang membuat keduanya terkekeh.
“Boleh juga, bang. Nanti deh, aku diskusiin dulu sama dospem enaknya gimana,” sahut Calvin menyetujui.
Calvin kemudian meninggalkan gawainya dan ikut larut dalam pertandingan sepak bola yang cukup seru tersebut. Suara teriakan terdengar, baik dari Calvin sendiri maupun Alvaro dan Adric. Ketiganya memang cukup menggemari cabang olah raga tersebut. Sebenarnya Adric pernah ingin menjadi pemain sepak bola profesional, tetapi dilarang oleh kedua orang tuanya mengingat resiko cedera dalam olah raga ini cukup tinggi. Penyakit turunan yang dimiliki Adric adalah alasan utamanya.
“Ayah, ayah, ayah!” Suara mezzo Carina terdengar semakin jelas seiring dengan posisinya yang semakin dekat.
“Berisik ah kak, teriak-teriak kayak di hutan,” protes Adric sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
“Lebay,” balas Carina tak acuh.
Gadis itu kemudian menggeser adiknya yang duduk disamping sang ayah dan mengambil alih posisi Adric. Meskipun usianya sudah hampir kepala dua, terkadang Carina masih cukup manja pada Alvaro yang sudah seperti rekan sepermainannya.
“Apa sih princess? Dateng-dateng langsung nyerobot?” Tanya Alvaro seraya merangkul bahu putrinya tersebut.
“Weekend ntar mau liburan kemana?” Carina balik bertanya.
“Udah jadwalnya kita liburan bareng, ya?” Pertanyaan Alvaro membuat gadisnya itu mendengus.
Keluarga ini memang selalu membuat jadwal untuk quality time setiap akhir pekan. Biasanya minggu pertama mereka akan berkunjung ke rumah orang tua Alvaro, minggu kedua mereka akan terbang ke Kalimantan untuk mengunjungi orang tua Renata, minggu ketiga liburan keluarga, dan minggu keempat khusus untuk Alvaro dan Renata sendiri sementara anak-anak akan tinggal di rumah. Jadwal bisa saja berubah jika ada keadaan yang menghalangi.
“Kalian pengen liburan kemana memangnya? Ayah belum ada ide.” Alvaro memberikan penawaran.
“Camping ke puncak, yah! Ada lokasi yang baru buka aku lihat di medsos seru kayaknya,” usul Adric semangat.
“Aku pengen ke pantai,” sanggah Carina.
“Calvin pengen kemana?” Tanya Renata yang baru ikut bergabung dan mengambil duduk di sofa tunggal.
“Camping asyik kayaknya, kak! Kangen udara segar juga,” jawab Calvin.
“Ke kebon belakang juga ada udara seger, om!” Carina menggerutu.
Jawaban Calvin membuat Adric merasa menang dan menjulurkan lidahnya pada sang kakak. Carina pun hanya bisa setuju sambil mengerucutkan bibirnya.
“Yaudah, weekend kita ke puncak, dan karena adek yang kasih usul, adek bisa ‘kan ngurus tiketnya?” Tanya Alvaro menawari.
“Bisa lah, yah! Gitu doang sih gampang,” sahut Adric percaya diri.
Meskipun Adric masih kelas 3 SMP, tetapi dalam beberapa kesempatan Alvaro telah memberikannya kepercayaan untuk menjadi pemimpin. Renata pun setuju, karena hal ini bisa menjadi latihan tanggung jawab untuk putra bungsunya tersebut. Lagipula, tugas-tugas yang diberikan juga tergolong tugas ringan dan mereka juga selalu memberikan pendampingan.
>>>>