Didalam kereta, Carina yang tidak seorang diri sedang berbincang-bincang dengan rekannya sesama mahasiswa. Kondisi kereta yang cukup padat meski berlawanan arah dengan jalur pekerja membuat keduanya tak mendapatkan kursi untuk duduk. Keduanya memilih untuk berdiri didekat pintu otomatis.
“Tadi kayaknya lo keluar lagi sama kak Jericho pas makan siang. Makin deket nih kayaknya,” selidik teman sekaligus sahabat baik Carina yang setiap saat selalu bersama dengannya, Narnia atau biasa dipanggil Nia.
Carina menghela napasnya lelah. Hampir semua mahasiswa jurusan Kedokteran tahu tentang kedekatan Carina dengan senior mereka, Jericho.
“Biasa, ngajak makan siang bareng,” jelas Carina lemah.
Tak tampak sama sekali antusias dalam jawabannya. Padahal sosok pria yang sedang keduanya bicarakan adalah salah satu mahasiswa paling populer di kampus. Bisa dikatakan kepopulerannya sebelas dua belas dengan Calvin yang sangat berprestasi.
“Dia nembak gue tadi,” lanjut gadis itu yang membuat sahabatnya berbinar dan sangat bersemangat.
“Serius? Terus sekarang kalian udah resmi, dong?” Tanya Nia tak sabar.
Sayangnya Carina malah balas menatap sahabatnya itu dengan horor, “yakin banget gue nerima dia?” Tanyanya.
“Yakin lah, ‘kan kak Jericho idaman cewek-cewek. Gak mungkin lo tolak, ‘kan?”
“Kenapa gak mungkin? Dia bukan idaman gue,” sahut Carina santai.
“Hah? G*la lo cowok sempurna macem kak Jericho di tolak!” Nia berdecak sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Gue gak mau pacaran, pengennya kayak bokap sama nyokap. Gak pakai pacaran, langsung nikah,” jelas Carina mantap.
Gadis itu ingin seperti ayah bundanya yang saling menjaga hati hingga disatukan oleh sang maha membolak-balik hati. Ia tak ingin bermain-main dan hanya akan memberikan hatinya pada prianya di masa depan. Semua orang-orang terdekat Carina mengetahui prinsip serta tekat ini dan sangat mendukung keinginan tersebut.
“Langka yang bisa kayak orang tua lo. Mereka pun kenal dari kecil makanya bisa tanpa pacaran gitu,” sahut Nia sangsi. Sahabat Carina sejak masa SMA ini memang sedikit banyak sudah mengetahui tentang keluarga Carina.
“Cuma langka ‘kan, belum punah?” Tanya Carina seraya terkekeh.
“Ya tapi tetep aja susah,” dengus Nia kesal.
Tak lama kemudian terdengar pengumuman stasiun pemberhentian berikutnya. Carina segera bersiap-siap dan membuat sang sahabat menatapnya dengan heran. Setahu Nia, stasiun pemberhentian Carina masih cukup jauh. Mereka bahkan baru melewati dua stasiun sejak naik tadi.
“Kok udah mau turun?” Tanya Nia penasaran.
“Dijemput om gue,” jawab Carina yang sudah siap meninggalkan sahabatnya.
“Oh, om yang keberadaannya serahasia dokumen negara itu?” Canda Nia yang sudah paham bahwa Carina tak pernah mau memperkenalkan atau bahkan terlihat bersama dengan Calvin.
Carina hanya terkekeh mendengar candaan tersebut, “ya udah, gue duluan!”
Tepat setelah itu pintu otomatis terbuka dan Carina melangkah keluar bersama dengan penumpang lain yang juga turun di stasiun yang sama. Setelah melakukan tap kartu untuk pembayaran didekat peron, ia segera keluar dari area stasiun dan menunggu Calvin. Jalanan yang terlihat padat merayap membuat Carina yakin jika pamannya itu pasti akan terlambat sampai, sehingga ia memutuskan untuk memainkan ponselnya dan berselancar di dunia maya.
>>>>
Jarak antara kampus dan stasiun yang dituju Calvin sebenarnya tak terlalu jauh, namun kemacetan di jam pulang kantor membuat perjalanan yang seharusnya hanya kurang dari sepuluh menit, kini memakan waktu selama hampir setengah jam.
Beberapa meter dari pintu keluar stasiun pemuda itu telah melihat keberadaan sang keponakan yang tengah fokus pada ponselnya serta bibir yang cemberut. Begitu mobil berhenti di depan Carina, Calvin segera menekan klakson hingga mengagetkan mahasiswa kedokteran semester tiga tersebut. Hal itu tampak begitu lucu dan membuat Calvin menertawakan refleks Carina yang buruk.
Gadis itupun menghentakkan kakinya serta memberikan tatapan super tajamnya pada sang paman. Setelah klakson kedua dibunyikan, barulah Carina masuk kedalam mobil dan menutup pintu disamping jok penumpang itu dengan kasar.
“Gak lucu bercandanya, hampir aja hp gue jatoh,” protes Carina sembari mengenakan sabuk pengaman, sementara itu Calvin kembali menginjak pedal gas meninggalkan area stasiun.
“Habisnya khusyuk banget ngelihatin hp, sampek gak liat kanan kiri. Kalau ada yang mau nyulik gak bakal bisa ngehindar loh,” balas Calvin sambil masih tertawa kecil.
“Ditempat rame gini? Mau digebukin massa?” Carina mencibir.
“Udah ah, lepasin itu kacamata kuda! Gak suka om liatnya,” tegur Calvin seraya menginjak pedal gas dan kembali menjalankan mobilnya.
“Baju zirah gue ini, om! Kalau gak dipakai bisa bahaya.” Meski bibirnya mengeluh, tetapi Carina tetap mengikuti saran sang paman dan melepas kacamata serta jaket kebesarannya.
“Masih ada yang gangguin kamu?” Tanya Calvin kemudian.
Carina tiba-tiba saja diam, tak sejahil sebelumnya. Kepalanya menengok kearah kiri, menatap jalanan ramai melalui kaca disamping mobil. Calvin menengok gadis itu sesaat sebelum kembali fokus pada jalanan dan menghela napasnya panjang.
Gadis itu memang sengaja membuat penampilannya tidak terlalu mencolok. Belajar dari pengalaman selama sekolah menengah, paras ayu Carina kerap kali menarik hati para teman prianya, mulai dari siswa paling populer hingga yang biasa-biasas saja. Mereka kerap kali menyatakan rasa sukanya, namun prinsip Carina lebih kuat daripada godaan tersebut.
Saat menolak perasaan para lelaki itu, tak jarang dari mereka yang memiliki pendukung dan berakhir dengan mencelakai Carina. Dikatakan sebagai gadis tak tahu diri, sok kecantikan, dan sebagainya sudah menjadi makanan sehari-hari Carina semasa sekolah. Dan penampilan biasa-biasanya kali ini bertujuan menghindari kemungkinan itu. Walaupun terkadang masih ada saja pria yang mengganggunya.
“Mau cerita?” Tanya Calvin sekali lagi memberikan tawaran. Mumpung jalanan didepannya sedang padat merayap, ia bisa menggunakan waktu untuk berbincang dengan sang keponakan.
“Ada satu senior populer yang udah agak lama sering caper sama gue. Tadi pas habis kelas dia nembak gue dan udah pasti gue tolak. Kayaknya dia kesel dan gak terima,” cerita Carina dengan suara yang lelah.
Calvin sekali lagi menatap keponakannya dan lengan kirinya terulur untuk mengelus kepala Carina yang terbalut hijab berwarna magenta tersebut.
“Gak usah terlalu dipikirin, nanti dia juga bakal paham sendiri sama alasan kamu,” ujar Calvin menenangkan.
“Iya,” balas Carina lirih.
Calvin tersenyum simpul seraya melepas usapannya dari kepala Carina. Kemacetan didepan telah terurai dan Calvin pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
Tak lama kemudian, ponsel Calvin yang ada diatas dasbor tampak berkedip-kedip dan mengeluarkan suara getar yang cukup kencang. Kedua muda-mudi itu sama-sama melirik kearah layar ponsel sekilas. Sayangnya, Calvin langsung mendengus dan membiarkan saja ponsel yang sedang menerima panggilan itu teronggok begitu saja. Ia tak berniat menjawab panggilan yang paling dihindarinya tersebut.
“Gak mau ngangkat lagi?” Tanya Carina memastikan.
Namun, melihat respon sang paman yang tampak kesal dan tak menjawab pertanyaannya, Carina dengan segera menyahut benda pipih itu. Ia kemudian menjawab panggilan telepon internasional tersebut dengan tenang. Calvin sempat membelalakkan matanya terkejut, tetapi tidak mencegah Carina melakukan hal itu.
“Sorry, the number you’ve called has been disconnected. Please try again after the next life!”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Carina segera memutus sambungan telepon. Calvin menatap keponakannnya dengan alis sebelah yang terangkat.
“Kamu doain om mati?” Tanya Calvin dengan nada bercanda.
“Hush...ngawur aja!” Carina memukul ringan bahu sang paman.
“Lah, itu tadi kamu bilang after the next life, ‘kan berarti nunggu aku renkarnasi dulu,” ujar Calvin menguatkan pertanyaannya.
“Ya gak gitu juga kali.” Carina memutar kedua bola matanya kesal. “Kirain pinter sampek lomba kemana-mana, jokes gitu doang dianggep serius.”
Calvin hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Keturunan kakak iparnya ini memang sangat menuruni sifat jahil sang ayah. Ada-ada saja kelakuannya.
“Dia gak bilang apa-apa sebelum kamu tutup teleponnya?” Tanya Calvin tak lama kemudian.
“Cie, penasaran tapi gak mau jawab sendiri teleponnya nih ye,” goda Carina dengan senyum yang terkembang di bibirnya.
“Gak, siapa yang penasaran?” Calvin berkilah yang justru membuat Carina semakin gencar menggodanya.
Apalagi gadis itu juga sangat suka membuat Calvin salah tingkah karena kulit putih sang paman akan berubah menjadi merah muda pada saat itu.
“Dia bilang kangen loh sama om Apin,” bohong Carina sambil menunggu respon pemuda disampingnya.
“Kalau bohong yang masuk akal dikit lah, Rin! Antartika udah berubah jadi Sahara kali kalau sampai pendonor itu kangen sama aku,” dengus Calvin yang malah semakin kesal oleh godaan-godaan keponakannya.
Pendonor. Itulah sebutan yang Calvin berikan untuk ayah kandungnya. Setelah dua tahun lalu pria berkebangsaan Singapura itu mengusir dan menginjak-injak harga diri sang putra biologis, entah mengapa beberapa bulan terakhir malah semakin gencar mencari keberadaan Calvin.
Pemuda itu juga sempat beberapa kali menyanggupi pertemuan yang diajukan oleh Jasper. Sayangnya pertemuan itu malah menghasilkan goresan dalam hati Calvin semakin bertambah dan menganga lebar. Karena itulah Calvin sebisa mungkin menghindari panggilan telepon dari Jasper, apalagi keluarga sah pria paruh baya tersebut.
“Om bener-bener gak mau cerita tentang ayah kandung om Apin?” Tanya Carina kemudian yang sudah berubah lebih serius.
“Belum saatnya, Rin. Lagian dia cuma pendonor, bukan ayah aku,” jawaban Calvin menyiratkan hatinya yang sedang terluka.
“Sama seperti om yang selalu bisa jadi tempat curhat gue, gue juga pengen jadi pendengar buat apapun masalah, om. Jangan dipendem sendiri!” Carina menatap Calvin penuh perhatian.
“Lain kali ya Rin, please!” Pinta Calvin dengan nada santainya, berusaha mengurangi keseriusan yang tiba-tiba tercipta.
“Iya, iya, gue sabar menunggu kok,” balas Carina sambil memutar kedua bola matanya. “Tapi jangan lama-lama murungnya, ntar gak ada yang bisa gue jahilin lagi!”
“Kirain tulus, ternyata ada bakwan dibalik udang,” dengus pemuda itu kesal.
Carina terbahak mendengar peribahasa yang pamannya ucapkan. Menurutnya itu terlalu tidak kreatif, tetapi cara penyampaian Calvin yang sambil mengerucutkan bibir berhasil menggelitik humor seorang Carina.
Tak lama kemudian suara azan isya terdengar sayup-sayup di luar sana, beradu dengan deru kendaraan serta bisingnya ibukota di jam-jam tanggung seperti ini. Calvin pun sedikit menambah kecepatan mobil yang dikemudikannya karena keluarga sang kakak pasti sudah menunggu dirinya serta sang keponakan di rumah.
>>>>