Heliotrope 01

1643 Kata
Diantara semua anak-anak sebatang kara di dunia ini, mungkin Calvin adalah salah satu yang memiliki nasib sangat beruntung. Ia dirawat dan dibesarkan oleh orang tua angkat yang begitu menyayanginya seperti anak sendiri. Padahal, dulu jauh sebelum Calvin lahir ke dunia, ibu kandungnya sangat sering menyakiti hati hingga membahayakan nyawa keluarga ini. Namun, hal itu sama sekali tak mengurangi rasa sayang mereka pada Calvin. Mereka juga tak pernah mengungkit masa lalu kelam tersebut, hingga Calvin sendiri yang meminta. Calvin yang saat itu baru lulus SMA sangat penasaran dengan identitas orang tua kandungnya. Ia kemudian meminta keluarganya untuk menceritakan semuanya. Awalnya Calvin sangat terkejut mengetahui jika ia adalah anak di luar nikah dengan ibu serta oma-opa yang telah meninggal. Selain itu, ia juga cukup penasaran pada sosok ayah kandungnya. “Yang kami tahu, ayah kandung kamu adalah psikiater yang merawat ibumu. Saat opa kamu meninggal, beliau sama sekali tidak ingin membuka tentang identitas ayah kamu,” jelas Gita, mama angkat Calvin. “Jadi gak ada yang tahu siapa ayah kandung aku, ma?” Tanya Calvin sedikit kecewa. “Pengacara opa kamu, Om Guntur pernah cerita sama papa. Katanya ayah kamu itu psikiater di rumah sakit Nitro, namanya Jasper Cheng. Hanya saja, ayah kamu orang yang seperti apa, kita gak ada yang tahu, Vin,” jawab Danu, papa angkatnya. “Kamu bisa tanya-tanya sama om Guntur biar lebih jelas!” “Kalau misalanya aku mau cari beliau, boleh gak, pa, ma?” Tanya Calvin ragu. Pemuda itu memang terlalu perasa dan mudah merasa tidak enak pada orang lain, termasuk takut pertanyaannya tersebut akan melukai hati orang tua angkatnya. “Ya boleh dong, Vin! Kamu berhak tahu tentang asal-usul kamu,” sahut Gita dengan lembut. “Atau mau mama papa temenin? Mumpung orang-orang tua ini udah jadi pengangguran sekarang!” Goda Danu yang memang sudah sekitar sepuluh tahun ini pensiun. “Gak perlu lah, pa! Aku juga gak bakalan lama disana. Kalau udah ketemu dan kenalan nanti bakal langsung pulang. Aku ‘kan cuma pengen lihat aja gimana wajahnya ayah kandungku,” tolak Calvin dengan hati-hati. “Ya sudah, kalau gitu hati-hati! Terus kabarin mama sama papa apapun hasilnya!” Pinta Danu yang disanggupi Calvin. Sayangnya, harapan Calvin harus terhempas begitu saja ketika sang ayah tak menyambutnya dengan baik. Pria lebih setengah abad itu tidak mengakui Calvin sebagai darah dagingnya, bahkan sampai mengusir pemuda itu. Apalagi keluarga Jasper juga tak ada yang mau sekedar berkenalan dengan Calvin. “Kamu itu cuma kesalahan! Aku hanya main-main dengan ibumu yang g*la itu! Pergi dan jangan dekati keluargaku lagi!” Jasper menunjuk-nunjuk wajah kecewa Calvin dengan emosi yang memuncak. “Aku hanya ingin menyenal ayah, apa itu salah? Aku gak bakalan minta apa-apa dari ayah, kok!” Calvin mencoba bernegoisasi. “Siapa yang kamu sebut ayah? Kamu bahkan gak seharusnya ada didunia ini!” Kalimat tajam itu masih terus terngiang dalam benak Calvin. Bagaikan katana yang menyabet relung hati. Harapan Calvin terhempas begitu saja dan sia-sia. Ia pun kembali ke Jakarta dan menutup fantasi memiliki ayah kandung rapat-rapat. Saking sakit hatinya, pemuda itu bahkan mulai memanggil sang ayah kandung dengan sebutan ‘pendonor’ karena menurutnya Jasper hanya seorang penebar benih semata. Hari itu juga Calvin menyatakan jika ia adalah seorang yatim piatu sesungguhnya. Untuk Calvin, keluarga angkatnya saat ini adalah anugerah terindah yang dikirimkan dari yang maha kuasa untuknya. Jika saja seorang anak bisa memilih siapa orang tua kandungnya, Calvin pun tak akan pernah mau memiliki ayah seperti Jasper. “Om, pelan! Stasiunnya udah deket, jangan kebablasan!” Seruan seorang gadis membuyarkan lamunan Calvin yang tengah duduk dibalik kursi kemudi. Gadis bernama lengkap Carina Riza Renjana itu adalah putri sulung Renata dan Alvaro. Dia juga merupakan keponakan Calvin, mengingat Renata adalah anak pertama Danu serta Gita. Usia Calvin dan Carina hanya terpaut sebelas bulan, sehingga keduanya saat ini berada dalam jenjang pendidikan yang sama dan selalu berangkat ke kampus bersama. Pemuda itu menoleh sesaat pada kursi penumpang disampingnya, menatap sang keponakan yang kini telah mengenakan kacamata tebal berbentuk bulat serta menambahkan jaket panjang berbahan baby terry untuk menutupi kemeja biru mudanya. Gadis cantik Renjana itu tampak sederhana dengan pakaian serta jilbab tanpa merk tersebut. Namun, hal itu tak bisa menutupi paras ayu khas Indonesia yang diperolehnya dari sang ayah dan bunda. Tanpa banyak bicara, Calvin mengurangi kecepatan mobil dan melajukannya ke stasiun dimana ia biasa mengantar Carina. Meski keduanya menempuh pendidikan di Universitas yang sama, namun Carina enggan terlihat memiliki hubungan dengan Calvin yang merupakan primadona kampus. Pemuda semester lima juruan Management itu selain memiliki paras oriental yang rupawan, juga memiliki prestasi yang cemerlang. Beberapa kali nama Calvin sempat mewakili kampus dalam berbagai lomba baik tingkat nasional maupun internasional. Sehingga tidak heran jika banyak mahasiswi yang mengincarnya. Carina hanya enggan berurusan dengan gadis-gadis itu. Pengalamannya menjadi korban bully selama masa SMA membuat Carina menjadi lebih waspada di masa kuliah ini. Walaupun keduanya berbeda jurusan, menghindari pemicu tetaplah lebih baik. “Hati-hati! Kalau ada apa-apa langsung bilang,” pesan Calvin begitu mobilnya berhenti dengan sempurna didepan stasiun. “Iya, bawel! Yaudah sono, keburu macet,” balas Carina seraya keluar dari mobil. “Jakarta tiap hari macet, Rin!” Calvin menggerutu. Setelah melihat Carina masuk ke peron, barulah Calvin menjalankan mobilnya. Perjalanannya masih cukup jauh dan Calvin harus bergegas. Sekitar empat puluh lima menit kemudian, mobil berwarna abu-abu itu telah terparkir rapi di lahan parkir khusus mahasiswa. Waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi, sehingga tidak heran jika ia masih cukup mudah menemukan lokasi untuk parkir. Jika sedikit saja lebih siang, maka Calvin harus mencari tempat parkir yang lebih jauh karena lahan parkir disana memang cepat sekali penuh. Universitas negeri ini memang banyak dihuni oleh kalangan borjuis yang berdompet tebal. Meski tidak sedikit juga yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. “Pagi, kak!” “Seger banget pagi ini!”  “Hai, Vin!” Sapaan hangat dari teman-teman kampus selalu menyambut kedatangan Calvin dan pemuda itu hanya membalas seadanya dengan tersenyum simpul. Langkahnya tegap menyusuri jalanan menuju ruang kelas yang tak terlalu jauh dari tempat parkir. “Hoy Vin, kantin yuk! Sarapan.” Seorang pemuda tiba-tiba saja mengalungkan lengannya pada bahu Calvin. “Udah sarapan di rumah,” sahut Calvin setelah memastikan bahwa pemuda itu adalah salah satu sahabatnya, Lingga. “Sarapan lagi, gue traktir!” Lingga menggoda sambil menaik-turunkan kedua alis hitam tebalnya. “Pasti ada maunya, nih!” Calvin memicingkan matanya dan dibalas cengiran Lingga. “Bagi tugas Ekonomi Kependudukan, dong!” Pinta Lingga dengan gampangnya. “Gak, kebiasaan lo lama-lama. Tugas individu kerjain sendiri!” Calvin melenggang pergi. “Yaelah Vin, gue cuma kurang satu nomer aja, kasih lah,” rengek Lingga sambil mengikuti Calvin dibelakangnya. “Tumben cuma satu nomer?” Calvin menghentikan langkahnya dan menatap curiga pada teman seangkatannya tersebut. “Iya, soalnya yang lain udah nyontek Erland, Hera, Vino, aaww~ kok mukul, sih?” Lingga mengelus kepalanya yang baru saja ditimpuk pelan oleh Calvin. “Gue curiga, jangan-jangan lo bisa kuliah disini gara-gara nyontek juga pas ujian.” Calvin tak habis pikir dengan kelakuan Lingga. “Nilai raport gue bagus kali Vin, makanya bisa lolos SNMPTN. Gue cuma lagi males aja ngerjain,” kilah Lingga membela diri. “Males kok tiap hari, gak niat itu namanya,” cibir Calvin seraya meneruskan perjalanannya menuju ruang kelas. “Satu nomer aja, Vin! Ya, ya!” Lingga terus merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Calvin yang berjalan didepannya. “Tapi jangan dibikin sama persis, ya?” Calvin melunak. “Assa! Lo emang sahabat terbaik!” Lingga bersorak seraya langsung merebut lembaran kertas tugas Calvin dengan penuh semangat. “Dibedain!” Sekali lagi Calvin memperingatkan. “Siap, boss!” Calvin mendecih gemas melihat kelakuan salah satu sahabat baiknya tersebut. Ia kemudian menyusul Lingga yang sudah duduk dibangku menyalin jawaban tugas mereka. Masih ada beberapa menit sebelum jam kuliah pertama dimulai. Calvin yang sudah duduk disamping Lingga itupun mengeluarkan ponselnya dan mulai menggerakkan jemarinya dengan lincah diatas layar. Me Udah sampek? Ponakan No.1 Baru keluar dari peron Me Kok bisa duluan aku nyampek kampusnya? Ponakan No.1 Ketahan di Pasar Minggu Untung gak lama banget Me Yaudah, jangan lari-lari ke kelas! Ponakan No.1 Iya, bawel :p “Selamat pagi!” Sapaan bernada rendah dari pria paruh baya dari arah pintu kelas menghentikan kegiatan Calvin. Pemuda itu segera mematikan ponselnya dan menyimpan di dalam tas kembali. Tanpa dirasakannya, ternyata kelas telah penuh dengan mahasiswa lain dan dosen pun sudah siap dengan materi pengajarannya pagi ini. >>>>  Setelah seharian penuh berkutat dengan kegiatan perkuliahan, tiba waktunya Calvin untuk pulang. Namun, sebelum itu ia memiliki kebiasaan untuk menghubungi Carina terlebih dahulu, sekedar menanyakan jadwal pulang keponakannya tersebut. Jadwal Carina yang lebih tidak menentu membuat Calvin kesulitan menghafalnya. “Balik jam berapa?” Tanya Calvin yang baru saja masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. “Ini udah di stasiun,” jawab Carina dari ujung sambungan telepon. “Gak usah masuk peron! Tungguin di halte, sekarang aku jemput,” pesan Calvin sambil bergegas menghidupkan mesin mobil. Pemuda itu meletakkan ponselnya diatas dashboard serta mengubah mode panggilan menjadi loudspeaker. “Gak mau!” Carina menolak tegas. “Udah maghrib, gak usah ngeyel! Gak mau aku aduin ayah sama bunda kamu, ‘kan?” “Dasar om tukang ngadu,” gerutu Carina kesal namun malah membuat Calvin menyunggingkan senyumnya. “Yaudah, tungguin di Lenteng Agung aja, jangan nyusul kesini!” “Takut banget sih ketahuan bareng sama aku, Rin!” “Gak usah bawel ya, om!” “Yaudah, aku tungguin di Lenteng Agung,” balas Calvin pasrah. Keponakannya memang sekeras kepala itu. “Udah dateng belum keretanya?” “Itu udah kelihatan,” jawab Carina yang terdengar buru-buru. “Gue matiin teleponnya, assalamualaikum!” “Waalaikum salam,” balas Calvin lirih. Ia bahkan tidak yakin keponakannya mendengar balasan salamnya karena sambungan telepon mereka sudah lebih dulu terputus. Calvin pun menggerakkan kuda besi itu menyusuri jalanan kampus yang semakin gelap lalu menuju lokasi yang telah dijanjikan Carina.             >>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN