“Vin, masalah pribadi mami kandung kamu sama abang dan kakak jangan dijadiin alasan buat menjauh apalagi merasa rendah diri sama kami. Kamu ya kamu, Calvin Zayn Morisson, adiknya kak Rena, adik ipar abang.”
“Bener, Vin! Tentang masa lalu itu udah kami semua ikhlaskan. Anggap saja sebuah pembelajaran, jangan dijadikan beban!”
Ucapan kedua kakak Calvin terus terngiang hingga beberapa hari setelahnya. Pemuda berusia dua puluh tahun tersebut selalu tampak mengurangi interaksinya dengan keluarga angkat setelah mengetahui seluk beluk tentang ibunya.
Meski tak terlibat secara langsung, bahkan saat itu Calvin belum lahir, namun jiwa perasa dan lembut pria itu selalu merasa terbebani. Tak jarang pula Calvin merasa tak layak dirawat oleh orang-orang yang dulu pernah ibunya sakiti dengan cukup parah.
Apalagi, mereka semua juga selalu menjadi pendukung terbesar Calvin. Terutama saat pemuda itu harus menghadapi perselisihan dengan keluarga ayah kandungnya. Dukungan mereka membuat Calvin merasa menjadi sosok yang layak untuk di cintai. Ia juga sangat bersyukur karena kakeknya sempat menitipkan dirinya pada keluarga penuh kasih sayang ini.
Hal-hal seperti itulah yang menjadi pemecut semangat Calvin untuk selalu berusaha menyenangkan keluarga angkatnya. Ia bahkan sering memendam perasaannya dalam-dalam, hanya demi membahagiakan orang-orang yang sebenarnya asing ini. Termasuk perasaan terdalamnya pada putri sulung sang kakak yang selalu dilindunginya.