“Atau sekalian kita minta restu ayah bunda, terus nikah daripada cemburu-cemburuan gak jelas begini.” Detik itu juga waktu Calvin terasa seperti terhenti. Bahkan aliran angin pun tak mampu ia rasakan saking terkejutnya. Carina bukan hanya mengejutkan, tetapi juga sudah giila, pikirnya. Kedua kelopak matanya beberapa kali berkedip, daun telinganya memerah, pun dengan pipinya. Sementara kabar otak serta jantung pemuda itu sepertinya sedang mengalami masa kritis karena terhenti secara tiba-tiba. Setelah beberapa menit terdiam dan berhasil mencerna kata demi kata yang Carina ucapkan, Calvin malah melengos sambil tertawa. Sebuah tawa yang selama beberapa bulan terakhir ini ia hargai dengan sangat mahal. “Bercanda tuh yang kira-kira kenapa? Ngawur aja,” kilah Calvin tak ingin mempercayai pend

