Setelah pertemuannya dengan Clara, pikiran Elena seperti tertinggal di ruang meeting itu. Tubuhnya berada di depan layar monitor, jari-jarinya sesekali bergerak di atas keyboard, namun pandangannya kosong. Baris angka dan huruf di layar seolah melebur, tak satu pun benar-benar ia pahami. Nama Damian dan semua yang melekat padanya terus berputar di kepala. Hal yang sama … Kau hanya mengulang kisah yang sama … “Plak!” Elena tersentak ketika sebuah tangan menepuk bahunya. “Jangan melamun. Fokus, dong,” ujar rekan kerjanya yang duduk di sebelah, setengah berbisik namun cukup tajam. Elena berkedip beberapa kali, seperti baru tersadar dari mimpi buruk. “Eh—iya. Maaf,” sahutnya cepat, senyum kikuk terbit di wajahnya. “Aku lagi … banyak pikiran.” Rekan kerjanya melirik layar Elena sekil

