mobil hitam milik Marko berhenti di depan gerbang besar mansion keluarga Moretty. Bangunan itu berdiri megah di atas tanah luas, diterangi lampu taman yang redup. Dari luar, semuanya tampak tenang seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda kegaduhan, tidak ada kepanikan. Namun bagi Marko, ketenangan itu justru terasa mencurigakan. Ia turun dari mobil perlahan. Dua orang anak buahnya berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Tuan Marko,” bisik salah satu dari mereka, “apakah Anda yakin Tuan Damian mungkin ada di sini?” Marko tidak langsung menjawab. Matanya menyapu setiap sudut halaman mansion itu gerbang besi tinggi, kamera keamanan di setiap sudut, hingga jendela-jendela besar yang tertutup tirai. “Jika seseorang ingin menyembunyikan sesuatu,” gumamnya pelan, “tempat terbaik adalah tempat

