Gudang bawah tanah itu kembali sunyi setelah suntikan terakhir bekerja. Bau logam bercampur lembap memenuhi udara. Lampu gantung tua berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding beton. Di balik jeruji besi, Damian terkulai. Tubuhnya tampak menyedihkan. Dulu ia berdiri tegap dengan bahu kokoh dan tatapan penuh wibawa. Kini tulang pipinya menonjol, bibirnya pecah-pecah, dan kulitnya pucat tak bernyawa. Rantai yang melilit pergelangan kakinya berbunyi lirih setiap kali ia berusaha bergerak usaha sia-sia, karena obat itu membuat tubuhnya terasa seperti lumpuh tak bertulang. Langkah sepatu hak tinggi terdengar memasuki ruangan. Tok … tok … tok … Sonya. Wanita itu berjalan anggun dengan gaun gelap yang menjuntai, rambutnya tertata sempurna. Kontras sekali dengan keada

