Pagi itu Damian melangkah masuk ke kamar Elena dengan membawa sebuah nampan. Isinya sederhana sarapan hangat, rapi, tanpa hiasan berlebihan. Ketukan pintu sudah ia lakukan, namun karena tak ada jawaban, ia masuk dengan asumsi Elena masih tertidur. Namun dugaannya salah. Elena baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, ujung-ujungnya meneteskan air ke lantai marmer. Sebuah handuk melilit tubuhnya, sederhana, tanpa usaha apa pun untuk menarik perhatian namun cukup membuatnya refleks menyilangkan tangan di d**a ketika melihat Damian sudah berada di dalam kamar. Waktu seakan berhenti sesaat. Bukan karena hasrat, melainkan karena kejanggalan situasi. Damian hanya melirik sekilas. Tak ada keterkejutan, tak ada perubahan raut. Wajahnya tetap dingin, datar, seolah pemandangan d

