Apartemen itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang disebut “rumah”. Elena berdiri di tengah ruang tamu yang luas, lampu gantung kristal menyala lembut, memantulkan cahaya ke dinding berwarna krem pucat. Sofa mahal tersusun rapi, vas bunga segar terletak di sudut meja semuanya sempurna. Terlalu sempurna. Namun dingin. Bukan dingin karena suhu, melainkan dingin yang merambat pelan ke tulang. Ia melangkah perlahan, ujung jarinya menyentuh sandaran sofa. Kulit empuk itu tak memberinya rasa apa pun. Tidak ada jejak. Tidak ada kehadiran. Tidak ada aroma yang familiar. Elena menghela napas, panjang dan berat. Ini yang kau mau, batinnya menegur diri sendiri. Tempat tenang. Jauh dari Damian. Tanpa teriakan. Tanpa luka. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota. Lampu-la

