BAB 9

1100 Kata
        "Arghh!" lontar Dave kesal sembari mengacak rambutnya. Lalu ia duduk disofa menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya dan memijat pelipis keningnya yg mulai terasa pening. Mengapa semuanya terasa sulit untuk menjelaskan semuanya ke Alena. Mengapa jadi rumit dan salah paham begini?         Dave kembali ke apartmentnya untuk mengambil obat luka dan plaster lalu kembali lagi memasuki apartment Alena dan menuju kamar Alena. Diketoknya kamar Alena. Namun tidak ada respons dari sang pemilik kamar.         "Al aku minta maaf yaa.." ujar Dave dari balik pintu, yg sebenarnya Alena mendengarnya tetapi tidak berniat untuk menjawabnya. "Aku taro obat sama plaster depan pintu kamar kamu ya. Jangan lupa diobatin lecet di kaki kamu. Aku pergi ya.." lanjut Dave berharap dibalas oleh Alena, namun nihil tetap tidak ada sedikit pun suara yg terdengar dari dalam kamar Alena. Akhirnya Dave memutuskan untuk pergi.                                                                                         ---         Dave membuka kenop pintu dengan sebuah totebag di tangan kanannya. Dave tersenyum ceria saat memasuki salah satu kamar rawat inap di Rumah Sakit Permata.         "Om Ev!!" teriak seorang anak perempuan yg berusaha memanggil Dave, namun karena umurnya yg masih berumur 2 tahun dan belum mampu berbicara lancar alhasil seadanya saja saat ia memanggil Dave. Tampak jelas kebahagian di wajah anak perempuan tersebut karena kedatangan Dave. Clara. Itulah nama anak perempuan yg saat ini sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus ditangannya.         "Liat om bawa apa…Tara!!" Dave menunjukan sebuah buku dongeng anak-anak.         "Holee!!!" Teriak Clara langsung menyambar buku dongeng tersebut dari tangan Dave. Dave tersenyum dan mengelus lembut rambut Clara.         "Demamnya udah mulai turun ya Bel?" tanya Dave sembari menyentuh kening Clara. Belinda yg sedari tadi duduk disamping ranjang dan hanya memperhatikan Dave dan Clara sedaritadi hanya mengangguk menjawab pertanyaan Dave.         "Jadi malam ini Mama bacain dongeng ini yaa!" ucap Belinda menunjuk buku dongeng yg sedang dibuka halaman perhalaman oleh Clara yg hanya melihat gambar-gambarnya saja.         "Ga.. mau om Ev ajah" ucap Clara        "Tapi kan om Ev harus pulang sayang, jadi Mama aja yg bacain ya kan biasanya juga sama Mama" bujuk Belinda dengan senyumannya.         "Ga!" jawab Clara dengan memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan d**a.         "Iya om yg bacain yaa.. udah gapapa Bel, malem ini aku nginep disini jagain Clara dan sekalian jagain kamu" ucap Dave. Lalu dia mulai beranjak mengatur posisinya di ranjang agar berdeketan dengan Clara dan mulai membacakan dongeng untuk Clara hingga anak itu terlelap.         Dave melirik jam di dinding, jarum menunjukkan pukul 10.15 wib. Diliriknya Belinda sedang asyik menonton siaran Youtube di ponselnya. Perlahan Dave turun dari ranjang berusaha agar Clara tidak sampai terbangun. "Bel udah makan belum?" tanya Dave. Belinda menghentikan video yg sedang berputar di ponselnya lalu menatap kearah Dave.         "Belum kak.."         "Ayo ke kantin"         "Aku ngga lapar ih lagian makan jam segini bikin gendut tau!" keluh Belinda         "Ngeyel ya kamu. Ayo ke kantin daripada kamu sakit dan ikut-ikutan dirawat juga kan ngga lucu. Lagian kalo kamu gendut juga tetep cantik kok" ujar Dave lalu mulai melangkahkan kakinya.         "Ah Kak Dave bisa aja hahaha" balas Belinda lalu ia mengsejajarkan langkah kakinya dengan Dave dan mulai merangkul lengan kiri Dave. Mereka pun menuju ke kantin rumah sakit.                                                                                         ---         "Aku pikir tadi langsung pulang dan ngga balik lagi ternyata balik lagi, kenapa kak?" tanya Belinda lalu ia mulai menyuapkan sesendok nasi goreng.         "Emang berniat mau nginep disini kok jagain kalian berdua, lagian besok kan hari Sabtu jadi libur. Cuma tadi ada sedikit urusan di apartment makanya balik dulu sebentar sekalian ambil baju ganti" jelas Dave dan lalu ia meneguk air mineralnya.         "Pasti Kak Alena ya urusan pentingnya? Haha" tanya Belinda memastikan dengan sedikit nada menggoda.         "Iya tadi khawatir dia belum ngabarin sampe ke apartment, jadi liat keadaannya baik-baik aja di apartment langsung deh balik lagi kesini"         "Kayanya dari dulu masih cinta banget ya sama Kak Alena ya. Gamau apa kak sebentar aja lirik aku? Hahaha"         Dave menyeringai dan mengacak-acak lembut rambut pendek Belinda "hahaha ada-ada aja kamu nih ya, udah lanjut makannya ah jangan banyak ngomong ntar keselek"         Hanya dibalas senyuman oleh Belinda dan mereka pun mulai fokus pada makanan masing-masing. Namun, seketika pikiran Dave langsung dipenuhi oleh Alena. Berkali-kali dirinya menatap layar ponsel, berharap ada notif dari Alena. Saat ini dia hanya berusaha menyiapkan dirinya untuk menjelaskan semuanya ke Alena di waktu yg tepat, tapi bukan untuk saat ini karena dirinya belum siap. Dia takut Alena meninggalkannya saat mengetahui fakta mengenai dirinya. Untuk sekarang, Dave hanya ingin berusaha kembali menarik hati Alena kembali. Setelah Dave dan Belinda menyantap habis makanan dan minuman, mereka kembali ke kamar inap Clara.                                                                                         ---         Ditatapnya lembut bocah tak berdosa di hadapan Dave yg sedang terlelap tidur, dielusnya rambut Clara. Ceklek. Suara pintu kamar mandi terbuka, pertanda Belinda sudah selesai mandi. Dave  pun beranjak dari kursinya berniat untuk membersihkan diri. Dave keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan celana pendek saya tanpa memakai baju, karena dia baru saja selesai mandi. Kedua tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Belinda yg melihat pemandangan itu langsung melongo.         "Gausah memperlihatkan badan bagusnya deh. Berabe kan kalo aku makin jatuh cinta sama Kak Dave tapi cintanya bertepuk sebelah tangan hahaha" Belinda mendengus kesal. Lalu dia melanjutkan mengoleskan skincare-nya.         "Loh kamu kok belum tidur?" tanya Dave.         "Biasalah lagi melakukan rutinitas wanita di malam hari hehe"         Dave hanya tersenyum dan meraih kaosnya. Lalu meraih ponselnya dan berjalan menuju balkon. Ditatapnya langit malam Jakarta. Ah, jangan berharap ada bintang deh. Satu pun tidak ada. Dave mulai membuka galeri foto di ponselnya. Jarinya mulai menggeser-geser layar ponselnya. Disana foto Alena sendiri dan foto dirinya bersama Alena silih berganti. Hingga jarinya mengetuk untuk play sebuah video.         "Liat Dave sumpah gemes banget kan baju-baju bayi. Pokoknya kalo nanti kita udah nikah, aku mau berdoa supaya kita punya anak kembar hehe biar orangtua kita ngga berebutan cucu!" ujar Alena dengan wajah yg bahagia menunjukan sebuah baju bayi. Lalu ia mendorong trolley belanjaannya. Memasuki daerah perabotan rumah tangga. Kamera ponsel Dave tetap mengikuti Alena.         "Kalo kita udah nikah nanti. Aku mau peralatan di dapur warnanya abu-abu ya Dave" ucap Alena lalu dia meraih wajan berwarna abu-abu.         "Karena warna kesukaan kamu kan. Aku sih serah yg penting masakannya enak" suara Dave pun terdengar dari balik kamera. Alena menghampiri Dave.         "Pasti dong makanan enak beserta kecupan" ucap Alena lalu ia mengecup pipi Dave tapi hal tersebut tidak terekam oleh kamera hanya berupa goyangan karena Dave kaget dan hanya terdengar suaranya saja.         Video terhenti. Dave tersenyum namun matanya memperlihatkan semburat kesedihan. Rindu. Itulah yg dirasakan Dave saat ini. Akhirnya ia memutuskan untuk menelfon Alena. Tidak butuh waktu lama untuk dijawab oleh si penerima telefon.         "Halo.." ucap Dave.         "Halo bos Dave! Pasti lu lagi bingung deh kenapa yg angkat suara cowo haha gue Ervan"         "..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN