"Kenapa lu yg angkat?! Alena mana?" tanya Dave tidak sabaran.
"Haha santai bro! Alena lagi mandi. For your information aja nih, gue nginep di apart Alena"
Tanpa melanjutkan percakapan, Dave langsung menutup telfonnya. Bergegas masuk ke dalam dan langsung meraih jaket dan kunci mobilnya.
"Kak mau kemana?! Udah malem!" Teriak Belinda. Tanpa mendapatkan jawaban dari Dave, lelaki itu mempercepat langkah kakinya, keluar dari kamar dan menuju masuk lift.
Dave memacu kencang mobilnya membelah kemacetan Jakarta. Dirinya sudah tidak sabar untuk segera sampai di apartment. Lelaki mana yang akan diam saja, jika mengetahui wanita yg dicintainya bersama dengan pria lain dalam satu atap. Sesampainya, Dave dengan gesit memarkirkan mobilnya dan menuju ke apartmentnya yang berada dilantai 26.
Dengan terburu-buru ia memasukkan password apartmentnya. Melangkahkan kakinya menuju ke pintu akses antara apartment dirinya dan Alena. Dibukanya pintu tersebut. Matanya mulai menyapu keseluruh ruangan di hadapannya. Dave berjalan menuju dapur. Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di hadapannya. Terlihat jarak wajah antara Alena dan Ervan sangat dekat seperti hendak berciuman. Hanya dengan hitungan detik, Dave menghantam pipi Ervan dengan sebuah tinjuan, yang sukses membuat Alena maupun Ervan terkejut.
"Dave! Lu gila ya?!" teriak Alena.
Ervan hanya menyentuh ujung bibirnya yg mulai mengeluarkan darah. "Lu kenapa? Marah kalo gue mau cium Alena? Gue calon suami dia, lah lu cuma mantan doang!"
Bukk!...
Satu pukulan lagi melayang ke arah Ervan. Tidak terima, Ervan akhirnya melawan dengan satu pukulan ke arah Dave. Dave menarik kerah baju Ervan.
"Stop!!!!" Teriak Alena dan mencoba memisahkan Dave yang sedang mencengkram kerah baju Ervan dengan tatapan yang sangat menakutkan.
"Kenapa lu gapernah berubah sih Dave?! Dari dulu selalu temperamental!" ujar Alena dengan nada tinggi.
"Jauhin dia Al!" teriak Dave sembari menunjuk Ervan.
"Lu ngga berhak ngatur-ngatur gue! Lu bukan siapa-siapa gue lagi Dave!"
Dave terseyum paksa. "Fine! Gue emang cuma mantan lu doang. Ngga berhak cemburu dan ngatur-ngatur lu! Mantan yang seenaknya ninggalin 2 tahun lalu. Selama gue ninggalin lu, ngga ada cewe lain yg gue pikirin cuma lu doang Al! Gue berharap bisa kembali lagi kaya dulu, gue coba buat buka pintu hati lu lagi buat gue. Tapi percuma! Gue udah gabisa masuk ke hati lu lagi. Gue nyerah Al..." ucap Dave panjang lebar lalu ia melenggang pergi dengan suasana hati yang kacau. Alena hanya memandangi pundak Dave yang mulai berjalan menjauh. Cairan bening sudah mulai berdesekan ingin keluar dari pelupuk mata Alena.
---
Dave memandangi kertas-kertas yang berada ditangannya. Melihatnya untuk sekali lagi lalu dicengkramnya kertas-kertas tersebut. "Arghhh!!!.." teriak Dave lalu melemparkan kertas-kertas tersebut. Dave beranjak dari tempat duduknya dan meraih ponselnya, lalu jarinya mulai mencari-cari kontak yang ingin ia hubungi.
"Hello doctor. I'm Dave..."
---
"Aw! Pelan-pelan anying sakit" rintih Ervan saat Alena mencoba mengompres lukanya.
"Lu sih pake acara pengen bikin dia cemburu bilang mau nginep disini. Kena kan lu babak belur"
"Lah gue ngga nyangka kalo dia bakalan datang. Kalo yang tadi, sorry banget gue kebawa suasana sampe mau cipokan sama lu hahaha padahal gue tau lu bakalan ngehindar"
Alena tidak menjawab. Dia tetap fokus mengompres luka Ervan. Sedangkan pikirannya tertuju kepada Dave. Hatinya terasa sesak saat mengingat perkataan Dave barusan dan fakta kalau Dave menyerah untuk mencoba memperbaiki hubungan mereka seperti dahulu lagi.
"Udah ah gue cabut ya. Lu tidur gih jangan begadang" ujar Ervan beranjak dari sofa lalu mengelus rambut Alena.
"Hati-hati Van..."
---
Dave memarkirkan mobilnya di salah satu RSJ di daerah Jakarta Pusat. Ia memasuki sebuah kamar inap. Disana terliat seorang lelaki berusia 50tahun-an sedang duduk di kursi roda sedang memandangi langitan melalui jendela.
"Daniella... Daniella..." ucapnya lirih. Dave menghampirinya. Lelaki tua itu melirik kearah Dave. Lalu tersenyum.
"Dave datang..." ucap Dave tersenyum.
"Daniella mana? Ayah kangen sama putri kesayangan ayah"
Dave berusaha menahan supaya air matanya tidak jatuh. Dia kembali tersenyum. "Daniella udah ngga ada. Daniella udah bahagia diatas sana. Tapi kalo liat kondisi ayah kaya gini, Daniella pasti sedih. Ayah gamau kan Daniella sedih?"
Ayah Dave menggelengkan kepalanya. "Makanya ayah harus sembuh total supaya Daniella bahagia" ucap Dave.
"Tapi Daniella nanti kesini kan?" tanyanya menatap lekat-lekat mata Dave.
"Ayah... Daniella udah meninggal. Daniella udah ngga ada lagi disisi kita" ucap Dave masih berusaha menahan air matanya.
"Ngga! Ngga!... Daniella masih hidup Dave! Masih hidup! Dia pasti datang! Putri kesayangan ayah pasti datang! Aah!!" teriak ayah Dave sembari memukul- mukul kepalanya dan mulai meneteskan air mata. Dave langsung berlari keluar memanggil dokter. Segera mungkin dokter datang. Air mata Dave pun sudah tidak bisa dibendung lagi, karena tidak tahan melihat kondisi ayahnya.
---
Hari Sabtu, Alena gunakan untuk berbelanja kebutuhan sehari-harinya di Hypermart yang dekat dengan apartmentnya dan berusaha untuk menyegarkan pikirannya karena kejadian semalam. Saat sedang sibuk berbelanja, Alena merasa ada sosok berpakaian serba hitam mengikuti dirinya sedari tadi, karena perasaaannya yang tidak enak akhirnya Alena mempercepat belanjanya dan bergegas untuk kembali ke apartmentnya. Jarak Hypermart dengan apartmentnya bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki, makanya dirinya tidak membawa mobil. Benar saja sosok berpakaian hitam tersebut diam-diam mengikuti Alena menuju apartment. Alena mempercepat langkahnya. Sesampainya di apartment, Alena yakin sosok itu sudah tidak mengikutinya lagi.
Alena mulai menaiki anak tangga karena ternyata lift apartmennya sedang dalam perbaikan. Bayangkan harus menaiki tangga menuju lantai 26 dengan membawa belanjaan, merupakan penderitaan yang sempurna bagi Alena. Saat menaiki tangga, Alena mendengar suara langkah kaki juga yang sedang menaiki tangga. Sosok itu lagi. Alena mulai merasa ketakutan. Dia mempercepat langkah kakinya. Apa daya dia tidak sekuat itu. Sosok itu semakin dekat dengan Alena. Alena terjatuh begitupun barang belanjaannya. Alena mulai merangkak saat sosok dengan tampang serba hitam menggunakan masker dan topi menghampiri dirinya. Alena benar-benar ketakutan.
"Lu siapa?! Kenapa ngikutin gue?!" teriak Alena. Sosok itu semakin dekat dengan Alena dan mengelus pipi Alena.
"Gausah takut, aku ngga akan ngelukain kamu. Aku cuma mau liat wajah cantik kamu aja" ucap sosok tersebut, yang benar-benar membuat Alena ketakutan. Alena menepis tangan sosok tersebut.
"Pergi ngga lu sana! Gue teriak nih. Tolong!!!" teriak Alena. Mulutnya langsung dibekap oleh sosok serba hitam tersebut.
"Alenaaa!!!" teriak Dave. Dave menarik sosok serba hitam tersebut dan melayangkan pukulannya, terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Namun, sosok tersebut berhasil kabur. Dave langsung menghampiri Alena yg sedang terduduk di sudut sembari menangis ketakutan.
Alena langsung memeluk Dave dengan erat "Please jangan tinggalin aku Dave. Aku takut. Jangan pernah tinggalian aku lagi" ujar Alena dengan air mata yang membasahi pipinya. Dave memeluk erat Alena dan mengelus rambut Alena yang dikuncir kuda.