BAB 4

849 Kata
        Alena dan Dave kini sudah kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka yg lain, mereka pun mulai memasuki lift untuk menuju ruangan mereka masing-masing. Hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut. Pintu lift tertutup.         "Cewe tadi namanya Belinda dan anak kecil tadi itu Clara, mereka..." belum selesai Dave berbicara, Alena memotongnya.         "Siapapun mereka bukan urusan gue" ucap Alena yg sebenarnya ucapan dan hatinya bertolak belakang, karena dalam lubuk hatinya ada perasaan penasaran sekaligus cemburu hanya saja ia sudah tidak ingin ikut campur dalam kehidupan Dave.         Dave tidak melanjutkan kalimatnya. Mereka hanya terdiam. Lift mendadak berhenti dan terdapat sedikit guncangan. Alena dan Dave terkejut. Alena mulai panik karena ia sudah mulai merasakan oksigen dalam lift itu perlahan mulai hilang.         "s**t!" desah Dave kesal. Ia mulai menekan tombol darurat dan memberitahu bahwa mereka berdua terjebak di lift. Petugas pun memberitahu untuk Alena dan Dave tidak panik, karena mereka akan segera bergegas melakukan sesuatu.         Alena mulai sesak nafas. Tubuhnya mulai lemas dan terjatuh, tetapi untungnya kepalanya tidak terbentur karena Dave dengan sigap menahannya. Dave melihat nafas Alena sudah semakin tidak karuan.         "Al tahan!..." ucap Dave panik. Lalu ia mulai meraih tas Alena mencari inhaler yg seharusnya ada di dalam tas Alena, tetapi benda itu tidak ada disana.         "Dari dulu aku udah sering bilang kan, inhaler harus selalu dibawa kemana pun kamu pergi. Kamu tuh punya asma" oceh Dave kesal dan semakin khawatir. Alena tidak menjawab karena sedang berusaha mengatur napasnya. Lampu dalam lift seketika mati. Dave buru-buru meraih ponsel dalam saku celana untuk menyalakan flashlight. Sudah jelas kondisi Alena semakin buruk karena ia berada dalam ruangan sempit dan gelap.         "Da..ve..." ucap Alena diantara napasnya yg tidak karuan         "Iya Al? Aku disini. Kamu bertahan ya, aku mohon" ucap Dave semakin khawatir. Pandangan Alena semakin kabur, napasnya seperti akan berhenti. Alena pun pingsan.         "Al bangun!! Alenaaa!" teriak Dave. Ia pun mulai membaringkan tubuh Alena, dan berusaha memberikan CPR atau napas buatan.         "Alena bangun!" Dave terus berteriak dan tetap berusaha memberikan napas buatan untuk Alena. Terkadang ia mulai menggedor-gedor pintu lift untuk secepatnya diberi pertolongan. CPR terus dilakukan oleh Dave sampai akhirnya pintu lift terbuka.         "Panggil ambulans sekarang cepat!!!" teriak Dave. Semua orang yg melihat mulai panik.                                                                                         ---         Alena perlahan mulai membuka matanya. Dipandanginya seluruh ruangan. Berwarna putih semua. Kini ia sadar berada dirumah sakit dengan selang oksigen di hidungnya.         "Al udah sadar?" tanya Kate. Alena tidak menjawab, yg ia pikirkan pertama kali adalah momen terakhir dimana dirinya sebelum pingsan dan terbaring disini. Raut wajah Dave yg panik dan khawatir. Bibirnya yg menyentuh bibir Dave. Itulah momen terakhir yg ia ingat.         "Sumpah lu harus tau Dave panik banget pas bawa lu kesini"         "Sekarang dia dimana?" tanya Alena. Belum di jawab oleh Kate, Dave sudah memasuki ruangan.         "Kenapa nyariin aku? Udah kangen ya" ucap Dave tersenyum. Entah mengapa Alena pun ikut tersenyum tipis.         "Makasih Dave..." ucap Alena lirih.         "Yaudah deh gue keluar dulu yaa mau nelfon orang tua lu. Kalian berdua ngobrol aja dulu"         "Oh iya mending lu balik kantor urusin kerjaan soalnya gue sama Alena kan disini. Udah gih sana keluar jangan ganggu, gue pengen berduaan sama Alena" ucap Dave         "Sialan lu... yaudah gue balik kantor. Kelar jam pulang kantor gue kesini lagi" Alena hanya mengangguk. Kate pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar inap Alena. Dave duduk di kursi menggantikan Kate.         "Gimana keadaan kamu?" tanya Dave, lalu jari jemarinya mulai mengelus rambut Alena.         "Baik-baik aja" ucap Alena berusaha seperti biasa yaitu sedikit ketus, karena ingin menutupi perasaan bahagia dalam hatinya atas perlakuan Dave.         "Yaudah sekarang kamu makan ya, abis itu minum obat"         "Gamau, gue ngga laper"         "Harus Al, aku suapin ya. Kamu harus makan sebagai balas budi karena aku udah bawa kamu kesini dan ngurus admintrasi rumah sakit. Okey?" Alena hanya menghela napas. Dave meraih semangkuk bubur dan mulai menyuapi Alena.         "Dikit-dikit Dave. Belepotan kan" ucap Alena kesal lalu ia ingin membersihkan bubur yg mengotori pinggiran bibirnya. Namun, belum ia melakukannya, tangan Alena sudah ditahan Dave.         "Biarin aku aja yg bersihin.." ucap Dave lalu ia mulai mencium sekitar bibir Alena dan membersihkannya.         "Dave!" bentak Alena terkejut dengan apa yg terjadi barusan. Dave hanya tertawa kecil. Lalu mulai menyuapi Alena kembali.         "Kamu tuh cantik deh kalo lagi galak gitu hahaha"         Alena hanya memutarkan bola matanya. Dave memandangi Alena. Alena pun menatap mata Dave.         "Jangan sakit lagi ya, aku khawatir" ucap Dave sungguh-sungguh. Entah mengapa seakan benteng pertahanan hati Alena semakin luluh. Seperti rasa cintanya kepada Dave lebih menguasai hatinya dibandingkan rasa bencinya.         Tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang lelaki menghampiri mereka berdua.         "Ervan?" ucap Alena kaget melihat sosok lelaki tersebut.         "Dia siapa Al?" tanya Dave lalu ia menyipitkan matanya.         "Perkenalkan gue Ervan. Calon suami Alena" ucap Ervan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Dave. Dave hanya memandangi uluran tangan tersebut, lalu bergantian memandangi Alena. Jelas terlihat api cemburu di mata Dave.         "Lu lanjutin nih suapin Alena. Gue ada urusan" ucap Dave ketus lalu memberikan semangkuk bubur yg belum habis ke tangan Ervan. Lalu dia bergegas cepat keluar tanpa mengucapkan kalimat lain.         "Dave!!" teriak Alena. Dave terus melangkahkan kakinya dan tidak menggubris seruan Alena. Dave membuka kenop pintu dan mulai perlahan menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN