BAB 5

1112 Kata
        "Oh jadi itu yg namanya Dave? Katanya lu benci, kenapa sekarang keliatan biasa aja?" tanya Ervan         "Bukan urusan lu, lagian ngapain sih ngaku-ngaku jadi suami gue? Satu lagi kenapa lu bisa disini sekarang?" tanya Alena penasaran.         Ervan menyimpan semangkok berisi bubur yang tadi di berikan oleh Dave. Lalu dia berjalan menuju sofa panjang di pojok kanan kamar dan merebahkan dirinya disana. "Iseng ajasih.. gue disuruh nyokap bokap lu kesini buat liat kondisi lu gimana sekaligus jagain lu untuk beberapa hari kedepan. Di Sydney mereka masih sibuk jadi gue yg disuruh kesini. Lagian ngapain sih lu deket lagi sama si Dave itu? Lu lupa apa kejadian 2 tahun lalu hah? Seenak jidat dia ilang gitu aja" ucap Ervan panjang lebar.         Alena tersenyum miris. Pandangannya menerawang jauh disana. "Gue ngga mungkin lupa satu hari itu. Satu hari yg bener-bener merubah hidup gue" ucap Alena lalu ia menghela napas. "Tapi gue gabisa bohongin perasaan gue Van, gue masih sayang sama Dave apalagi semenjak dia datang lagi ke hidup gue. Gue sadar, gue belum bisa lupain dia.." lanjut Alena kini matanya mulai berkaca-kaca mengingat hari itu. Alena melirik kearah Ervan. Dilihatnya lelaki itu sudah terlelap. Mungkin Ervan masih lelah karena perjalanannya dari London ke Indonesia. Alena memejamkan matanya. - 2 tahun lalu -         Lulus dari perguruan tinggi, mendapatkan gelar sarjana, memakai toga, meraih ipk dengan predikat cumlaude dari universitas ternama sungguh sangat membahagiakan dan membanggakan bukan? Ya memang. Satu hari itu benar-benar hari yg membahagiakan bagi Alena. Tersenyum dan tertawa bersama dengan teman-teman seangkatan sembari membuat momen bahagia tersebut menjadi sebuah jepretan foto, yg suatu hari nanti dapat dilihat dan dikenang kembali serta dapat ditunjukkan ke anak dan cucu kelak. Namun, satu hari itu memiliki 24 jam. Belum tentu, 12 jam pertama kita merasa bahagia, 12 jam berikutnya kita juga merasa bahagia. Tidak ada yg tahu apa yg akan terjadi pada diri kita di jam berikutnya. Hanya Tuhan yg mengetahui.         "Alena!!..." teriak Kate, lalu berlari menghampiri Alena yg sedari tadi sibuk berfoto-foto dengan temannya yg lain. Mereka pun berpelukan.         "Yey selamat sarjana Kate!" teriak Alena         "Selamat juga lulusan cumlaude!" teriak Kate yg lebih nyaring dari suara Alena. Mereka melepaskan pelukannya. "Gila yaa lu sama Dave makan apaansih? Kenapa kalian pinter sih? Cumlaude loh dua-duanya. Iri gua sama kalian" lanjut Kate.         "Makan buku mata kuliah hahaha. Lagian gue sama dia tuh pacarannya ngga kaya pasangan jaman now yg isinya mesra-mesraan doang sambil menuh-menuhin snapchat. Gue sama dia tuh sering belajar bareng tau. Lagian lebih iri sama lu lah yg wisuda ditemenin orang tua, lah gue? Mereka sibuk terus" ujar Alena sambil kedua matanya mencari kesana kemari. Dia mencari Dave, kekasihnya.         "Iya deh beda emang pacaran orang pinter haha udah ah gausah sedih nyokap bokap lu ngga disini. Ada Dave kan yg bokapnya ngga hadir juga, jadi kalian bisa ngerayain bareng"         "Iyasih.. udah yuk mending kita foto abis ini gue mau cari Dave nih"         "Yuk.."                                                                                         ---         Alena memandangi langit. Langit saat ini tidak secerah sebelumnya, perlahan matahari mulai sembunyi di balik awan. Angin berhembus menerpa rambut panjang Alena. Bibirnya tersenyum saat melihat sosok yg ia cari sedang berdiri dan bersandar disamping mobilnya lengkap dengan kemeja putih yg lengannya dilipat hingga ke siku, dasi, celana bahan warna hitam, dan sepatu pantopelnya. Alena berlari menghampirinya. Berbanding terbalik dengan wajah sumringah Alena, wajah lelaki itu tampak menyimpan sesuatu yg membebankan pikirannya hingga terlihat murung dan menganggu wajah tampannya.         "Kamu kemana aja? Aku cariin tau, kita belum foto" ujar Alena         "Lain kali aja yaa Al, udah mendung soalnya. Mending aku langsung anter kamu pulang ya" ucap Dave lalu ia membukakan pintu agar Alena masuk ke dalam mobil         "Ih kok pulang sih? Kita harus ngerayain kelulusan kita" ucap Alena cemberut         "Please Al, pulang aja ya.." ucap Dave lemas dan sedikit memohon. Alena hanya mengalah tanpa menjawab lalu dia masuk mobil.         Dalam perjalanan hanya ada keheningan diantara keduanya. Alena hanya menatap jalanan yang mulai basah terguyur oleh derasnya air hujan. Alena bingung harus mulai pembicaraan darimana agar memecah kesunyian ini, dirinya tahu kalau kekasih disampingnya itu sedang dalam keadaan mood tidak bagus. Akhirnya ia hanya memutuskan untuk diam saja. Hingga mobil Dave berhenti di depan apartment Alena.         "Yah hujan Dave turunnya gimana?" tanya Alena kebingungan         "Alena.." ucap Dave pelan tanpa melirik ke arah Alena sedikit pun         "Aku mau kita putus.." lanjut Dave dengan kedua matanya terus menatap kedepan         Alena terkejut. Badannya lemas. Deruan air hujan seketika menghilang dari pendengarannya. Dadanya seperti dihujam ribuan jarum yg langsung tepat menusuk hatinya. Alena menghela napas berusaha menenangkan hatinya.         "Kok tiba-tiba? Kenapa? Aku ada salah sama kamu?" tanya Alena lembut lalu ia meraih tangan Dave, namun langsung ditepis oleh Dave. Mata Alena mulai berkaca-kaca, terlebih lagi selama mereka pacaran Dave tidak pernah menepis begitu saja genggaman tangannya.         "Aku udah bosen sama kamu, jadi pengen putus"         "4 tahun kita pacaran dan seenaknya kamu bilang gitu. Kamu ngga mikirin perasaan aku Dave? Aku gamau putus"         "Kamu mau maksain hubungan yg cowonya udah ngerasa bosen sama kamu hah?! Hubungan ini udah hambar bagi aku!" ujar Dave dengan nada yg tinggi.         "Yaudah kalo itu yg kamu mau, aku terima keputusan kamu buat kita putus. Tapi asal kamu tau aku bakalan tunggu kamu dan pintu hati aku masih terbuka lebar buat kamu balik lagi Dave. Kemanapun kamu pergi, kamu pasti kembali kerumah dan pintu rumah kamu akan selalu terbuka saat kamu kembali. Jaga diri baik-baik ya" ucap Alena lalu tidak terasa air matanya membasahi pipinya. Alena mengecup pipi Dave lalu dia keluar dari mobil tanpa peduli derasnya hujan di luar. Mobil Dave pun melaju kencang meninggalkan Alena yg mulai basah kuyup diguyur air hujan. Semesta seperti ikut serta dalam kesedihan yg dialami Alena. Tak peduli seluruh tubuhnya basah dan mulai kedinginan, Alena tetap berdiri mematung dengan air matanya yg terus berjatuhan bersamaan dengan air hujan. Hingga akhirnya ia memasuki apartmentnya mengingat ponselnya yg berada di dalam tasnya akan mulai basah juga seperti dirinya, dan ia pun tidak ingin satpam mengusirnya. Dengan tubuh yg lemas, basah, dan kedinginan, Alena bersusah payah menyeret kedua kakinya untuk menuju kamar.                                                                                             ---           Tissue mulai berserakan mengotori lantai kamar apartment Alena. Hujan sudah berhenti, begitupun dengan tangis Alena. Kini tubuhnya hanya berbaring lemas di lantai dengan mata yg sembab. Dipandanginya layar ponselnya yg menampilkan foto dirinya sedang tersenyum ceria bersama Dave. Sudah pukul 11 malam. Alena tersenyum memandangi layar ponselnya lalu menetaskan air mata untuk sekian kali.         'Aku bakalan lakuin apapun asal kamu kembali Dave..'         Bel kamar apartment Alena berbunyi pertanda ada seorang tamu yg datang. Alena sangat lemas dan tidak berdaya untuk membuka pintu, tetapi bunyi nyaring bel tersebut semakin menganggu dan mau tidak mau Alena membawa dirinya untuk membuka pintunya. Alena mengusap air matanya, lalu membuka pintu. Betapa terkejutnya Alena dengan sosok yg ada di hadapannya. "..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN