"Dave?" Alena kaget sekaligus bingung dengan sosok dihadapannya, pakaiannya sudah mulai kusut dan aroma alkohol tercium jelas oleh hidung Alena.
"Alenaaa aku ngga layak buat kamu" racau Dave lalu tangannya mengusap pipi kanan Alena, dan perlahan mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Alena. Sontak mata Alena melotot karena baru saja tadi sore Dave memutuskan hubungan kini lelaki itu datang dan mengecupnya. Kecupan Dave berubah menjadi ciuman yg memanas. Alena pun tidak menghindar, jelas dia menerimanya. Dave masuk ke dalam kamar apartment Alena dan menutup pintu, tanpa melepaskan ciumannya. Perlahan Alena melangkah mundur dan tubuhnya mendarat di atas kasur. Ciuman mereka berhenti dan pada saat itu juga Dave membuka kancing kemejanya satu persatu lalu melemparnya kesembarang arah.
"Dave kamu mau ngapain?" tanya Alena mulai panik. Dave tidak menjawab. Lelaki itu mulai berkeliaran mengecup leher Alena sekaligus menghisapnya sehingga memunculkan bercak merah keunguan.
"Ah.. please Dave jangaan" seru Alena berusaha menghindar, namun tubuhnya yg memang sedari tadi sore sudah lemas tidak bisa berbuat apa-apa. Alena hanya berusaha sekuat tenaga agar Dave menghentikannya. Namun, Dave tetap fokus menjelajahi leher Alena dan mulai meremas p******a kanan Alena.
"Dave..hmm..aah..berhenti!" teriak Alena disela desahannya karena Dave semakin kuat meremas payudaranya. Dave menghentikan aktivitasnya lalu menatap Alena.
"Kamu sayang aku kan? Kalo iya, jadi ngga masalah dong kalo malem ini aku ambil keperawanan kamu" ucap Dave dengan datar.
"Aku emang sayang sama kamu tapi bukan berarti aku harus kasih keperawanan aku disaat kita belum nikah Dave!"
"Alah persetan! Kalo keperawanan aja ga mau ngasih, gimana lu bisa nerima keadaan gue hah?" ucap Dave kesal.
"Maksudnya?" tanya Alena tidak mengerti. Dave mengacuhkan kebingungan Alena. Dia justru membuka paksa piyama yg dikenakan Alena dan juga menarik bra milik Alena hingga lepas dan menampilkan keindahan kedua gunung kepunyaan Alena. Alena syok dengan apa yg dilakukan Dave begitu cepat. Dave mulai menghisap p****g Alena dengan lahap. Otak Alena memaksa untuk menghindar, tetapi tubuhnya justru menerima apa yg dilakukan oleh Dave. Ini sungguh pertama kalinya untuk Alena.
"Dave berhenti..aah..hmm.." racau Alena memohon supaya Dave berhenti akan tetapi tangannya justru bertolak belakang dengan ucapannya, tangan Alena justru menekan kepala Dave kearah payudaranya. Akhirnya Alena hanya pasrah dengan apa yg akan terjadi selanjutnya. Kalau memang ini yg akan membuat Dave kembali ke sisinya, maka Alena hanya akan mengikuti alurnya saja.
Dave menghisap dan memainkan p****g p******a Alena secara bergantian antara yg kiri dan kanan. Bahkan Dave memberikan bercak keunguan di sekitaran p******a Alena dengan diiringi desahan yg keluar dari mulut Alena, sesekali ia menggigit bibir bawahnya karena kenikmatan yg ia dapatkan. Dave yg merasa tergoda dan kembali mengulum bibir Alena dengan buas bahkan menggigit bibir bawah Alena hingga terluka. Sontak Alena kaget dan merasakan sakit, seketika mulutnya terbuka dan kesempatan itu Dave gunakan untuk memasukkan lidahnya agar bertemu dengan lidah Alena. Bersamaan dengan itu kedua tangan Dave meremas p******a Alena.
Dave melepaskan seluruh yg tersisa di badannya. Hingga sesuatu yg besar dan panjang mengacung tinggi. Alena kaget melihatnya sekaligus takut. Perlahan Dave melepaskan celana dalam Alena, kini mereka berdua sudah tidak mengenakan apapun. Dave kembali melahap p****g p******a Alena dan tangannya mulai meraba-raba bagian yg paling sensitif bagi Alena.
"Hmm...nghh..aah.." Alena mendesah sejadinya
"Mulai basah sayang" ucap Dave. Dirinya mempersiapkan miliknya untuk menerobos masuk ke ruang pribadi Alena. Dave berusaha memasukinya, namun ternyata tidak mudah.
"Aw!" jerit Alena kesakitan
"Pelan-pelan Dave, punya kamu besar dan punya aku sempit jadi sakit banget"
"Tahan ya sayang.." Dave mulai mendorong miliknya lebih kuat dan akhirnya berhasil masuk
"Aaaah!!.." teriak Alena lalu meneteskan air mata akibat rasa sakit yg ia rasakan sekaligus pertanda keperawanannya sudah hilang pada detik itu juga
"Aah..sakit..pelan..pelan...aaah..ughh.." Dave terus mengenjotnya dengan sangat cepat yg diiringi dengan desahan Alena. Miliknya terasa sesak dan penuh di bawah sana. Ia hanya memejamkan mata, sesekali membukanya, dan sesekali juga menggigit bibir bawahnya. Mendengar desahan Alena, membuat genjotan Dave semakin kuat dan cepat.
"Hmm...ngh..ahh..ah..ah..ah"
Malam yg sangat indah dan panas bagi mereka berdua.
---
Alena perlahan membuka matanya. Sudah pagi ternyata. Alena kebingunan mencari sosok Dave yg seharusnya ada disebelahnya, tetapi lelaki itu tidak ada disana. Alena melihat bercak darah di seprai tempat tidurnya. Dia tersadar bahwa dirinya berbeda dengan hari sebelumnya. Lost. Yap. Her virginity. Alena meraih ponselnya dan akan menelfon Dave. Akan tetapi, lelaki itu tidak dapat dihubungi. Rasa takut mulai melanda dirinya.
3 minggu kemudian...
Hilangnya keperawanan Alena dan hilangnya Dave seperti angin yg berhembus begitu saja. Lenyap sudah. Bahkan saat ini seluruh sosial media milik Dave seperti hilang ditelan bumi. Alena mengutuk dirinya sendiri. Kini ia hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya. Selama 3 minggu ini Alena hanya berdiam di dalam kamar apartmentnya. Hanya Kate yg datang menemani dan menjamin bahwa setidaknya Alena makan hariitu. Jiwanya benar-benar terguncang. Hingga akhirnya Ervan datang. Ervan adalah sahabatnya sedari kecil bahkan keluarga mereka berdua sudah seperti saudara. Namun, saat menginjak bangku perkuliahan Ervan memilih kuliah diluar negri. Hingga akhirnya ia kembali ke Indonesia karena studinya sudah usai, dan ingin sekadar berlibur di tanah kelahirannya.
"Gue takut hamil Kate! Kalo sampe itu terjadi siapa ayah dari bayi gue! Dave aja sekarang gatau keberadaannya dimana!" ucap Alena diiringi dengan tangisnya. Kate memeluk erat sahabatnya itu. Ervan hanya memandangi mereka berdua.
"Gue yg bakalan bertanggung jawab kalo sampe lu hamil. Gue yg nikahin lu. b*****t juga tuh cowo udah making love pergi gitu aja" ucap Ervan kesal. Lalu ia berjalan keluar menuju balkon. Ia mulai mengambil rokoknya di dalam saku celana.
"Kita berpikir positif aja dulu siapa tau Dave ngga keluar di dalem dan lu ngga hamil"
"Ngga... gue yakin banget dia keluar di dalem"
"Mau dia keluar di dalam atau ngga, yg terpenting sekarang lu harus move on dari cowo b******n itu dan lanjutin hidup lu. Kalo sampe lu hamil biar gue yg ngadepin orang tua lu, gue yg nikahin lu. Sekarang lu harus mulai cari kerja. Jangan jadi pengangguran, nambah-nambah beban negara aja lu" ucap Ervan lalu ia menghisap rokoknya.
"b******k lu!" teriak Alena lalu dia menghapus air matanya.
"Udah tenang ada gue sama Ervan, kita ngga akan biarin lu ngadepinnya sendirian" ucap Kate.
"Kita nyalon yuk Kate terus belanja" ucap Alena tiba-tiba.
"Nah gitu dong ini Alena yg gue kenal, harus kembali ceria"
Benar kata Ervan, dirinya harus melanjutkan hidup. Dia tidak bisa hanya berdiam diri saja meratapi nasib dan mengingat Dave dan kejadian malam itu. Hidup harus tetap berlanjut.
---
Ya, itu adalah kenangan pahit bagi Alena. Hingga saat ini ia belum mengetahui alasan yg sebenarnya mengapa Dave mengakhiri hubungannya begitu saja padahal mereka berencana untuk membangun rumah tangga bersama, semua perkataan Dave di malam itu yg sampai saat ini tidak ia mengerti dan ia pun tidak mengetahui selama Dave menghilang, lelaki itu berada dimana dan saat ini dengan tenangnya Dave datang lagi ke kehidupan Alena dan mengorek luka masa lalunya, akan tetapi entah mengapa sisi dalam dirinya sangat bahagia saat Dave kembali. Sisi dalam diri Alena seperti bertengkar antara membenci dan mencintai Dave. Bahkan saat Dave pergi begitu saja saat mengetahui pernyataan dari Ervan, ia sangat ingin mengejarnya dan memberinya penjelasan sebenarnya. Bodoh bukan? Masih saja ia berkutat dengan pintu yg sama. Pintu yg seharusnya 2 tahun lalu sudah ia tutup rapat, tetapi hingga saat ini dirinya belum bisa melakukannya. Bahkan pintu itu terbuka perlahan begitu saja, dan menarik Alena untuk kembali memasukinya.
"Ah s**t bosen banget dirumah sakit. Mending di kantor bisa kerja" dengus Alena.
Tiba-tiba dirinya menoleh kearah pintu masuk. Dia seperti melihat seseorang mengintip dari kaca pintu kamarnya, namun orang itu langsung menghilang saat Alena menyadari keberadaannya.