Bab 49

1675 Kata

“Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, Ibrahim?” tanya Pak Syukur setelah mereka berdua duduk berdua di meja pojok kantin.   Sebenarnya Ibrahim malu untuk mengatakannya, tapi waktunya tidak banyak saat ini. Masih ada waktu sepuluh menit hingga Ibrahim harus pergi ke kelas selanjutnya yang akan dia ajar, dan jika dia tidak segera mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, bisa saja dia jadi tidak tenang.   “Saya menerima tawaran Bapak waktu itu.”   “Tawaran yang mana?” Pak Syukur sengaja bertanya seperti ini karena ingin mengerjai Ibrahim. Kapan lagikan dia punya kesempatan seperti ini.   “Bapak katanya mau membantu saya untuk menjadikan Najma asisten saya. Tanpa bantuan Bapak, saya rasa akan sangat sulit untuk meminta Najma menjadi asisten saya.”   “Ah, itu. Itu baru Kakak yan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN