“Kamu bisa bebas mendekor kamarmu seperti apa nantinya.” Senyum lembut itu terarah ke Najma. Sudut bibir Najma berkedut, dia ingin membalas senyum lembut itu, sayangnya dia terlalu susah untuk tersenyum. Dan senyum yang kaku akhirnya tersungging di bibirnya. “Mau di cat dengan warna apa? Pink?” Pertanyaan itu membuat senyum Najma semakin terlihat masam. Bahkan untuk warna favoritnya saja tidak diketahui. “Terserah Papa saja.” Pada akhirnya kedua orangtuanya benar-benar berpisah dan Najma memutuskan untuk tinggal dengan papanya. Najma tidak tahu kenapa dia memilih papanya, hanya saja dia merasa jika dia akan baik-baik saja jika dia bersama papanya dibandingkan dengan mamanya. “Perjalanan kita akan sangat jauh, jadi lebih baik kamu tidur dulu.” Seberapa jauh mer

