Merasa ditatap dengan tajam Ibrahim mengangkat pandangannya. “Apa?” tanya Ibrahim. “Apa yang kamu bicarain sama Najma tadi?” Pandangan Ibrahim yang awalnya kebingungan mendadak menjadi malas. “Tanya Najma saja, jangan tanya aku.” “Ayolah Ibrahim….” Tingkah Riza tidak pernah Ibrahim mengerti, apa maksud dari Riza bertingkah seperti inipun dia tidak mengerti. “Kenapa kamu penasaran?” “Dia enggak bicarain akukan?” “Memangnya kenapa? Apa….” Ibrahim mengerjapkan matanya dengan cepat. “Kamu takut dia membicarakanmu karena masalah yang tadi?” Riza mengangguk. “Dia enggak marahkah? Aku takut banget kalau dia sampai marah.” “Tidak, dia tidak marah.” “Syukurlah.” Kelegaan Riza malah menjadi kercurigaan Ibrahim. Kecurigaannya tidak mungkin benar bukan? “Oh

