“Ini panas banget tau!” Najma berusaha menutup wajahnya dari teriknya matahari. Ini jam 1 siang dan dengan bodohnya Najma mau saja pergi main di luar rumah. Hanya orang gila yang bermain di luar rumah saat matahari tengah terik-teriknya.
“Ditahan ya Kak, ini sebentar aja kok.” Liana tersenyum malu. Dia seharusnya sadar jika kakak sepupunya lahir dan besar di kota, hal semacam ini pasti tidak pernah dialaminya. Mungkin besok-besok dia harus menyiapkan payung untuk kakak sepupunya itu.
“Ini tempat biasa yang kita datengin kalau kepanasan, loh Kak Najma,” ucap Elia dengan bangganya.
“Tempat apa yang mesti lewatin kebun orang!” teriak Najma kesal.
“Cuman lewatin kebun doang kok, aslinya tempatnya di pinggir sawah,” jelas Siti dengan polosnya.
Penjelasan Siti itu malah membuat Najma tercengang. Tidak ada yang lebih baik antara sawah dan kebun, dua tempat itu sama-sama tempat yang menyebalkan untuk didatangi dan bukan tempat yang bagus untuk dirinya. Najma kira anak-anak desa seperti Liana akan bermain ya setidaknya rumah-rumahan atau masak-masakan, tapi ternyata tidak.
Di ujung jalan Najma melihat sungai yang memisahkan bagian kebun dan sawah. Semakin dekat dengan sungai, Najma akhirnya melihat jembatan bambu. Parahnya, jembatan bambu itu hanya terbuat dari dua bambu yang diletakkan begitu saja dan tidak memiliki pegangan.
“Nah kita mau ke sana, Kak,” tunjuk Liana pada bangunan yang mungkin jaraknya sekitar 100 meter dari tempat mereka saat ini. Bangunan itu tampak tua dan dinding yang berwarna putih itu tampak kotor.
“Ayo,” ajak Liana yang mengikuti langkah kedua temannya melewati jembatan bambu.
Najma diam di tempatnya karena bingung harus melewati jembatan bambu itu dengan cara apa. Sungainya memang tidak begitu besar, tapi aliran sungainya cukup deras. Jika jatuh, itu akan menjadi hal yang memalukan dan merepotkan. Najma meneguk ludahnya dengan paksa.
Liana yang sudah sampai di ujung jembatan sadar jika Najma masih diam tak beranjak sedikitpun dari posisi awalnya. “Kak? Kakak kenapa?”
“Enggak apa-apa.” Kilah Najma. Najma mengumpulkan keberaniannya dan dia pun mulai melangkahkan kakinya menapaki jembatan bambu itu. Tepat saat Najma berada di tengah-tengah jembatan, jembatan itu malah bergoyang.
“Liana! Ini gimana!” teriak Najma panik. Najma bahkan sampai duduk dan memegangi bambu.
“Kak Najma diem, jangan gerak!” seru Liana, Elia dan Siti berbarengan.
“Bawain.” Liana memberikan rantang yang dibawanya ke Siti dan dengan perlahan Liana kembali ke jembatan bambu itu untuk membantu Najma melewatinya.
“Kamu jangan jalan kek gitu!” pekik Najma karena dia bisa merasakan dengan jelas getaran yang ditimbulkan akibat langkah kaki Liana.
Liana pun memelankan langkahnya karena Najma yang ketakutan. Sebenarnya lebar sungai yang harus mereka lewati ini tidak terlalu lebar, hanya 3 meteran dan sungai di bawahnya pun juga hanya sebatas pinggang. Sampai di dekat Najma, Liana mengulurkan tangannya agar Najma bisa meraihnya.
“Naiknya pelan-pelan aja Kak,” cicit Liana karena dia juga jadi takut jika Najma sampai menariknya karena hal itu bisa saja membuatnya kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh ke sungai.
“Jangan lepasin,” perintah Najma sambil berusaha bangun.
“Jalannya pelan-pelan aja,” ucap Liana begitu Najma sudah berhasil bangun.
Tangan Najma menggenggam dengan erat tangan Liana. Setidaknya jika dia jatuh, Liana juga harus merasakan hal yang serupa karena Liana yang memiliki ide membawanya ke sini. Yah, walau begitu Najma mengusahakan dirinya tidak membuat mereka jatuh. Buktinya pandangan Najma terus terarah ke bawah, dia ingin memastikan langkahnya berada dipijakan yang tepat.
Setelah mengalami ketakutan, Najma akhirnya bisa bernapas lega karena dia bisa menginjakkan kakinya dengan selamat sampai ke seberang jembatan. Raut penuh kelegaan Najma seketika berubah kesal.
“Sumpah ya, besok-besok aku enggak mau ke sini lagi,” tegasnya. Jika setiap bermain dia akan diajak ke sini, bisa sakit jantung dia lama-lama.
Liana, Elia dan Siti hanya bisa saling pandang, mereka tentu saja merasa bersalah. Raut wajah ketakutan Najma tadi membuat mereka sangat tidak tega. Apa yang sangat biasa bagi mereka ternyata tidak bagi orang lain.
Najma mendengus kesal karena tidak ada tanggapan dari bocah-bocah di depannya ini. “Kalian mau diem aja ni? Ini panas loh.” Najma berjalan melewati semuanya, toh dia sudah tahu tujuannya ke mana.
Sampai di bangunan tua itu, ternyata ada tempat yang Najma tidak lihat saat di jembatan tadi karena tertutupi semak belukar yang tinggi. Di balik bangunan itu terdapat sebuah kolam mata air yang airnya jernih.
“Kita biasanya kalau bosen main di sini Kak, apalagi jam segini sepi jadi enak.”
Air jernih dengan pemandangan seperti ini, siapa yang tidak akan terlena dibuatnya? Apalagi semilir angin yang terasa sangat sejuk membuat suasana di sini tambah nyaman. Hanya saja, bagi Najma tempatnya kotor. Apalagi bangunanya yang tidak ada bagus-bagusnya. Jika diperbagus dan jembatannya diganti, dia pasti akan suka di sini.
“Makan dulu yuk, Kak!” seru Siti pada Najma yang terlalu terlena dengan suasana tempat yang pertama kali dia datangi ini.
“Kalian aja.” Najma tidak begitu yakin jika acara makannya akan baik-baik saja jika dia bersama dengan Elia dan Siti.
“Kata Nenek, Kak Najma belum makan.”
“Ayo Kak, makan, makan, makan,” seru Elia bersemangat.
Siti mengangguk setuju. “Enggak baik loh Kak kalau enggak makan, nanti maag. Maag tuh bahaya loh kak karena kalau maag tu–”
“Iya, iya, iya! Tapi kalian jangan cerewet gitu!” ancam Najma.
Daripada harus mendengar rengekan, lebih baik Najma menyerah. Tidak ada salahnya juga dia makan karena belum makan dari tadi. Menghadapi bocah-bocah seperti Liana dan teman-temannya ini membutuhkan tenaga yang besar.
“Ini tempat apa sih?” tanya Najma yang baru sadar jika bagian dalam bangunan yang bersebelahan dengan kolam mata air ini sama jeleknya dengan bagian luar.
“Ya tempat santai. Di sini bisa makan, salat, tidur, intinya suka-suka,” jelas Elia.
“Tidur di sini? Enggak takut ada yang dateng terus buat jahat?”
“Selama ini enggak ada yang jahat. Jam segini juga biasanya sepi, paling nanti habis asar baru rame.”
Najma ingin percaya apa yang dijelaskan Elia, tapi hal itu terlalu mustahil. Bagaimana bisa tidak ada orang yang terbersit untuk berbuat jahat? Jika mereka semua terjaga, mungkin tidak akan ada yang terjadi dan Najma harap bocah-bocah ini tidak terpikir untuk tidur di sini.
Liana mulai membuka rantang yang dia bawa. Liana sudah berencana untuk makan bersama dengan Elia dan Siti saat di sekolah, jadi mereka semua ikut membawa bekal mereka masing-masing. Minus Najma yang sengaja Liana tidak beritahu karena dia yang menyiapkannya sendiri.
“Aku pimpin doanya,” seru Elia.
Terlalu banyak hal yang Najma tidak sangka-sangka terjadi. Doa bersama sebelum makan ini apalagai. Tidakkah ini terlihat terlalu berlebihan? Berdoa sendiri-sendiri juga bisakan.
Najma hanya memandangi mereka yang berdoa dengan mata yang terpejam itu. Begitu doa selesai, Najma langsung mengambil bagiannya. Najma memutuskan untuk menggeser posisi duduknya agar bisa melihat ke area luar. Ini cara yang Najma lakukan agar terhindar dari bocah-bocah menyebalkan itu.
Di tengah menikmati pemandangan, Najma mengernyit bingung. Kenapa suasananya mendadak setenang ini. Najma kira suasananya akan pecah karena suara ribut.
Dari ujung matanya, Najma memperhatikan Liana, Elia dan Siti. Tiga orang itu tampak makan dengan tenang dan tidak bersuara sama sekali. Ini jelas di luar perkiraan Najma. Acara makan yang sepi ini malah membuat Najma merasa tidak nyaman.
Setelah selesai makan siang, barulah Najma mendengar lagi kehebohan dari tiga anak itu. Najma memilih untuk merebahkan badannya karena dia tidak ingin membuang-buang tenaganya untuk berbicara. Dia hanya akan merebahkan badan, tidak tidur.
“Kak Najma kita mau mandi. Kakak mau ikut enggak?” tanya Liana.
“Males, sana kalian aja.”
“Yakin?” tanya Liana memastikan.
“Iya, sana pergi,” usirnya.
Liana tampak berat hati meninggalkan Najma seorang diri, padahal jarak perpisahan mereka hanya beberapa meter saja. Berbanding terbalik dengan Liana, Najma malah senang-senang saja ditinggal sendirian seperti ini walau Najma masih bisa mendengar suara ribut dari Elia dan Siti.
“Bom jatuh!”
Suara teriakan keras yang disusul suara sesuatu yang jatuh sukses membuat Najma bangun karena kaget. Dengan kesalnya Najma keluar dan menghampiri Liana dan teman-temannya itu.
“Kalian heboh banget sih!” seru Najma kesal.
“Ayo Kak Najma, mandi juga.” Siti berseru riang.
“Enggak gitu cara ngajaknya,” bisik Elia.
Seketika saat itu juga Elia menyipratkan air dengan cepat ke arah Najma. Aksi Elia yang menyipratkan air juga diikuti oleh Liana dan Siti. Mendapatkan siraman yang mendadak Najma hanya bisa pasrah seluruh badannya basah.
“Ayo Kak, turun ke bawah,” ajak Liana.
“Sana kalian jauhan!” ucap Najma ketus.
Liana, Elia dan Siti kompak menjauh ke tengah kolam. Mereka terlihat tersenyum puas karena membuat Najma bisa bergabung bersama mereka. Berbanding terbalik, Najma tampak suram.
“Di sini enggak ada ular atau buayakan?” Melihat ikan-ikan kecil itu berenang tentu saja membuat Najma menjadi parno.
“Bening gini mana ada buaya, ular mungkin ada kalau jatuh dari pohon sana.” Elia tertawa terbahak.
Tawa penuh kepuasaan itu membuat Najma sadar jika dia hanya dipermainkan oleh Elia. Pertanyaannya memang terdengar bodoh sih. Perlahan Najma memberanikan dirinya menuruni anak tangga kolam. Di tangga pertama tidak ada air, begitu kaki Najma berada di anak tangga kedua, dinginnya air kolam langsung menyambut Najma.
Tanpa berpikir panjang lagi Najma memasukkan seluruh badannya ke dalam kolam. Dia sedikit berenang ke tengahan menghampiri Liana, Elia dan Siti. Jelas sekali terlihat mereka tampak antusias. Ke antusiasan itu membuat Najma merasa bingung, tidakkah itu terlalu berlebihan hanya karena dirinya yang ikut andil?
“Gimana? Ini bahkan lebih nyaman dibanding kolam renang di kotakan Kak?” tanya Liana.
Apa yang dikatakan Liana tidak diiyakan oleh Najma secara langsung, tapi Najma mengakui jika apa yang dikatakan Liana benar. Rasa segar yang menyelimutinya ini memberikan sensasi yang sangat berbeda dengan kolam renang yang biasanya dia datangi.
“Lomba renang yuk, yang kalah harus teraktir es. Kak Najma juga harus ikut,” tantang Elia.
“Kamu nantangin?” Najma mendengus geli. Sedari awal Elia memang anak yang terlalu frontal dan sekarang dia dengan berani Elia menantangnya? Apa Elia bercanda.
“Ya.” Elia tersenyum dengan lebarnya.
“Elia, jangan gitu,” bisik Siti.
“Dosa ih, mending yang kalah harus gendong yang menang,” usul Liana.
“Iya boleh aja sih, tapi Kak Najma masak enggak ikut?”
Dari Elia yang menertawakannya dan sekarang malah menantang, tidakkah dia cukup punya nyali yang besar? Najma tentu tidak ingin diremehkan begitu saja oleh bocah satu ini. “Oke, aku setuju kita lomba renang pakai taruhan yang pertama.”
“Jangan taruhan Kak, enggak baik.” Liana menegur karena taruhan sama saja dengan judi dan itu tidak boleh dilakukan, apalagi sampai nenek atau orangtuanya tahu. Mungkin rotan akan melayang.
“Cuman taruhan es doang, apanya yang enggak baik. Ayo Elia.” Najma mengambil ancang-ancang di tempat yang akan menjadi garis star mereka.
Elia menoleh ke arah Liana, Liana menatapnya dengan tajam. Liana berharap jika Elia sadar akan kode yang dia berikan lewat tatapan matanya. Elia tampaknya paham dengan tatapan Liana.
Seperti harapan Liana, Elia seketika berucap, “Enggak jadi deh Kak.”
“Ah, pokoknya ayo!” teriak Najma keras. “Kamu jangan ngancem temen-temen kamu Liana! Ayo lomba, kalian semua harus ikut!”
Amarah Najma membuat Liana pasrah mengikuti keinginan Najma. Dalam hatinya Liana dan Siti menyalahkan Elia yang dengan beraninya menantang taruhan.