Bab 7

1709 Kata
“Daripada kamu diam enggak ada kerjaan seperti itu, lebih baik kamu perbanyak hapalanmu.”   Lamunan Najma seketika buyar karena ucapan neneknya itu. Dia melirik neneknya dengan malasa dan sadar jika neneknya tanpa lebih rapi.   “Nenek mau kemana?” Sejujurnya Najma tidak terlalu peduli jika neneknya pergi, malah bagus, tapi dia tetap merasa harus tahu neneknya pergi ke mana.   “Mau bantu-bantu persiapan nikahan, kamu mau ikut?”   Segera saja Najma menggeleng dengan tegas. “Enggak, aku di rumah aja buat hafalin apa yang Nenek suruh.”   “Ya sudah, Nenek berangkat dulu.”   “Nek, uang jajannya mana?” Sudah beberapa hari Najma di sini dan ini pertama kalinya Najma menagih uang jajan yang dijanjikan oleh neneknya itu.   “Kamu mau beli apa?” Sambil mengatakan itu Rida tetap membuka dompet yang dibawanya. Dia kemudian memberikan selembar uang lima ribu untuk Najma.   Lembaran uang lima ribu itu membuat Najma tidak berkedip sama sekali. “Cuman segini?” tanyanya memastikan.   “Ya mau kamu berapa? Ini bahkan lebih dari cukup.”   “Kurang Nek, ini bahkan lebih dikit dari uang jajanku.” Sekali jajan pun ini akan habis dan Najma butuh sedikit lebih banyak.   “Di kota dan desa itu beda. Kamu belum pernah belanja di sinikan? Kalau kamu sudah belanja baru kamu bisa rasain begitu besar uang ini.”   Tidak ada balasan dari Najma, Najma hanya memandangi neneknya dengan kesal.   “Ya sudah kalau kamu enggak mau.” Rida hendak mengambil kembali uang yang baru saja dia berikan namun dengan cepat Najma memasukkan uang itu ke dalam kantong bajunya.   “Ya udah deh, sana Nenek pergi aja,” usir Najma. Jika semakin lama neneknya di sini, bisa-bisa neneknya malah memaksanya untuk ikut atau melakukan banyak hal lain lagi yang Najma tidak inginkan.   “Ya sudah Nenek pergi dulu.”   Pandangan Najma jatuh pada tangan yang tersodor di depannya. Dia kemudian menatap neneknya.   “Salam,” ucap Rida memperjelas maksudnya menyodorkan tangannya. Najma harus dibiasakan untuk melakukan salam pada orang yang lebih tua.   Perlahan Najma mengambil tangan neneknya. Dia membawa telapak tangan itu ke atas keningnya. Sudah lama sekali Najma rasanya tidak melakukan salaman seperti ini. Najma yang hendak melepaskan tangan neneknyapun seketika kaget saat neneknya dengan sigap membawa tangannya ke depan bibir.   “Salaman itu bukan di jidat, bawa ke bibirmu. Telapak tangan orang yang lebih dewasa harus dicium. Ingat ini,” perintah Rida.   “Assalamualaikum,” ucap Rida kemudian pergi meninggalkan Najma yang masih kaget dengan apa yang Rida lakukan.   “Waalaikumussalam,” jawab akhirnya Najma dengan pelan.   Sekarang tinggallah Najma sendirian di rumah. Najma sadar jika apa yang dilakukannya di sini tidak pernah benar sama sekali. Gaya hidup di desa yang sangat berbeda dengan di kota jelas memberatkannya.   Selain gaya hidup, sikap neneknya yang keras membuat Najma tak tahan. Tadi malam neneknya bersikap sangat menakutkan. Hanya karena dia yang sedikit lupa cara membaca setiap ayat iqro, dia harus mendapatkan pukulan dari penggaris panjang. Mau tidak mau Najma harus mengulang setiap kesalahannya. Lupa-lupa begitu, Najma cepat belajar hingga dia bisa berada di iqro empat.   Perlahan Najma mengambil iqro yang ada di atas meja. Dia tidak mau dipukul dengan penggaris lagi. Neneknya bahkan tidak takut saat dia mengatakan akan melaporkannya pada komnas perlindungan anak. Jadi, selama di sini mau tidak mau  dia harus mengikuti semua peraturan neneknya.   “Ah, aku benci Nenek!” teriak Najma. Mulutnya memang mengucapkan itu, tapi tetap saja Najma melakukan apa yang diperintahkan neneknya.   Najma belajar dengan malas-malasan. Mencoba belajar membaca beberapa kata kemudian dia beristirahat sejenak. Kepalanya terasa panas karena semakin jauh iqro yang dibacanya semakin sulit. Setelah cukup lama Najma belajar membaca iqronya, sebuah salam terdengar sangat nyaring.   “Assalamualaikum!” Tiga suara berseru secara bersamaan.   Najma yang berbaring di atas sofa perlahan bangun dan beranjak dengan malas. Tanpa membuka pintu saja Najma sudah tahu si pemilik suara. Setelah seharian bermain bersama, Najma tentu jadi hafal suara itu.   Begitu pintu terbuka, senyum lebar yang mengembang di bibir Elia membuat Najma memutar bola matanya bosan. “Ayo pergi,” ucap Najma.   “Kunci pintu dulu Kak,” tegur Liana karena Najma yang langsung pergi begitu saja. Liana buru-buru menutup pintu rumah dan mengejar Najma.   “Tunjukin kalian mau ditraktir di mana,” ucap Najma tanpa basa-basi.   “Di Bi Ida aja.” Siti memberi saran.   “Ya udah, tunjukin jalannya.”   Akhirnya mereka berempat pergi menuju warung Bi Ida yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Siti sengaja memberi saran untuk pergi ke warung Bi Ida karena warung Bi Ida sangat dekat dengan lapangan yang biasa digunakan oleh anak-anak yang lain main. Siapa tahu mereka bisa ikut bermain di sana rencananya.   Najma harus meneraktir Liana, Elia dan Siti karena ternyata dia yang kalah dalam lomba renang kemarin. Najma sangat tidak percaya jika kemarin dia sampai kalah oleh tiga anak yang bahkan terlihat lemah ini, tapi ternyata dia yang lebih lemah dibandingkan tiga anak ini. Seharusnya Najma meneraktirnya kemarin tapi Najma ingat dia tidak memiliki sepeser uang, jadi Najma berjanji akan meneraktir semuanya besoknya dan Najma pun menepati janjinya sekarang.   “Ini aku traktir es doang ya, kalian jangan banyak mau!” Najma memperingati. Bisa-bisa uang lima ribu yang diberikan nenek habis karena diperas oleh Elia yang terlihat lebih licik daripada Liana dan Siti.   “Kak Najma enggak perlu teraktir Lia,” ucap Liana. Liana menolak traktiran Najma karena dia merasa menambah beban kakak sepupunya saja.   “Udah deh enggak usah ngerasa enggak enak. Aku udah kalah, jadi aku bakalan traktir kalian minum es semuanya.” Untuk hal seperti ini Najma merasa dia tidak perlu dikasihani. Toh hanya es yang harganya tidak seberapa, jadi tidak masalah baginya.   Setelah beberapa saat berjalan akhirnya mereka tiba di warung Bi Ida. Najma yang melihat warung itu hanya bisa menghela napas. Seperti yang beberapa kali Najma lihat di desa ini, semua warungnya sama.   “Pesen dong,” perintah Najma.   “Kak Najma aja yang pesen.”   Najma melirik Elia yang malah melimpahkan urusan memesan padanya. “Itukan es yang mau kamu minum, jadi pesen aja sesuai seleramu.”   Mendapatkan perintah seperti itu, Liana, Elia dan Siti akhirnya memesan es yang sesuai selera mereka.   “Makasi ya Kak,” ucap Liana, Elia dan Siti berbarengan.   “Iya, sama-sama.”   Begitu membayar barulah Najma sadar apa yang diucapkan neneknya. Harga yang terbilang sangat murah untuk tiga es, bahkan dari kembaliannya itu Najma masih bisa membeli cukup banyak snack untuk dia makan di rumah. Hanya dengan uang lima ribu rupiah Najma berasa kaya di sini.   Najma tersadar jika dia tidak boleh terlena dengan harga murah yang ditawarkan di desa ini. Semurah-murahnya harga di desa, tetap saja barang yang dijual di kota lebih beragam dan lebih enak.   Sambil menenteng kantung plastik berisi snacknya, Najma mengikuti langkah tiga sekawan di depannya. Ketiga sekawan itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah lapangan yang tidak terlalu ramai.   “Ikut!” teriak Siti dan Elia berbarengan.   Siti dan Elia yang berlari seketika berhenti dan menoleh ke arah Liana dan Najma yang malah diam di posisi terakhir mereka.   “Kalian enggak ikut?” tanya Elia.   Liana menoleh ke arah Najma dan Najma hanya memandangi Liana dengan pandangan datar. “Aku enggak akan ikut main, sana pergi,” usirnya.   Liana menggeleng. “Kalau Kak Najma enggak ikut, Lia enggak ikut juga.”   Di mata Najma, Liana itu sangat polos, tapi Najma maklumi itu karena Liana anak sekolah dasar dari desa.   “Ya udah, kita duduk di sini aja.” Tepat di samping Najma ada sebuah bangku panjang yang berada di bawah pohon mangga.   “Ya udah kita main dulu!” teriak Elia.   Tinggallah Najma dan Liana. Sambil menyantap snack yang dibelinya, Najma melirik Liana. “Kamu kok suka banget ngekorin aku sih? Ini bukan karena Nenek yang maksa kamu kan?”   “Ya karena Lia suka aja sama Kak Najma.”   Baru kali ini ada yang menanyakan pendapatnya dulu dan mengikuti apa yang diucapkannya. Senang? Entahlah Najma bingung karena ini kali pertamanya ada seseorang yang melakukan hal ini padanya.   “Ya terserah kamu aja deh.” Najma memilih untuk mengakhiri pembicaraan. Najma lebih memilih untuk khusyuk menikmati snacknya. Najma merasa dirinya sudah lama sekali tidak menyantap snack seperti ini, walau sekarang snack yang dimakannya adalah snack yang murahan.   Dari tempatnya sekarang duduk Najma bisa melihat dengan jelas anak-anak yang bermain dengan serunya di tengah lapangan itu. Rata-rata anak yang bermain seumuran Liana dan Najma merasa jika dia sudah terlalu besar untuk bermain dengan anak sekecil Liana, apalagi mereka memainkan permainan yang Najma sendiri tidak tahu cara bermainnya.   “Kak Najma enggak mau coba ikut main?”   Pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Liana membuat Najma menghentikan kunyahannya. Najma kemudian menelan dengan cepat snack yang di makannya dan setelah itu berucap, “Kalau kamu mau main ya main aja kali.”   Ini yang Najma tidak suka, jika Liana ingin main ya dia main saja, kenapa dia sampai menanyakan pendapatnya. Najma tidak suka dipaksa-paksa.   “Tapi Lia mau main kalau ada Kak Najma.”   Najma berdecak kesal. “Dih, jangan manja deh! Udah ah, aku mau pulang aja.”   Najma lantas bangun dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Liana. Najma sangat tidak suka sekali diperlakukan seperti ini. Sudah cukup mama dan neneknya memaksa, sekarang Liana juga ingin ikut memaksanya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai? Yang benar saja.   “Kak Najma jangan marah.” Liana mengejar Najma hingga akhirnya langkah kakinya bisa sejajar dengan Najma. “Lia enggak maksud gitu.”   Najma mencoba tidak memperdulikan Liana, dia terus saja berjalan dan tidak melirik Liana sama sekali.   “Kak Najma, maafin Lia.” Liana menahan pergelangan tangan Najma.   “Kak?”   Rengekan Liana sukses membuat Najma memutar bola matanya bosan. Jika dia terus-terusan membiarkan Liana seperti ini, bisa-bisa dia akan sakit telinga. Dengan terpaksa Najma mengangguk mengiyakan.   “Iya-iya kumaafin.” Senyum terpaksa itu tergambar jelas di bibir Najma, ketika dia mengalihkan pandangannya wajahnya kembali datar.   Tak lama setelah memberikan maafnya, Najma sepertinya menyesal memberikan maafnya ke Liana.   “Anaknya Winda udah besar banget ya.”   “Iya, mana cantik banget.”   Suara yang ramai membicarakannya ini membuat Najma hanya bisa tersenyum kaku. Apa-apaan ini, bagaimana bisa dia malah berada di antara ibu-ibu yang tengah menyiapkan acara pernikahan. Najma benar-benar tak menyangka dirinya bisa terjebak di sini. Jika saja Liana tidak mengubah jalan pulang, mereka tidak mungkin ada di sini bukan? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN