Rasa dingin yang terasa di kakinya sukses membangunkan Najma. Ketika matanya yang setengah terbuka itu tak sengaja melihat jam dinding, Najma seketika mendesah lelah. Hampir pukul 5 pagi dan itu artinya dia harus bangun untuk bersiap-siap salat subuh. Najma yakin jika sebentar lagi neneknya akan masuk ke kamar dan akan menyeretnya keluar jika dia tidak segera bangun.
Selagi neneknya belum datang membangunkannya, Najma memilih untuk kembali memejamkan matanya. Baru saja Najma memejamkan matanya, suara pintunya yang hendak dibuka membuat Najma dengan sangat terpaksa membuka matanya dan bangun dari tidurnya.
“Kemajuan yang bagus,” ucap Rida karena mendapati Najma bangun tanpa perlu dibangunkan olehnya.
Najma hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Najma tidak merasa bangga mendengar hal itu. Malahan, bangun sepagi ini ini seperti mimpi buruknya bagi Najma. Bangun itu setidaknya ya jam 6 pagi.
Najma berjalan dengan gontai menuju kamar mandi yang ada di bagian paling belakang rumah. Begitu sampai di bagian belakang rumah, Najma dapat merasakan angin kencang yang menerpa tubuhnya. Angin masuk dari jendela besar yang terbuka dan tampak sangat jelas langit yang masih gelap dan gemerisik dedaunan yang bergesekan akibat angin membuat suasananya semakin mencekam. Rasa enggan untuk masuk ke kamar mandi seketika menyelimuti Najma.
“Nek, boleh enggak hari ini enggak mandi?” Pinta Najma.
“Dinginnya cuman sebentar.”
Najma menghentikan langkahnya dan matanya langsung tertuju pada ventilasi yang ada di dalam kamar mandi. Ventilasi itu membuat Najma bisa melihat dengan jelas langit yang tampak gelap. Dingin yang menusuk kulit dengan suasana yang mencekam seperti ini. Siapa yang akan berani masuk ke dalam kamar mandi jika ada semua unsur menakutkan ini?
“Enggak-enggak, aku enggak mau mandi!” Najma langsung memutar badannya hendak pergi namun segera ditahan oleh neneknya dan ditarik masuk ke dalam kamar mandi.
“Nek, Nek, aku enggak mau!” Najma meronta dan mencoba melepaskan pegangan tangan neneknya. Najma tidak berhasil melepaskan dirinya, dia bahkan dengan mudahnya dibawa masuk ke dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi langsung ditutup begitu Najma berada di dalam kamar mandi.
“Kamu udah besar Najma, jangan membuat Nenek tambah pusing dengan semua tingkahmu itu.”
“Nek, bukain!” Najma berusaha membuka pintu kamar mandi namun pintu kamar mandi nampaknya dikunci dari luar.
“Mandi Najma atau kamu Nenek mandiin di kamar saja besok?”
Ancaman itu membuat Najma terdiam dan melepaskan tangannya dari gagang pintu. Najma tidak takut dengan ancaman itu. Hanya saja, sepertinya neneknya benar-benar tidak berniat untuk membukakan pintu kamar mandi. Sifat neneknya yang seperti ini, tidakkah ini sangat mirip dengan mamanya? Yang selalu memaksakan kehendaknya.
“Najma, ayo cepat mandi.”
Suara neneknya kembali terdengar yang sukses membuat Najma semakin terlihat mesam. Dengan ogah-ogahan Najma menjawab, “Iya-iya.”
Sebisa mungkin Najma tidak melihat ke arah ventilasi atau bagian pojok kamar mandi. Dinginnya air dan suasana yang menakutkan membuat Najma melakukannya dengan cepat. Hanya 5 menit waktu yang Najma butuhkan untuk menyelesaikan mandinya dan setelah handuk terpasang ditubuhnya, dia buru-buru menggedor pintu agar dibukakan oleh neneknya.
“Jika setiap pagi kamu mandi dengan cepat seperti ini, Nenek bisa tidak terlambat ke masjid jadinya.”
“Kalau Nenek enggak mau telat, ya jangan ajak ak.…” Najma tidak melanjutkan ucapannya lagi, dia langsung bungkam saat melihat tatapan mata neneknya yang tajam.
Begitu selesai bersiap-siap dan tepat saat azan subuh berkumandang, Najma dan neneknya pergi menuju masjid yang berada tidak jauh dari rumah mereka. Hanya butuh beberapa menit untuk sampai di sana.
Di jalan yang sepi hanya terdengar suara angin dan gemeretak gigi Najma yang tidak hentinya beradu karena hawa dingin yang dia rasakan. Di depan sana akhirnya terlihat gerbang masjid yang terbuka lebar. Najma ingin segera masuk ke dalam karena di luar begitu dingin.
“Assalamualaikum, Nek Rida.”
Langkah kaki neneknya terhenti dan Najma mau tidak mau menghentikan langkahnya. Selalu saja seperti ini, disapa dan ujung-ujungnya mengobrol lama. Bagi mereka yang sudah hidup di desa ini sih sudah biasa dengan hawa dingin seperti ini, tapi tidak dengan Najma. Jadi ayolah jangan terlalu banyak basa-basi.
“Waalaikumussalam, Nak Ibrahim. Kapan pulang?”
“Baru pulang tadi malam Nek.”
Najma sangat tidak tertarik dengan basa-basi yang dilakukan neneknya itu, Najma juga sudah tidak bisa menahan angin dingin yang menerpanya. Dengan tidak sabaran Najma berucap, “Nek aku masuk duluan ya!”
Tanpa menunggu jawaban dari neneknya Najma sudah berjalan menjauh.
“Cucu Nenek yang dari Kota?”
Najma bisa mendengar pertanyaan itu dan itu adalah pertanyaan yang sering Najma dengar. Biasanya setelah pertanyaan itu akan ada cerita-cerita lainnya yang akan diucapkan oleh neneknya. Entah itu karena neneknya yang menceritakannya dengan sukarela atau karena keingin tahuan orang yang bertanya.
Setelah solat subuh selesai Najma akhirnya bisa menikmati waktunya di dalam kamar. Dia terlalu mengantuk hari ini dan malas pergi ke mana-mana. Efek membantu persiapan pernikahan orang yang bahkan Najma tidak kenal, sekarang badannya terasa sangat lemas dan dia ingin tiduran saja rasanya. Begitu Najma bisa merebahkan kembali badannya di atas tempat tidur, dia merasa senang.
Najma kira setelah dibangunkan untuk sarapan dia memiliki waktu untuk dirinya sendiri, tapi siapa sangka dia lagi-lagi tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Waktunya sekarang habis mengikuti keinginan neneknya, tidakah itu seperti mimpi buruk?
“Kita mau ngapain sih Nek?” Najma mengikuti langkah neneknya yang ternyata masuk ke dalam kamarnya. Apa yang ingin neneknya lakukan di kamarnya?!
“Pergi ke acara nikahan anak Ustaz Burhan.”
“Yang kemarin? Enggak deh aku capek.” Najma memilih untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Kemarin dia yang tak sengaja tertahan di sana saja sudah merasa lelah karena keramaian yang ada, apalagi sekarang waktu hari pernikahan yang pasti berisi lebih banyak orang lagi.
“Ya kalau kamu tidak mau ikut ya gampang, uang jajan kamu tidak akan Nenek kasih.”
Selalu ada ancaman yang Najma terima. Jika bisa kabur, Najma benar-benar akan kabur dari tempat ini. Sayangnya Najma tidak bisa melakukan itu dan semuanya akan berakhir di mana dia yang harus menurut.
“Ya udah aku ikut,” ucap Najma mengiyakan ajakan neneknya itu. Setidaknya dengan memiliki uang jajan Najma bisa membeli hal yang mungkin saja membuatnya bahagia di sini.
Melihat neneknya yang sibuk membongkar lemarinya membuat Najma penasaran dan segera bertanya, “Mau cari apa Nek?”
“Ini nyari baju buat kamu pakai buat acara nikahan, tapi kenapa tidak ada yang cocok.”
Najma beranjak menuju lemari yang terbuka dan memperlihatkan baju yang bisa dia pakai ke acara pernikahan yang ingin neneknya hadiri. “Inikan bisa,” katanya sambil memperlihatkan celana jeans dan baju pilihannya.
“Celana jeans tidak cocok untuk acara seperti ini.” Nenek mengambil celana jeans itu dan memasukkannya kembali ke dalam lemari.
“Tapi aku enggak bawa dress jadi pakai itu aja udah cukup Nek!”
“Ayo ikuti Nenek.”
Mengiyakan ucapan neneknya sama dengan setuju dengan menyerahkan dirinya atas semua hal yang akan neneknya perbuat. Rok polos dengan model A-line jadul milik mamanya menjadi pilihan Najma karena itu yang paling terlihat normal di matanya dan itu yang bisa dipadu-padankan dengan berbagai macam atasan yang dia bawa.
“Setelah acara akad, nanti agak siangan resepsinya dimulai jadi selagi nunggu acara resepsinya mulai kamu bisa main.”
“Iya,” jawab Najma dengan lesu.
Akad nikah yang berlangsung di masjid membuat Najma tidak perlu repot-repot berjalan jauh karena jarak masjid yang cukup dekat dengan rumah neneknya. Duduk di antara warga-warga desa yang menghadiri acara akad nikah terasa sangat menyesakkan bagi Najma. Dia tidak terbiasa dengan hal seperti ini, apalagi semuanya orang asing dan tanpa ragu memandanginya.
Najma melirik Liana yang duduk di sampingnya. Ketika Najma melirik Liana, entah bagaimana Liana menoleh juga ke arah Najma dan Liana tersenyum dengan lebarnya. Buru-buru Najma memutuskan kontak mata mereka. Najma masih kesal dengan Liana, tapi dia tidak punya pilihan lain selain bersama Liana di tempat seperti ini.
Entah sudah berapa lama Najma duduk, yang jelas sekarang dia sudah merasa bosan dan ingin pergi dari tempat ini.
“Ini kapan mulai sih?” tanya Najma pada Liana. Semenjak masuk ke dalam masjid, Najma memutuskan untuk duduk agak jauh dari neneknya. Berada di dekat neneknya membuat Najma merasa tertekan dan tidak tahan.
“Bentar lagi juga mulai,” bisik Liana.
Untuk kesekian kalinya Najma dibuat mendesah bosan. Dia ingin acara ini segera berakhir, tapi acaranya sendiri bahkan belum di mulai. Efek bosan membuat Najma memutuskan memejamkan matanya. Lebih baik seperti ini memang, beristirahat sejenak karena mungkin saja setelah ini dia akan mendapatkan omelan dari nenek.
“Nah, ini udah mulai ni,” bisik Liana lagi.
Terdengar jelas sekali suara doa-doa yang dibacakan mengawali pembukaan acara akad nikah yang akhirnya dimulai. Setelah itu terdengar sambutan-sambutan yang dilakukan oleh seorang MC.
“Akad nikahnya kapan dimulai?” Najma lagi-lagi bertanya karena dia sudah tidak sabar untuk segera mengakhiri acara pernikahan ini.
“Enggak tahu juga sih Kak, mungkin bentar lagi.
Jawaban tidak pasti itu sukses membuat Najma mendesah lelah. Terlihat jelas dia yang tidak suka dengan acara ini. Baru tiga hari Najma di sini tapi dia sudah menulis cukup banyak hal-hal yang dia tidak sukai di tempat ini. Mungkin dalam satu bulan satu ,buku akan full dengan hal-hal yang tidak disukainya.
Najma yang mencoba mengabaikan acara yang berlangsung mendadak merinding. Bulu kuduknya berdiri tanpa di komando dan itu karena satu ucapan dari pengeran suara yang terdengar.
“Audzubillah himinas syaithon nirrojim….”
Di akhir ucapan yang panjang itu, Najma perlahan membuka matanya. Si pemilik suara sukses membuat Najma tertarik.
“Bismillahirrahmanirrahim….”
Suara itu kembali terdengar dan Najma seketika memegangi dadanya yang berdetak dengan cepat. Najma menegakkan tubuhnya dengan tangan yang masih menyentuh dadanya kirinya.
Padahal baru ta’awudz dan basmalah yang laki-laki itu ucapkan dan Najma sudah sangat tertarik mendengarnya. Suara yang sangat merdu itu membuat Najma ingin mendengarnya lagi dan lagi.
Setelah jeda yang tak terlalu lama, suara laki-laki itu kembali terdengar melanjutkan bacaannya ke surah yang Najma sendiri tidak tahu. Semakin lama mendengar suara bacaan Al-Qur’an itu Najma jadi terlena, bahkan tanpa sadar matanya sampai berkaca-kaca.
Keingintahuan siapa pemilik suara itu membuat Najma berusaha melihat siapa sosok yang membacakan ayat Al-Qur’an itu. Sayangnya dia ada di posisi di mana dia tidak bisa melihat sosok itu. Laki-laki yang memiliki suara semerdu itu, kira-kira seperti apa wajahnya?
Apa dia seindah suaranya?
Najma jadi ingin mengenalnya.