Seperti biasanya Ibrahim terbangun pukul 3 dini hari. Sejenak Ibrahim termenung memandangi langit-langit kamarnya. Dia kembali teringat pembicaraannya dengan Pak Syukur kemarin siang. Menjadikan Najma sebagai asistennya memang sebuah tawaran yang sangat menarik. Dia bisa memantau keseharian Najma dengan mudah jika dia mampu menjadikan Najma asistennya. Membuat Najma lebih sibuk pada akademiknya adalah pilihan yang terbaik agar Najma tidak terjerat pergaulan yang salah dengan kekasihnya itu. Tiba-tiba di bayangan Ibrahim terbersit sosok Najma yang menggunakan kerudung. Sebuah perubahan membuat Ibrahim merasa senang, sayangnya sekarang Najma tidak menggunakannya lagi. “Apa dia melepasnya saat aku menolaknya?” Ibrahim seketika menarik napas panjang. Rasanya berat sekali membayang

