“Intinya dulu tuh dia enggak baik… nyebelin gitu lah, jadi gue enggak suka aja.” Najma mendorong kantung plastik yang berisi rice bowl tadi ke arah Viona. “Nih lo makan aja.” “Serius nih?” tanya Viona memastikan dan dibalas anggukan Najma. Viona pun menerima rice bowl tadi dengan senang hati. “Tapi ya Naj, kok Pak Ibrahim kelihatan baik-baik aja ya waktu itu? Kelihatan kalem dan enggak mungkin jahat.” Bibir Najma bergetar dan tanpa bisa dicegah lagi dia tertawa terbahak. Kenapa Vionanya jadi seperti ini sekarang? Dengan mudahnya dia melabelkan seseorang dengan predikat baik? “Lo sakit ya?” tanya Najma disela tawanya. “Enggak tuh. Kenapa lo jadi nuduh gue sakit?” “Gimana enggak, lo yang bilang orang kalem enggak mungkin jahat itu jelas enggak masuk akal,” katanya tak te

