“Anjiiir….” Kalimat anjir yang terucap yang terdengar penuh kekaguman membuat Najma mengernyit. “Kenapa lo?” tanyanya kemudian. “Lihat deh.” Tunjuk Viona dengan tatapan matanya. “Ada apa emangnya di sana?” Najma tidak berani menoleh ke arah pandang Viona karena dia sadar ada Ibrahim di sana, jika dia melihat ke sana, mungkin saja dia akan melihat sosok Ibrahim. “Pak Ibrahim ganteng banget. Lihat, dia baru selesai wudu.” “Lo suka liat yang begituan Vi?” tanya Hamzan. “Suka? Enggak tahu, tapi adem aja dilihat.” Najma merasa beruntung karena tidak menoleh ke arah yang Viona tujukan, bisa gawat jika dia dan Ibrahim saling bertatapan. “Tu dosen baru ngajarin gue loh,” ucap Hamzan. “Serius? Gimana cara ngajarnya? Seru?” “Seru, gampang dingerti, efek masih

