“Makan yang banyak sayang aku.” Ucapan itu membuat Najma mengangkat pandangannya. Dia menaruh sendok dan garpu yang dia pegang. “Kenapa?” tanya Najma. “Enggak apa-apa, aku seneng aja lihat kamu makan gitu.” Tangan Wira terulur ke arah Najma dan mengusap sudut bibir Najma. “Kalau pulang agak malem lagi, telepon aku.” “Iya makasi.” “Papa kamu kenapa juga ya jual motor kamu. Kenapa enggak jual motor Faiha aja.” “Mungkin gara-gara aku nabrak mobil dosen.” Najma tersenyum kecut. Ibrahim memang licik mengembalikan motornya saat papanya sudah pulang ke rumah. “Untungnya masalahnya sudah selesai.” Wira tersenyum. “Tapi kalau dosennya nyusahin kamu nantinya, kamu jangan takut buat laporin dia ke kemahasiswaan.” Najma ingin tertawa, masalahnya selesai karena dia menu

