Najma sudah melihat sosok Ibrahim yang akan masuk ke gedung A di mana ruang dosen berada. Najma buru-buru pergi ke depan ruang dosen, dia berniat menunggu Ibrahim di sana saja agar bisa langsung masuk begitu Ibrahim datang. Najma melihat-lihat sekelilingnya. Dia berharap jika tidak ada Pak Syukur tidak akan terlihat hari ini karena jika ada Pak Syukur, semuanya akan menjadi tambah rumit. Oh Najma sangat tidak suka dengan keberadaan dosen pembimbing akademiknya itu. Dari balik tembok, Najma bisa mendengar suara langkah kaki yang bergema di lorong sampingnya. Najma menguatkan dirinya, dia yakin jika Ibrahim pasti mau mengerti dan mau meringankannya. Semakin dekat suara langkah kaki itu, Najma berdiri dan bersiap menyambut kedatangan Ibrahim. Dari lorong itu benar saja muncul Ibra

