Bab 40

1833 Kata

Tangan yang sedikit bergetar itu perlahan mencoba mendorong tubuh yang ada di depannya. Pagutan bibir itu akhirnya terlepas, meninggalkan jejak panas di bibir mereka masing-masing. Suara napas yang tersenggal karena pasokan udara yang terasa menipis kemudian terdengar memenuhi ruangan.   “Capek….”   “Maaf.”   “Wir, anterin pulang sekarang.”   “Najma….” Wira menyandarkan kepalanya di bahu Najma. “Aku mencintaimu,” lirih Wira.   “Iya, aku juga cinta kamu.” Najma menepuk-nepuk punggung Wira dengan sayang. “Ayo anterin pulang, Viona pasti udah nungguin.”   “Dia nitip apaan sih?”   “Biasa, obat datang bulan.”   Tampak Wira mengangguk dengan terpaksa. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya  dan Najma menerimanya tanpa ragu.   Begitu Najma bangun, Wira langsung menarik Najma ke d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN