“Membunuh orang?” Maria membeo pada ucapan perempuan di hadapannya. Semua orang di pesawat ini kompak memberikan reaksi keheranan. “Letaknya di gedung paling tengah.” Telunjuknya terarah pada gedung paling besar di pusat kota. Bisa diduga gedung penting itu pasti memiliki penjagaan super ketat. “Tunggu dulu, sejak awal, siapa dia?” Tyan melayangkan protes. Lenka menggelengkan kepala tanpa mengucap apa pun. Dia juga mungkin sama bingungnya. “Aku yang mengatur kedatangan kalian ke sini.” Dia membetulkan posisinya, lalu menarik sedikit tepian rok untuk melakukan pose perkenalan ala bangsawan abad pertengahan. “Nama saya, Snow Aeredith Eternia,” lanjutnya seraya menutup mata khidmat. “Apa aku mengenalmu, Snow?” selidik Lenka. Terdapat semacam keterkejutan di wajah Snow kala Lenka beruc

