Aku menoleh ke belakang, menyadari keberadaan Lenka. Di sampingnya terlihat Maria terdiam seraya menerawang ke luar jendela. Tumben sekali mereka terlihat ‘normal’. Biasanya perempuan berbadan semok itu tak pernah lepas dari Lenka. Sama seperti Rena, meski tentu saja, gadis itu tidak benar-benar sampai menempel-nempel seperti cicak melekat pada dinding. Kulihat Rena terduduk tegap dengan mata terpejam. Belakang kepalanya sama sekali tak menyandar pada kursi. Entah bagaimana caranya dia bisa menikmati ketenangan dalam tidur di posisi seperti itu. “Lalu [kotak] yang kau maksud itu..?” tanyaku kepada Lenka. “Beberapa tahun lalu, kami mendeteksi kemunculan semacam artefak dari dunia lain. Untuk saat ini kami mengenalnya dengan sebutan [kotak].” Tidak bisa ya kalian memberi nama yang sedi

