Hari kedua bekerja, dan kiara sudah menyesal tidak benar-benar mati dihari pertama.
"Ini laporan apa?"
Suara dingin itu langsung membuat suasana ruangan berubah tegang. Kiara yang berdiri di depan meja kerja Govan, menahan napas.
Ini baru pukul sebelas siang, tapi pria di depannya sudah berwajah masam. Solah siap mengamuk siapa saja yang mengusiknya.
"Laporan campaign bulan lalu, Pak." Jawab Kiara berusaha tenang, namun suara yang terdengar gemetar itu tak bisa menutupi ketakutannya.
Di ruangan itu hanya ada mereka berdua, dan sebuah map yang Kiara serahkan kepada Govan sekitar tiga puluh menit yang lalu. Kaki Kiara gemetar, jika harus diumpamakan... situasi saat ini terlihat seolah seekor kelinci kecil yang tengah berhadapan dengan harimau yang lapar. Kiara ingin segera keluar dari ruangan ini agar tidak menjadi santapan empuk sang harimau.
"Kalau ini laporan," Govan mengangkat map itu sedikit, "kenapa datanya tidak sinkron?" Ujar Govan menjatuhkan map tersebut ke atas meja.
Kiara membeku. Matanya langsung bergerak cepat, mencoba mengingat kembali file yang ia kerjakan semalam.
Tidak mungkin. Kiara yakin sudah mengecek semuanya.
"Seharusnya sudah sesuai, Pak... " jawabnya hati-hati. Takut harimau di depan sana mengamuk lagi.
"Seharusnya?"
Nada Govan turun satu tingkat. Lebih pelan, tapi justru lebih menekan. Kiara rasanya sangat stress, mungkin lebih baik Govan marah-marah dan meneriakinnya seperti bos Kiara sebelumnya, dari pada tetap tenang tapi gaya bicaranya begitu mengintimidasi, dan tatapan tajam itu! Kiara rasanya tersayat-sayat oleh sebilah pedang tajam kala mata itu menatapnya.
"Di perusahaan ini," lanjutnya, "saya tidak butuh 'seharusnya'. saya butuh 'pasti'."
Dada Kiara terasa panas. Ia menggenggam tangannya pelan. Ayolah... Kiara tidak akan dipecat dihari kedua bekerjakan? Mau bagaimanapun masih banyak tagihan yang harus dibayar.
"Perbaiki. Sekarang."
Kiara mengangguk cepat. Mengambil kembali map itu dan lari keluar dari ruangan Govan. Harimau itu... Kiara tidak mau berhadapan dengannya lagi.
...
Satu jam sudah berlalu, namun Kiara masih menatap layar laptopnya. Matanya lelah, kepalanya pusing. Lalu, harga dirinya... sedikit terluka. Mungkin Karena Kiara masih berpikir, bahwa pria yang ada di dalam sana bukan hanya sekedar direktur marketing, tapi juga mantan pacarnya.
"Aku ga salah... " gumamnya pelan.
Ia membuka ulang file, membandingkan data satu persatu, dan di situ Kiara menemukannya.
Satu angka yang bergeser.
Kecil.
Tapi cukup untuk membuat semuanya terlihat tidak sinkron.
Kiara terdiam.
"... serius?"
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Kesalahan sekecil ini berhasil membuatnya dimarahi hingga seperti itu? Govan ini harimau yang lapar atau jelmaan iblis?!
"Kiara, kamu belum makan?" tanya Rima yang lewat.
Kiara menggeleng lemah, "belum lapar."
Lebih tepatnya—belum mood. Mana mungkin Kiara masih memiliki selera untuk makan setelah dimarahi habis-habisan begini. Jangankan makan... mengambil minum ke pantry saja rasanya Kiara tak memiliki tenaga.
Rima melirik ke arah ruang direktur, lalu mendekat sedikit. "Dimarahin?" tanyanya dengan nada yang sedikit berbisik.
Kiara diam. Itu sudah cukup jadi jawaban dari pertanyaan Rima.
Wanita itu menepuk pundak Kiara pelan. "Santai aja, semua orang juga pernah kena." Ujar Rima berusaha menenangkan.
Rima tidak berbohong. Tanyakan saja kepada seluruh bawahan Govan, siapa yang tidak pernah dimarahi olehnya? Tentu saja tidak ada. Mereka semua pernah, dan mereka semua tahu semenyeramkan apa Govan saat marah.
Bahkan disaat yang paling gila, pria itu pernah memarahi sekretaris sebelum tantenya Kiara karena memberikan map laporan yang warnanya tidak sesuai seperti apa yang pria itu inginkan. Satu-satunya sekretaris yang bisa mengikuti kemauan pria itu adalah tantenya Kiara, sayang sekali ia harus pindah keluar negeri dan membuat Kiara memasuki lingkaran setan ini.
Kiara tersenyum tipis. Tapi di dalam hati...
Govan... atau Govin? Siapapun kamu... ini belum selesai.
Batin Kiara menaruh dendam, harga dirinya benar-benar tak bisa hanya diam dan menerima keadaan.
Setelah laporan itu diperbaiki dan diserahkan kembali, Govan hanya melihat sekilas.
"Sudah benar."
Dua kata.
Tanpa nada minta maaf, tanpa ekspresi. Seolah kejadian tadi... tidaklah penting.
Oke. Ini benar-benar belum selesai.
Batin Kiara lagi semakin yakin atas dendamnya.
...
Sorenya, suasana kantor sedikit lebih tenang. Kiara berdiri di pantry, menatap cangkir kopi di depannya.
Sebentar lagi akan ada rapat bersama tim marketing. Govan meminta Kiara untuk membuatkannya secangkir kopi, untuk sekedar menjadi amunisi saat rapat nanti.
Tangan Kiara bergerak pelan, mengambil gula. Namun detik berikutnya berhenti.
Matanya menyipit. Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat tipis. Satu ide jahat baru saja muncul.
kalau dia suka perfeksionis...
seharusnya dia juga bisa membedakan rasa, kan?
Satu sendok.
Garam.
Kiara menuangkannya ke dalam kopi.
Dua sendok... Tiga sendok. Kiara menatap cangkir itu sejenak. Wajahnya tenang, sangat tenang. Membayangkan betapa jeleknya ekspresi Govan saat meminum ini saja sudah membuatnya bahagia.
"Pak, kopi anda."
Kiara meletakkan kopi itu di meja rapat. Tepat di depan Govan dengan ekspresi profesional sempurna. Seolah tak ada hal janggal yang baru saja dilakukannya.
Govan tidak menoleh. "Hmm," gumamnya memberikan satu respon singkat.
Rapat segera dimulai. Beberapa orang ikut duduk disana. Mulai dari kepala tim hingga seluruh anggota tim marketing. Perusahaan memang tengah disibukkan oleh peluncuran produk baru membuat tim marketing tidak bisa beristirahat satu haripun.
Kiara berdiri di sudut ruangan, memastikan semuanya berjalan lancar. Matanya tanpa sadar mencari satu sosok.
Govan.
Pria itu tampak duduk dengan tegap dan tenang seperti biasanya. Di depan pria itu terdapat satu cangkir kopi dengan tiga sendok garam di dalamnya. Ramuan racikan ala Kiara.
Minum...
Ayo minum...
Kiara merapalkan do'a bersungguh-sungguh. Seolah-olah kebahagiaannya akan sempurna jika pria itu melakukan seperti apa yang Kiara inginkan.
Mata Kiara seketika berbinar. Seolah mendengar do'a jahat Kiara, Govan mengambil cangkir itu tanpa ragu. Lalu... meneguknya.
Detik itu juga—Kiara menahan napas.
Apa Govan akan memuntahkannya? Menyemburkannya di udara dan mengacaukan rapat? Kiara tanpa sadar menantikan hal itu terjadi.
Eh?
Seolah ada yang salah, Kiara menyeringit.
Govan... tidak ada rekasi.
Pria itu terlihat tenang, meletakkan kembali cangkirnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Hah? Ini serius dia telen itu kopi?!
Tak ada seorangpun yang menyadari kebingungan Kiara. Rapat tetap berjalan seperti biasa. Pembahasan serius terus berlanjut, angka-angka, strategi, tak ada yang terlewatkan satupun.
Dan di tengah itu semua... Govan kembali meminum kopinya.
Sekali.
Dua kali.
Kiara menaruh curiga.
Jangan-jangan... lidahnya rusak?
Sampai pada akhirnya, satu detik dan sangat singkat, tapi Kiara melihatnya.
Ada sedikit perubahan di wajah itu, hanya sepersekian detik... rahangnya menegang.
Ah! Kena!
Kiara mencubit pahanya agar tidak tertawa. Kemenangan seratus persen sudah berada dalam genggamannya.
Tapi anehnya... Govan tidak berhenti. Ia tetap melanjutkan rapat, tetap berbicara dengan tenang seolah kopi asin tiga sendok garam itu tidak berarti apa-apa baginya.
Apa seharusnya dikasih lima sendok aja sekalian ya?
Rapat yang membosankan itu akhirnya selesai. Semua orang keluar satu persatu menyisakan Kiara dan Govan yang enggan beranjak dari tempat masing-masing.
"Kiara."
Suara itu memanggilnya. Govan menoleh, berdiri di sana menatap Kiara yang berdiri seperti patung.
"Ya, Pak?"
Hening beberapa detik, namun cukup lama untuk membuat jantung Kiara berdegup lebih cepat. Akan dengan cara seperti apa Govan akan mengamuk padanya kali ini?
"Besok," ucap Govan pelan, "buatkan kopi lagi."
Kiara berkedip. Dia tidak salah dengar? Govan memintanya untuk membuatkan kopi lagi? Atau jangan-jangan kopi dengan rasa asin yang mendominasi itu lebih disukainya sekarang?
Aneh... orang gila.
"... baik, Pak."
Govan melangkah mendekat, perlahan memangkas jarak diantara keduanya. Tatapan pria itu tidak lepas sedikitpun dari sekretarisnya.
"Dan pastikan," lanjutnya dengan suara yang sedikit lebih rendah, "rasanya... tidak 'sekreatif' hari ini."
Jantung Kiara berhenti satu detik.
Dia tahu.
“Kalau tidak…” Govan menatapnya lurus.
“Saya pastikan kamu yang akan meminumnya.”
Kiara perlahan mundur, sedangkan Govan terus melangkah maju. Dinding yang menjadi pembatas menghentikan Kiara, satu tangan Govan bertopang di sana.
"Balas dendam?" Ujar Govan dengan tebakan seratus persen benar. "Saya suka keberanian kamu." Apresiasinya diakhir sebelum pergi dari ruangan rapat tersebut.
Kiara sendiri masih mematung di tempat, mencerna kejadian yang baru saja berlangsung.
Sifat kompetitif itu... milik Govin. Dia Govin.
Sedangkan Govan tersenyum tipis kala benar-benar sudah meninggalkan ruangan itu.
Menarik.
Pertama kalinya ada karyawan yang berani balas dendam setelah dimarahi. Govan sungguh menikmati permainan ini.
Jadi sekarang... siapa yang menang?