4. Ritme yang Tidak Masuk Akal

1074 Kata
Hari ketiga bekerja, Kiara rasanya sudah separuh gila dan mulai meragukan pilihan hidupnya. Pukul 06.45 pagi. Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika Kiara sudah berdiri di depan gedung kantor, memegang buku catatan di tangannya sambil menguap kecil. "Kehidupan luar biasa sebagai b***k karporat." Ujar Kiara pelan menyeringai layaknya orang gila, meratapi kehidupannya. Kemarin, Kiara pulang hampir pukul sembilan malam dan itu pun setelah Govan akhirnya keluar dari ruangannya. Selain membuat Kiara pulang paling terakhir, Govan juga tidak lupa memberikan wejangan luar biasa untuk sekretarisnya. "Besok jangan terlambat. Kamu sudah harus di kantor sebelum saya." Dan ya... Kiara hanya bisa tersenyum mengiyakan dan melakukan seperti yang pria itu inginkan. Dengan langkah pelan, Kiara masuk ke dalam gedung. Lift masih sepi, koridor masih lengang. Semuanya terasa... terlalu pagi untuk bekerja. Sampai Kiara melihat satu hal. Lampu di ruangan kebesaran Govan itu... menyala. Langkah Kiara melambat, jantungnya langsung terasa tidak enak. Jangan bilang... Pintu bertuliskan Marketing Director itu sedikit terbuka. Kiara menelan ludah susah payah sebelum mendorong pintu itu pelan. Dan di sana... ada dia. Govan Hardana. Pria itu tampak duduk di kursinya, sedang bekerja, seolah-olah memang tidak pernah pulang sebelumnya. Kiara berdiri di ambang pintu, menatap tak percaya sosok di depan sana. "Pak... " panggil Kiara pelan untuk sekedar memastikan itu Govan atau hantu penghuni perusahaan. "Terlambat." Kiara membuang wajahnya, benar Govan ternyata. Tentu bagi Kiara, sosok yang satu ini lebih menyeramkan dari pada hantu penghuni perusahaan. Lalu apa katanya? Terlambat?! Kiara melirik jam di tangannya. 06.48 "... Pak, ini masih—" "Harus berapa kali saya bilang... kalau kamu ingin menjadi sekretaris saya, ikuti ritme kerja saya," potong Govan datar, "datanglah sebelum saya datang." Hening. Kiara menatapnya. Satu detik... dua detik... Gila! "Baik, Pak," jawab Kiara akhirnya dengan senyuman profesional yang dipaksakan. Padahal di dalam hati... aku harus datang jam berapa lagi kalau dia aja udah di sini dari subuh?! Kiara sungguh muak! Sejak kapan mantannya itu jadi orang yang tepat waktu dan gila kerja seperti ini?! Boro-boro tepat waktu, datang menghadiri kelas semasa kuliah saja sudah patut diapresiasi kala itu. Govin... kamu ga sengaja buat balas dendam sama aku kan? ... Hari itu berjalan panjang, sangat panjang. Belum genap satu jam, Kiara sudah menerima tiga revisi jadwal, dua email penting yang harus segera dibalas, dan satu file presentasi yang harus diperbaiki. "Ini diganti." "Ini kurang jelas." "Ini ulang." Kalimat-kalimat itu terus memborbardir Kiara hari ini. Terus berulang, tanpa jeda, tanpa belas kasihan. Kiara mengetik cepat di depan komputernya. Matanya mulai lelah, tapi pekerjaannya belum selesai. "Kiara." Ia langsung menoleh. "Ya, Pak?" "Meeting dimajukan. Sepuluh menit lagi." "Baik, Pak." Belum selesai yang ini... sudah datang yang lain. Apa Kiara mulai menulis surat pengunduran diri saja? Ga Kiara ga! Kita butuh duit! Kerja Kiara! Fokus! Ucapnya dalam hati menyemangati diri sendiri. Sekarang jam menunjukan pukul 12.30 siang. Ini adalah saat yang tepat untuk menyantap ayam teriyaki yang baru saja datang setelah Kiara pesan secara online. Kiara melirik ke arah ruangan Govan. Masih tertutup, sunyi, dan masih aktif. Kiara menggelengkan kepalanya. Govan adalah representasi dari b***k karporat yang sesungguhnya. Ia mulai membuka kemasan makanannya. Menghirup aroma ayam teriyaki yang menggugah selera. Kiara tidak peduli dengan Govan yang masih bekerja. Toh Kiara sudah memesankan salad seperti yang pria itu minta. Dimakan atau tidak, itu jelas bukan urusannya. "Kiara." Baru saja ingin menyendok makanannya. Suara itu... memanggilnya lagi. Kiara menutup matanya sebentar untuk sekedar menenangkan diri. Lalu... perlahan berbalik. "Ya, Pak?" "File yang tadi saya minta, sudah selesai?" Mendengar hal itu kepala Kiara langsung berdenyut lantaran menahan amarah. "... sedang saya kerjakan, Pak." "Percepat." Kiara mengangguk dan tersenyum tipis. "Cepat? Mari kita lihat siapa yang lebih cepat bertemu dengan tuhan!" Ujarnya kesal meninju-ninju angin. ... Sore berganti malam. Lampu kantor satu persatu mulai dimatikan. Orang-orang mulai pulang. Kecuali dua orang. Kiara menatap layar komputernya dengan mata setengah terbuka. Lelah, punggungnya pegal dan kepalanya terasa berat. Jam menunjukkan pukul 19.47. Ia melirik ke arah ruang Govan. Lampu di sana... masih menyala. "Perusahaan ini punya nenek moyangnya atau gimana?" gumam Kiara pelan terheran dengan pengabdian Govan kepada perusahaan. Akhirnya Kiara berdiri. Langkahnya pelan menuju pintu ruangan itu, tak lupa mengetuk pintu. "Masuk." Kiara masuk perlahan, matanya memperhatikan Govan yang masih duduk di sana, fokus bekerja seolah waktu tidak berlaku untuknya. Sejak kapan mantan pacarnya itu menjadi orang yang segigih ini? Dia tampak... seperti orang lain. "Pak," ucap Kiara pelan, "file yang Bapak minta sudah selesai." Govan menerima flashdisk itu tanpa banyak bicara, tak lupa memeriksa isinya sebentar. "Sudah benar." Dua kata itu lagi, Kiara hampir tertawa kala mendengarnya. Atau haruskah ia menangis saja? Kiara sendiri bahkan tidak yakin. Bagaimana ini... Kiara sungguh lelah dan tak punya tenaga jika harus menunggu Govan pulang terlebih dahulu. Kiara bahkan tidak yakin jam berapa pria itu akan pulang. Haruskah ia kumpulkan keberanian untuk bertanya? "Hmmm anu... kalau tidak ada lagi... " ucap Kiara berhenti sejenak. "Saya izin pulang, Pak." Hening. Govan tidak langsung menjawab, matanya masih saja terfokus pada layar. "Besok datang lebih pagi." Kiara terdiam. "... baik, Pak." Ia berbalik, melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, Kiara langsung bersandar di dinding, menghela napas panjang. "Gila... " Matanya menatap kosong ke depan. Jika semua ritme kerja yang gila ini adalah rencana Govin untuk mengusirnya, maka... pria itu salah. Kiara tidak akan kalah. Dia mungkin lelah, tetapi tidak akan mengalah. Kamu yang selingkuh, kamu yang seharusnya malu dan menerima amarahku. ... Sebelum pulang, Kiara pergi ke rooftop gedung perusahaan sebentar. Untuk apa? Tentu saja untuk menjaga kewarasannya tetap utuh. "Kiara... Kiara.. Kiara! Sampai kapan kamu akan memanggilku begitu!" Kiara berteriak sekuat tenaga, melepas semua amarah yang sebelumnya terpendam sempurna. "Perbaiki ini! Ubah ini! Ulang ini! Kamu aja yang kerjain sendiri! Dasar robot ga punya perasaan! Kamu ga capek... tapi aku capek! Ngikutin ritme kerja kamu? Orang gila mana yang bisa melakukan itu!" Kiara menunjuk-nunjuk langit, meninju angin, dan menghentak-hentakkan kakinya kala mengatakan itu semua sembari membayangkan wajah menyebalkan milik Govan ketika menyuruhnya. Dan yang paling membuat Kiara emosi hari ini adalah... "Ayam teriyaki ku! Aku udah memesannya dengan ongkir yang mahal tapi aku gagal menyantapnya!" Teriak Kiara semakin menggila. "Kamu boleh menyuruhku... tapi jangan ganggu waktu makan siangku! Dasar pria psikopat! Mati aja sana! Mati!" Kiara memang begini adanya. Dia tidak begitu lihai dalam memendam emosi. Semuaya harus dikeluarkan demi kesehatan mental sendiri. Sayangnya, yang Kiara tidak ketahui adalah... ada orang lain yang tak sengaja ikut mendengarkan keluh-kesahnya hari ini. "Dia mengamuk seperti sumala." Ucap seorang pria, yang sedari tadi menyaksikan kegilaan Kiara. Kiara... habislah kamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN