“Janjiku tunai, Li, bahwa aku tidak akan meneteskan airmata di rumah itu. Aku sudah membuat banjir air mata di rumah itu. Apa akukejam, Li? Aku tidak jahat kan, Li?”
Nafasku tersengal karena mencoba menahan tangis. Tangan kokohdi sampingku bergerak meraih kepalaku dan menyandarkannya ke pundak.
“Menangislah, jangan ditahan.” Ucapan Lian menjebolpertahanan.
Aku yang semula menahan diri untuk tetap tegar, tiba-tibamerasa sangat lemah. Bahu Lian menjadi tempatku bersandar, bahkan kemaja yangdia kenakan basah oleh air mata.
“Aku sakit, Li. Sakit sekali.”
Lian tidak menjawab. Dia membiarkan aku menumpahkan perasaanyang bercampur aduk.
“Aku gak kuat. Rasanya seperti ini dihianati. Sakit sekali,Li.”
Lian menyambar kotak tisu, lalu meletakkan di pangkuanku.
“Kamu sudah benar, Mala. Tak ada yang akan menyalahkan kamu. Hanya mereka yang tidak berpikir waras yang akan tetap memojokkan kamu." Aku semakin tergugu mendengar ucapannya.
"Tenang saja, kamu gak sendirian. Adaaku, Via, mamamu, keluarga besarmu yang siap membantu. Sudahlah! kamu gak perlu menumpahkan banyak air matauntuk laki-laki yang gak punya hati.”
Ucapan Lian sedikit membuatku lega. Dia melajukan kembalimobilnya.
Hari sudah menginjak petang. Lian mengantarkan aku pulang.Di halaman sudah terparkir mobil mama. Aku menoleh pada Lian, menuntut penjelasan.
“Iya, aku yang bilang. Tante Widya berhak tau masalahmu.Kamu juga butuh teman curhat, bukankah sebaik-baiknya teman curhat adalah keluarga sendiri?”
Usai berucap, Lian turun dan langsung mendekati mama.
Sekarang, aku yangbingung. Mama pasti marah karena aku tidak pernah bicara mengenai keluargaku dan masalah ini.
Aku turun dengan perlahan. Mama tampak sedih, bahkan terlihatmengusap sudut mata. Aku jadi merasa bersalah.
“Mala.”
Mama langsung menghamburmemelukku. Di d**a mama, aku menumpahkansemua rasa. Rasa sakit, tak dianggap hingga bertahun-tahun, dikhianati. Aku seperti anak Aku kecil dalam pelukan mama.
Lama sekali memelukku. Tangisannya membuatku bungkam. Aku tau, mama pun sakit melihatmu seperti ini.
Sejak kecil, aku tidak pernah mendapat perlakuan buruk seperti ini. Sekarang, di hadapannya, putri bungsunya ini sedang berjuang mengarungi nasib buruk itu.
Selama hidup bersama dengan Mas Mirza, aku tidak pernah menceritakan masalah keluargaku pada mama. Ingin mengatakan, bahwa aku butuh sanadaran,tapi terlalu malu untuk berkata jujur. Mas Mirza selalu mencekoki dengan kata-kata manisnya agar dia satu-satunya tempat untuk berkeluh kesah.
Tangisan tanpa suara yang kudengungkan membuat mataku mengabur.Nafas di d**a terasa panas. Perlahan, penglihatan gelap.
Terakhir, aku mendengarmama memanggil-manggil mamaku sambil menepuk pelan pipiku. Setelahnya, aku tak ingatapa-apa.
**
Ketika aku membuka mata dan kesadaranku kembali pulih,sosok pertama yang tampak di depan mata adalah wajah mama.
Aroma minyak angin menguar, membuatku merasa lebih nyaman. Mama masih memijit pilipis, lalu menyodorkan segelasair putih hangat saat kesadaranku kembali penuh.
Rupanya sudah beranjak malam. Entah sudah berapa lama akutak sadarkan diri. Jam di dinding kamar menunjukkan angka sembilan. Sekitar dua jam aku tak sadarkan diri? Benarkah selama itu?
“Zaki,” panggilku perlahan.
“Sudah tidur,” jawab mama. “Kamu istirahat saja, Sayang. Jangan pikirkan apapun. Lian akan membantu menyelesaikan masalahmu."
Aku mengangguk, mungkin akan lebih baik begitu. Jadi, akutak perlu lagi berinteraksi dengan keluarga mas Mirza yang selalu membuatku naikdarah.
Aku hendak bangun, karena samar-samar mendengar suara seseorang.
“Mas Mirza!” kejutku. Mama langsung memegangi tanganku.
“Iya, dia baru saja pulang. Bagaimanapun, dia masih suamimu sebelum kalian bercerai. Tadinya memaksa ingin menemuimu, tapi mama melarang, apalagi kamu belum sadar. Tenang saja, mama gak akan tinggal diam setelah melihat keadaanmu seperti ini. Mirza sedang bicara sama Lian saat ini.”
Aku menghela nafas. Masih terbayang adegan demi adegan kejadiansore tadi di rumah ibu. Kepalaku kembali sakit. Aku terpejam merasai dadaku yang masih ngilu.
“Ada mama di sini. Kamu gak sendirian, Sayang. Bicara kanapa keinginanmu dengan Mirza. Biar dia juga mengerti maumu seperti apa.”
“Aku gak mau bertemu dengannya, Ma.”
“Gak boleh begitu, Sayang. Masalahnya gak akan selesai. Bicara dulu kedepannya mau seperti apa. Lalu, biarkan Lian mengurus semuanya jika memang ada perpisahan. Mama tetap mendukung kamu, tenang saja.”
Suara lembut mama menambah kekuatan. Tenagaku tenagaku terasa terisi kembali.
Pintu kamar terbuka perlahan. Tampak sosok pria yang sangat aku benci berdiri di sana.
Mama berdiri. Aku meraih tangannya agar tidak meninggalkanaku sendiri. Tapi mama melerai kaitan tanganku.
“Selesaikan masalahmu. Mumpung ada Mirza," ucap mama, lalu berjalan keluar.
Mas Mirza menutup pintu kembali setelah mama pergi. Dia mendekat. Membuang pandangan untuk menghindari tatapannya.
“Dek,” panggilan tetap membuatku bergeming. Dia duduk ditepi ranjang, di dekatku.
Beberapa saat mas Mirza hanya terdiam. Aku sakit melihatnya seperti ini. Sejujurnya, cinta ini masih memenuhi isi hati, tapi membayangkan Hesti, ibu juga suara-suara menjijikkan di kamar semalam itu membuatku ingin menghindar secepatnya.
“Mas minta maaf atas semua yang terjadi di rumah ibu tadi.Kamu tau, ibu memang seperti itu dari dulu.”
Aku tetap membuang muka ketika dia menjelaskan. Tak berniat sedikit pun untuk membalas ucapannya.
“Apapun permintaanmu akan mas kabulkan. Tapi tidak bercerai.Mas mencintaimu, Dek dan gak bisa hidup berpisah denganmu.”
Bullshit! Cinta itu bisa menahan nafsu. Dia malah enak-enakan bergumul dengan Hesti hingga tak tau waktu. Itu yang di bilang cinta?
“Dek, Adek boleh menguasai semuanya. Rumah, kartu kredit, ATM mas, biarlah Adek yang pegang.”
Ya ampun, dipegang kalau gak ada isinya ya percuma. Tohselama ini, aku yang mengisi ATM sama kartu kreditnya.
“Aku juga sudah bicara sama ibu kalau tidak lagi meminta ini itu sama kita.”
Terlambat. Setelah semuanya terjadi dan kesabaranku sudah habis, kenapa baru berubah sekarang?
“Dek, bicaralah.”
“Aku ingin cerai.” Aku langsung menjawab. Mas Mirza tampak mendesah panjang.
“Kamu gak kepengen kita seperti dulu,” jawabnya mengingatkan.
“Yang dulu, yang mana, Mas? Mala yang dulu, yang polos itu? Mala yang mudah kalian bodoh-bodohi itu?”
“Dek, bukankah selama ini yang kita lakukan sebagai bentukbakti pada ibu? Ingat, yang Adek lakukan atas dasar suka, bukan paksaan.”
“Aku punya batas kesabaran, Mas. Tak masalah jika ibu berkata ketus padaku. Tetapi saat Hesti ada di sana, dia jelas-jelas membela wanita itu dari pada aku, menantunya yang rela bekerja siang malam demi menyenangkan hatinya.”
Aku bangkit dari posisi tidur, lalu menyibak selimut.
“Mau ke mana, Dek?” Mas Mirza memegangi lenganku, tetapisegera aku tepis. Rasa sakit di kepala yang masih tersisa aku abaikan demi ingin menyelesaikan masalah dengannya.
“Mau ambil surat mobil milikmu.” Aku membuka lemari, lalumengeluarkan amlop lebar dari dalam sana dan menyerahkan pada mas Mirza.
“Rumah ini aku beli dengan uang tabunganku. Mobil milik ibu sudah aku ikhlaskan. Dan mobil yang aku pakai sekarang murni uangku dan bantuan mama."
Aku menjeda, butuh asupan oksigen untuk melonggarkan dadaku yang terasa sesak.
"Sekarang tinggal mobil yang kamu pakai. Itu uang patungan. Tolong segera jual karena akan aku masukkan ke tabungan Zaki.”
“Dek.” Mas Mirza berdiri di depanku. Menatap sepertimengiba.
Aku membuang pandangan, tak ingin terpengaruh dengan sorot matanya. Aku bisa saja luruh, untuk itu aku bergerak menjauh.
Lagi-lagi, lenganku di cekal. Kali ini, mas Mirza merangsek memelukku. Aku berontak, mendorong tubuhnya agar pelukannya terlepas. Namun, keadaanku yang lemah membuatku tak berdaya. Kalah kuat dengannya, akhirnya aku pun pasrah saja.
Aku merasai aroma yang berbeda dari tubuh suamiku. Entah perasaanku saja atau memang karena tubuhnya sudah bercampur dengan Hesti. Sontakaku mendorong dadanya dengan kuat. Mas Mirza sempat mundur. Namun bergerak majulagi.
“Cukup, Mas!” bentakku. “Mau pakai cara apapun, aku gakakan luluh. Penghianatan kamu sudah tak ada kata maaf lagi, itu intinya.”
“Dek, aku harus bagaimana? Haruskah aku meninggalkan Hesti yang lagi hamil tua?”
Aku menatapnya nyalang ketika dia berucap seperti itu.
“Terserah, ya? Bagiku, penghianatan kamu itu harus dibayartunai dengan perceraian. Soal Hesti, aku gak mau tau. Toh, kalian sudah menikmati kebersamaan sekian lama. Masih mau bilang kalau itu karena khilaf? Sekarang, tolong jatuhkan talak atas diriku.”
****