Mas Mirza menggeleng sambil menatapku bak mengiba.
“Aku tidak akan menceraikan kamu!” ucapnya lantang. Ia bergerak pergi, menutup pintu dengan keras.
Ya Allah, ada apa ini? Kenapa berpisah saja harus sesulit ini?
Aku merosot ke lantai. Merasai ribuan jarum yang menusuk bertubi-tubi. Menangis tidak membuat hati menjadi lega. Meraung juga tak akan membuat masalah usai.
Aku menyandar pada dinding lemari, sambil menatap figura foto pernikahan. Dia tersenyum, aku pun begitu. Mendadak d**a seperti ingin meledak karena panas.
Aku menjerit sekuat tenaga. Akhirnya, suaraku melengking memenuhi isi kamar hingga keluar, membuat Mama dan Lian tergopoh-gopoh memasuki kamar.
“Mala.” Mama langsung menyambar tubuhku. Mendekap dan mengusap punggungku.
“Gak apa-apa. Ada mama di sini. Lian akan segera menyelesaikan semuanya. Tenang ya?”
Mama tak tau bahwa aku sebegitu kuat untuk menghadapi mas Mirza, juga ibu. Bukan sebab lemah jika aku menjerit dan menangis. Tetapi aku ingin dunia tau bahwa ada hati yang tersakiti di sini.
**
Dengan kondisi lemah, aku memaksakan diri untuk berangkat ke kantor. Semalam mama menemaniku tidur. Zaki masih berada di bawah asuhan Anya.
Mama sudah melarangku pergi, menyarankan agar beristirahat dulu di rumah, tetapi aku tolak.
Berdiam di rumah hanya akan membuatku semakin tertekan.Apalagi seluruh sudut rumah ini meninggalkan kenangan yang sewaktu-waktu bisa membuat nafasku sesak mendadak.
Langkahku mengarah ke mobil yang masih terparkir di garasi.Baru saja akan memasukinya, sebuah mobil yang sangat aku kenali masuk ke halaman.
Ibu.
Tak berapa lama kemudian, sosoknya tampak menyembul dari balik pintu mobilnya yang terbuka.
Aku menoleh ke belakang, mendapati mama yang berdiri anggun di teras. Mama tak bersaksi apa-apa. Lalu mengalihkan pandangan pada wanita yang sedang berjalan ke arahku.
Mau apa dia?
“Mau ke kantor? Mirza juga baru berangkat bareng ibu tadi?” ujar ibu, lumayan ramah. “Katanya sih, mobilnya kamu sita.”
Baru juga dipuji, sudah keluar aslinya. Aku mendesah kesal.
“Bukan menyita, Bu. Tapi sengaja mau membagi gono-gini.Masuk dulu, Bu.” Aku mengajak ibu masuk dan langsung disambut oleh mama.
Aku berusaha menyimpan ego, begitu pun ibu. Berusaha agar tidak terjadi ketegangan pagi ini. Selain lelah, aku juga malu didengar tetangga.
“Jadi begini, Bu Widya. Semalam Mirza pulang naik taksi. Pasibu tanya, dia bilang mobilnya masuk gono-gini. Tapi saya heran sama Mala ya? Belum cerai kok sudah sibuk jual ini itu. Rumahlah, mobil bahkan yang paling menyakitkan hati kami, Mala mengambil motor milik Melati. Apa gak keterlaluan namanya?” ucap ibu tak ada basa-basi.
Ucapan ketus, raut wajah sinis dan sedikit meledak-ledak,adalah ciri khas ibu ketika berhadapan denganku. Tak terkecuali saat ini. Malah lebih parah lagi sekarang. Mungkin sebentar lagi, makian dan hardikan akan keluar dari mulutnya.
Mama menanggapi aduan ibu dengan tersenyum. Wanita singel parent sejak umurku delapan tahun ini sangat anggun walaupun akun tau, hatinya sangat sakit melihatku mendapat perlakukan seperti ini.
“Tenang, Bu Anggi. Bicaranya pelan-pelan saja. Masih pagiini.” Ibu menenangkan.
Aku yakin, mama juga sama sepertiku, kesal luar biasa. Tapi berusaha mengormati, terlebih tamu kali ini juga mertuaku.
“Sekarang mau ibu bagaimana, Bu? Apakah Mirza menyuruh ibudatang kemari untuk mengambil mobilnya?” tanya ibu dengan lembut.
“Iya, bukan. Mirza gak ada menyuruh seperti itu. Cuma mau meluruskan kalau Mala jangan sampai semena-mena. Keterlaluan kan kalau motor Melati dan mobilnya Mirza ikut di embat juga. Apalagi ... rumah ini sudah lakukatanya.”
Aduh, aku mulai kehilangan kesabaran. Tiba-tiba mama menyambar tanganku, sepertinya mama memergoki kegelisahanku yang ingin membatah tuduhan ibu. Dengan isyarat mata, mama berhasil memenangkan.
“Bu Anggi, jadi begini. Mala memang sudah berniat berpisah dengan Mirza. Soal harta gono-gini, itu biarkan mereka yang menyelesaikan. Kan mereka yang tau seluk beluknya. Kita memantau saja, Bu.” Ucapan mama sangat lembut, tentu saja belum berhasil menyentil ibu.
“Itu ... maksudnya, apa-apa yang sudah Mala ambil, kok tega berbuat begitu.” Ibu masih juga berusaha memojokkan aku. Terpaksa aku harus angkat bicara. Kalau Cuma mengandalkan mama yang lembut begitu, ibu tidak akan tersentil.
“Ibu, benar kata mama. Urusan harta biar menjadi urusan aku denganmas Mirza. Lagipula, motor milik Melati kan memang aku yang membeli. Mobil mas Mirza patungan uang kami, jadi wajar kalau kami bagi. Sementara rumah ini, gak ada serupiahpun uang mas Mirza. Jadi di mana letak ketidakadilannya? Mobil ibu sudah aku ikhlaskan lho, Bu.”
Ibu mengeryit. Dari caranya menatapku, sepertinya ibu berkeberatan.
“Gak bisa, dong. Rumah ini kan kalian beli pas kalian masih bersama.Jadi Mirza juga berhak atas sebagian hartanya.”
“Ibu bagaimana, sih! Bisa itung-itungan kan?” Aku meradang. Mama mengelus lenganku.
“Sabar,” bisiknya mengingatkan.
“Gak bisa, dong Ma. Ibu sudah lama memperalat aku sebagai mesinpencetak uang, gak Cuma sehari atau dua hari, tapi bertahun-tahun. Dan bodohnya aku hanya menurut saja. Setelah mas Mirza menghianati aku, enak-enaknya kalian mau minta gono-gini dari hasil keringatku sendiri.”
“Jaga ucapanmu. Jadi begini cara Bu Widya mengajari anaknya.”
“Bu, jangan bawa-bawa mama. Masalah kita murni kesalahan mas Mirza dan ketidakadilan ibu. Kenapa gak minta bantuan sama menantu ibu yang palingcantik itu. Hesti, dia kan bisa menggantikan aku untuk jadi mesin pencetak uang.”
“Mala, istighfar, Nak,” Mama mengelus punggungku.
“Tuh, mamanya saja sampai nyuruh beristigfar. Parah memang.”
“Bu, Ibu datang kemari bukannya cari solusi, tapi malah semakin memperkeruh keadaan. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membagi uang hasil keringatkukepada mas Mirza atau pada Ibu. Sudah banyak uang yang aku hambur-hamburkan untuk Ibu, tetapi tetap saja gak pernah dianggap.Malah ujung-ujungnya, Ibu mengizinkan mas Mirza selingkuh di belakangku.”
“Itu haknya Mirza mau poligami. “
“Sudahlah. Ibu tunggu saja di rumah. Aku akan secepatnya mengirim uang hasil jual mobil.”
Aku beranjak meraih tas, lalu berpamitan.
“Maaf, Bu. Mala harus berangkat ke kantor. Sudah telat soalnya.”
“Eh, ibu belum selesai, ya? Gak sopan sama orang tua.”
Mendengar ucapan ibu, mama bergerak menyambung. “Sama saya jugabisa, Bu. Kita bisa ngobrol sambil sarapan. Kebetulan Zaki ada di belakang, lagi sarapan juga.”
Aku meninggalkan ibu dan mama. Tak berniat menanggapi lagi perkataan ibu yang tidak akan ada ujungnya jika belum mendapatkan apa yang diinginkannya.
Meninggalkan ibu adalah jalan satu-satunya karena diajak bermusyawarah pun tak akan menemukan jalan keluar.
Aku ke kantor dengan tergesa-gesa. Ponsel di dalam tas tak berhenti berdering. Pasti Lian yang menelepon. Aku mengacuhkannya karena harusfokus mengendarai mobil. Diangkat pun, Lian hanya akan mengomel.
Lelaki itu sedikit sensitif dan kurang sabaran jika ada teman atau karyawan yang tidak disiplin. Untung aku saudaranya, sehingga sudah mengerti sifatku. Aku tak pernah menggubrismeski Lian mengomel nantinya.
Benar saja. Di depan lobi pria itu tampak mondar-mandir. Dia langsung menyambut kedatanganku dengan sorot kekesalan.
“Gak usah merepet. Aku baru saja kedatangan tamu yang bikin jengkel. Mau tau siapa orangnya.” Aku langsung memberikan sebuah map yang kubawa dari rumah.
“Siapa?” tanyanya sambil menjajari langkahku.
“Ibu,” jawabku singkat.
“Dan kamu rela menanggapi ocehannya, begitu?”
“Ck, gak sopan juga aku tinggalkan. Lagian, ini tadi terpaksa aku tinggal pergi. Untung ada mama yang menemaninya.”
“Gak sebanding kalau lawannya tante Widya. Mana bisa marah.Cuma kamu yang bisa mengimbangi mertuamu itu. Cocok, sih.”
“Apaan, sih! Mau bilang kalau aku cerewet?”
“Nah, itu ngaku sendiri.”
“Ck, dasar.” Aku dan Lian beriringan memasuki lift.
Untuk beberapa saat, kami sama-sama terdiam. Kurasakan dia melirikku, lalu aku menoleh padanya. Lian pura-pura membenahi letak dasinya yang sudah sinkron.
Aneh.
“Uang yang kamu minta sudah ada,” ucapnya tiba-tiba sambil melangkah keluar lift.
“Bawakan dulu, sekalian antarkan aku ke rumah ibu nanti siang,” balasku.
“Apa kamu gak bisa minta tolong tapi ngomong dulu?” protesnya.Aku mengernyit tapi tak ambil peduli dengan ucapannya.
“Lah, ini lagi ngomong.”
“Hais, maksudku ngomong dulu sebelumnya. Bagaimana seandainya jika aku sudah janjian sama pacarku.”
“Halah, kamu kan jomlo,” jawabku singkat. Aku meninggalkan Lian lebih dulu untuk masuk ke ruanganku.
“Hei, mau ke mana?” Aku menoleh dengan sorot tanda tanya. “Kita sudah ditunggu di ruangan pak Adam, Non.”
Lian melambai sembari melangkah ke ruangan atasan kami. Aku punmenyusul.
**
Siangnya, Lian sudah menungguku di parkiran. Seperti rencana pagi tadi, dia akan mengantarkan aku ke rumah ibu.
“Ini uangnya.” Lian menyodorkan amlop berwarna coklat saat sedang mengendarai mobilnya. Aku tidak segera mengambil. “Kenapa, Non?” tanyanya. Jelas dia bingung.
“Keterlaluan gak sih, Li. Mobilnya juga belum laku, masa kita sudah memberikan uang sama mas Mirza. Dia juga belum menjatuhkan talak padaku. Artinya, aku masih sah menjadi istrinya.” Ucapanku membuat Lian menarik kembali tangannya. Dia terfokus kembali mengendarai mobil.
“Maunya kamu gimana? Mirza tidak akan melepas kamu, aku yakinitu. Entah selain alasan cinta dan adanya Zaki di antara kalian, dia juga bakalan rugi banget melepas penghasil uang baginya. Kan selama ini, keluarganya menggantungkan hidup sama kamu.”
Aku menekan saliva dengan susah payah.
“Aku durhaka ya, Li? Memaksa mas Mirza menjatuhkan talak. Terus kalau dia tetap gak mau pisah gimana, Li?”
Lian menginjak rem, agak sedikit memaksa karena aku hampir terantuk. Aku menatap keluar, lampu merah menyala di sana.
“Hidup itu pilihan. Terserah kamu mau seperti apa? Yang jelas, jadi wanita jangan bodoh, kecuali seumur hidupmu mau dijadikan kacung sama keluarganya.”
Benar ucapan Lian. Kenapa aku merasa lemah saat ini. Kenapa tidak setegar kemarin?
“Ada banyak kemungkinan baik menunggu di luar sana. Mungkin salah satunya sebenar-benarnya jodoh kamu?”
Aku mengernyit mendengar ucapan Lian. Kok kedengarannya aneh, ya?
Next