“Hidup itu pilihan. Terserah kamumau seperti apa? Yang jelas, jadi wanita jangan bodoh, kecuali seumur hidupmu mau dijadikan kacung sama keluarganya.” Benar ucapan Lian. Kenapa aku merasa lemah saat ini. Kenapa tidak setegar kemarin? “Ada banyak kemungkinan baik menunggu di luar sana. Mungkin salah satunya sebenar-benarnya jodoh kamu?” Aku mengernyit mendengar ucapannya. Kok kedengarannya aneh, ya? “Kenapa bengong begitu?” “Hah, ng-nggak!” Aku jadi tergagap mendengar ucapannya. Lian melanjutkan perjalanan. Tak ada percakapan yang berarti selama dia menjadi pengemudi. Lian hanya diam. Sementara aku sibuk menyiapkan kata-kata yang tepat untuk menghadapi ibu atau mas Mirza nanti. “Sampai. Aku tunggu di sini.” Lian meletakkan amlop tadi ke pangkuanku. Tangannya berpindah ke kepalaku, la

