Cahaya siang meredup, mendung mulai menguasai langit ketika seorang wanita sedang duduk di depan jendela, menatap kosong ke arah pohon-pohon dan bunga-bunga di luar.
Sebulan sudah ia mengalami rasa kehilangan. Waktu memang benar-benar cepat berlalu. Seperti baru kemarin ia mengelus perut, membacakan Alquran, hingga mendengarkan kajian untuk mempersiapkan spiritual sang bayi.
Sebulan juga Linza hanya termenung di kamar. Wajahnya masih seperti sebulan yang lalu. Bibir dan wajahnya pucat pasi. Akhir-akhir ini kondisi Linza sangat memprihatinkan. Jatuh bangun dalam keterpurukan, merasakan kehilangan, hingga penyakit datang bertubi-tubi menyerangnya.
Kegiatan yang dilakukan pun hanya salat, bersuci, kemudian kembali menatap kosong hamparan bunga di luar rumah. Selebihnya, tidak ada kegiatan. Bahkan makan pun ia tak peduli. Entahlah, kejadian itu belum mampu terusir dari otak.
Pintu dibuka, Haris menyembul dari baliknya dengan membawa nampan berisi bubur, air putih, dan obat.
"Sayang, ayo makan dulu," kata Haris sembari mengelus jilbab hitam Linza.
Linza belum saja beranjak dari tempat. Kelopaknya masih asyik menatap cakrawala yang kian meredup akibat mendung.
Aku harus terlihat baik-baik di depannya.
"Bagaimana perceraianmu?" tanya Linza, masih belum beranjak dari pandangannya.
"Tinggal beberapa hal lagi yang perlu kuurus. Tidak akan lama." Haris membenahkan jasnya.
Sebulan terakhir, Haris sibuk mengurusi perceraiannya dengan Aisyah. Biasanya setelah pulang dari pengadilan, ia langsung menemani Linza.
"Maafkan aku. Karena hal ini membuatku kurang perhatian kepadamu." Linza menatap ke arah Haris yang dibelakanginya.
"Tidak akan. Aku percaya kepadamu." Linza tersenyum, Haris ikut tersenyum.
"Dan maafkan aku, karena telah melibatkanmu pada masalah ini." Linza menggeleng, memegang kepada Haris dengan lembut.
"Masalahmu, masalahku juga. Dengan bersama-sama, kuharap kita bisa berbagi solusi."
Angin berembus, menyeruak dan menyibak kefatamorganaan di siang hari. Matahari mulai meredup, kalah oleh awan hitam yang menggantung di langit.
"Minumlah obat, kemudian tidur," kata Haris sembari memeluk Linza dari belakang.
"Aku benar-benar tidak bisa melihatmu seperti ini." Haris cemberut, ikut menatap ke depan. Linza berbalik badan.
"Lihatlah .... Aku sudah baikan, kok." Wajah Linza berada di dekat Haris. Embusan napasnya yang teratur dapat dirasakan Linza. Kapan terakhir kali seperti ini?
"Jangan berbohong."
Linza menaikkan satu alisnya, menatap heran Haris. "Berbohong apa?"
Benarkah kamu baik-baik saja? Bukankah kamu belum bisa melupakannya? Bukankah itu yang membuatmu akhir-akhir ini tidak sehat?
Haris berdahem sejenak, kemudian kembali mendekatkan dirinya di wajah Linza. d**a Linza kembali berdegup kencang, ia mampu merasakan embusan napas yang teratur dari Haris. Memejamkan mata, sembari memegang erat-erat roknya.
Dua detik telah berlalu, hanya elusan di jilbab yang dapat dirasakannya. Ia mendengkus. Merasa kembali tertipu.
"Aku akan mengajakmu jalan-jalan."
Mata Linza berbinar, menatap Haris penuh minat. Ide yang bagus. Mungkin bisa digunakan sebagai perantara untuk melupakan kejadian sebulan yang lalu.
Linza mengangguk, tersenyum, kemudian mengecup singkat pipi Haris.
Dengan cekatan ia pergi menuju lemari, meninggalkan Haris yang masih melongo. Hei, barusan tadi kejutan apa? Rasa-rasanya ia baru saja mengalami de javu. Sejak kapan wanita itu berani menciumnya?
Ia menggelengkan kepala, kemudian berbalik badan, keluar menuju garasi, menyiapkan mobil.
Semoga saja bisa membuatkanmu melupakannya. Semoga saja.
***
"Aw!" Linza memekik, kemudian memeluk Haris erat-erat saat melihat seekor singa yang sedang menatapnya tajam. Jantungnya berdetak cepat. Bagaimana jika singa itu keluar dari sarang dan menerkam mereka? Melihat singa itu mengoyak ayam tadi sudah cukup membuatnya berdidik ngeri.
Haris tersenyum melihat tingkah lucu Linza. Membelai jilbab cokelat itu penuh sayang. "Sudah, tidak ada apa-apa. Aku di sini, di sampingmu. Nanti jika terjadi sesuatu, aku akan melindungimu."
Pipi Linza merah merona. Untung saja ia masih ada di pelukan Haris. Tidak akan ada orang yang akan tahu jika wajahnya sedang memerah.
Ia mendongak, menatap Haris. Tersenyum menggoda. Sangat disayangkan, Haris bukanlah lelaki seperti dulu yang cuek dan dingin. Kini hatinya telah luluh oleh wanita yang kini sedang berhadapan dengannya.
"Mau lihat apa lagi?" Haris menatap Linza, yang sedang membenahkan jilbab cokelatnya. Jilbab itu berkibar pelan, mengikuti arus semilir angin yang hadir.
"Jalan saja dulu." Linza berjalan meninggalkan Haris. Detik berikutnya, ia menatap ke belakang, tersenyum ke arah Haris.
Saat itu, jantung Haris kembali berdegup. Getaran-getaran itu telah menambah rasa cinta kepada wanita itu. Semburat senyum itu mampu mengalahkan teriknya mentari. Mampu meluluhkan hati nan dingin Haris.
Di sepanjang perjalanan, hanya ada Linza yang antusias menatap hewan-hewan di sekitar. Sesekali menunjuk sembari tersenyum, kemudian menatap Haris untuk berbagi rasa cintanya.
"Gajahnya besar, ya?" tanya Linza. Matanya menatap gajah yang sedang duduk-duduk di dekat pohon.
"Kalau kecil namanya semut, dong." Haris berujar, diikuti kekehan kecil dari Linza.
Sejenak wanita itu melupakan beban pikiran. Gembira Loka pada siang-siang seperti ini masih saja ramai. Pelancong-pelancong dari berbagai negara singgah ke sini.
Setelah berpuas-puas keliling Gembira Loka, akhirnya Haris mengajak pulang. Ia merengek, mengerucutkan bibirnya saat ia melihat Linza yang masih ingin melihat-lihat.
"Mau pulang ...," lirih Haris. Ia memasang wajah termanis kepada Linza. Linza cuek bebek, tidak peduli dengan wajah Haris. Mau tampanlah, mau imutlah, mau manislah, terserah, batinnya.
Napas Haris terengah saat mencoba menyejajarkan langkah dengan Linza. Tangan Haris menggapai tangan Linza.
Dada Linza berdesir. Sudah banyak ki ia pacaran dengan lawan jenis tetapi itu cukup mampu meluluhlantahkan sejagad hatinya. Inikah pacaran setelah nikah? Bukankah ini begitu asyik? Ia tersenyum sembari menatap kilatan mata Haris. Benar-benar beruntung ia mendapatkan suami seperti Haris. Semoga saja, setelah ini, tidak akan ada sesuatu lagi yang memisahkan mereka berdua.
Haris menatap Linza yang sedang sibuk memberi makan kijang. Ia terkekeh pelan. Wanita manis sedang memberikan makanan kepada kijang jantan dengan penuh kasih sayang. Linza tersenyum, pertanda jika ia bahagia.
"Ris?" sapa seseorang yang di belakanginya. Sontak mereka berdua menengok ke arah belakang, mendapati Rizal yang sedang memerhatikan mereka.
"Masya Allah, Zal! Sudah lama kita tidak bertemu," kata Haris sembari menjabat tangan milik Rizal. Rizal tersenyum, membalas.
"Kaifa khaluk?"
"Ana bi khoiri, wal khamdulillah. Wa anta, Ris?"
"Alhamdulillah ...," kata Haris sembari menepuk kecil pundak Rizal. Linza ikut tersenyum, walaupun dalam hati bertanya-tanya, apa yang dikatakan mereka?
Mereka duduk di rest area. Menatap air yang meluncur jatuh ke permukaan bumi. Sejak tadi memang sudah mendung, tetapi tak menyulutkan semangat Linza untuk melihat-lihat hewan di Gembira Loka.
Angin sore berembus, beberapa rintikan air ikut terbawa arus. Suara hujan mengisi gendang telinga mereka.
"Wah senangnya berlibur berdua." Rizal mengeratkan jaketnya, udara yang menyelimuti mereka dingin.
Haris mencopot jaketnya, memakaikannya pada Linza. Linza menggigil kedinginan.
"Kalian masih saja seperti dulu. Aku seperti nonton drama korea jika di dekat kalian, Ris." Mereka terkekeh. Linza ikut terkekeh.
"Doakan aku, Ris. Sebentar lagi aku akan meresmian pembukaan restoran di dekat Bukit Bintang."
Pembicaraan mereka terus berlanjut, hingga senja datang. Seperti biasa, kawan lama ketika lama tak bersua. Hanya ada satu yang kurang, Zul. Beberapa dua bulan yang lalu, Zul mengabari Haris jika ia telah kembali ke Ottawa.
Setelah Magrib, mereka berpisah.
"Kita mau pulang, ya?" tanya Linza cemberut. Haris menggeleng, menggandeng tangan Linza, lalu menggiring menuju mobil.
Mobil itu mendesing pelan. Semenit lengang.
"Kita akan ke mana?"
"Suatu tempat." Haris tersenyum, mengelus jilbab Linza penuh sayang. Jalanan di Yogyakarta bergitu indah, lampu-lampu dipasang di sepanjang trotoar. Puluhan mobil saling berpapasan, membunyikan klakson.
Setelah tiga puluh menit melaju, akhirnya mobil itu berhenti di parkiran sebuah kawasan wisata.
Mereka masuk, melihat dari jauh kerlipan kota Yogyakarta dari atas. Lampu-lampu yang mirip seperti bintang. Membentang luas seperti sedang berada di awan.
"Aku mencintaimu, Za."
"Aku juga mencintaimu, Ris," kata Linza sembari menyenderkan kepala ke bahu Haris. Tangan kanan Linza terpaut dengan tangan kiri Haris.
Linza berharap, semoga tidak ada lagi kejadian yang membuat mereka terpisah. Semoga.
Malam itu cinta mereka bertambah. Merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Cinta berlandaskan Allah SWT..
Terlebih Haris, baru kini ia merasakan pacaran. Minum es sembari menatap lincah kuda, melihat kerlipan kejora di bukit bintang, hingga bergandengan tangan menatapnya di malam hari.
Satu jam telah berlalu.
"Sudah selesai, salatnya?" Linza megangguk, melipat mukena.
"Kita pulang, ya. Aku takut kemalaman." Linza awalnya cemberut, tapi pada akhirnya, suaminya memang benar. Mereka jarang pergi hingga pulang semalam ini. Pun pasti orang-orang yang ada di rumah mencemaskan mereka.
Linza mengangguk, mengikuti suaminya, masuk ke mobil.
Selama di mobil, lima menit telah berlalu. Mobil mereka sudah berada di jalan.
"Terima kasih, Ris." Haris mengangguk. Mata mereka kembali menatap lampu-lampu di jalan.
Tiba-tiba, suara tembakan pistol yang melesat membuat jantung mereka berdegup kencang. Pistol itu kembali dibunyikan saat Haris menambah laju mobilnya. Sepertinya, pistol itu pesan agar mereka berhenti.
Lima detik berikutnya, sebuah mobil pick up menghalangi jalan mereka.
Degupan jantung mereka semakin menjadi saat melihat derap langkah seseorang yang semakin mendekati mereka.
Linza memegang baju Haris kuat-kuat, meringkuk di pelukan Haris.
Atmosfer di sekitar mereka menengangkan.
Haris mengelus jilbab Linza kesekian kalinya. Mencoba menenangkan wanita itu, walaupun kenyataannya, jantungnya juga ikut berdebar.
Siapa mereka?
Lampu mobil pick up itu dinyalakan.
Derap langkah kaki itu semakin dekat dan semakin banyak.
"Haris, keluarlah!" perintah seseorang dengan nada marah.
Linza kembali meringkuk, Haris mengeratkan pelukan dengan Linza.
"Ris .... Jangan pergi. Di sini saja ...," kata Linza sembari mengeratkan pelukan mereka.
"Cepat keluarlah!" perintah orang itu kembali, kali ini terdengar suara tembakan pistol yang terlepas.
Dor!